Inspeksi mendadak (sidak) dilakukan Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim dan Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) Paser ke sejumlah pabrik pengolahan kelapa sawit. Ditemukan beberapa catatan.
HASIL sidak itu disampaikan kepala Disbunak Paser Djoko Bawono. Mulai penimbunan buah di tangki pengolahan pabrik, tangki yang bocor dan butuh perbaikan, sampai penerimaan tandan buah sawit (TBS) milik petani swadaya yang kapasitasnya dengan mobil kecil.
Djoko menyebutkan ada tujuh pabrik yang telah disidak, dengan sejumlah catatan. Hal itu terus dipantau oleh dinas agar menjadi perbaikan oleh pabrik. “Sidak ini menindaklanjuti hasil rapat terakhir bersama asosiasi petani sawit,” kata Djoko, Selasa (24/5).
Pabrik yang telah disidak ialah PT CBSS, PT Pradiksi, PT M3A, PT Pucuk Jaya, dan PT Saraswanti sebelum pengumuman keran ekspor dibuka pada 16 Mei. Sementara hari ini ada PT BWS dan PT AAMU yang disidak.
Djoko mengatakan pemerintah ingin memastikan bahwa harga pembelian TBS telah diserap dan dibeli sesuai dengan harga penetapan pemerintah. Diakuinya, harga TBS di pabrik di luar dari yang bermitra dengan pekebun masih di bawah ketetapan pemerintah atau di bawah Rp 3.000 dan ini sesuai dengan Permentan 01 Tahun 2018.
Apabila pergerakan kenaikan harga TBS dalam tiga sampai lima hari ke depan masih lambat, maka akan dilaksanakan percepatan agar harga mendekati standar. “Kita lihat saja perkembangannya, tidak bisa cepat. Karena turunnya sangat drastis, otomatis naiknya pelan-pelan,” kata lanjutnya.
Terkait kemungkinan harga TBS mencapai Rp 4.000 per kilogram, Djoko memastikan hal itu bisa saja terjadi karena melihat pergerakan harga crude palm oil (CPO) terus mengalami kenaikan berdasarkan permintaan pasar dunia. (**)
Editor : izak-Indra Zakaria