Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Tetangga Penyebab Gagal Masuk Surga

izak-Indra Zakaria • Sabtu, 18 Juni 2022 | 12:02 WIB
Photo
Photo

Bambang Iswanto

CEKCOK antar tetangga di Samarinda ramai diberitakan beberapa waktu lalu. Berita baiknya, kedua pihak bertetangga tersebut dikabarkan sudah berdamai setelah dimediasi kepolisian. Sebenarnya tidak sedikit kasus cekcok antar tetangga yang jauh lebih dahsyat dibanding yang sedang viral di Samarinda, bahkan berujung pada perkelahian dan berakhir di meja hijau. Kasus tersebut viral karena terekam melalui CCTV dan disebarkan melalui saluran media sosial.

Hubungan harmonis kepada tetangga harusnya tetap dipelihara. Tetangga adalah orang terdekat yang hidup dalam lingkungan masyarakat. Bahkan lebih dekat dari keluarga sendiri. Orang yang paling tahu kondisi dan mengerti kondisi seseorang bukanlah keluarga, namun tetangga. Tetangga pulalah yang sering menjadi orang pertama menjadi penolong ketika seseorang ditimpa kesusahan atau musibah sebelum keluarganya sendiri yang memberikan pertolongan. Karena itu, Islam mengajarkan kepada umatnya untuk memuliakan tetangga.

Ajaran tentang memuliakan tetangga bahkan secara eksplisit disampaikan dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa’ Ayat 36 yang terjemahannya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang memiliki hubungan kerabat dan tetangga yang bukan kerabat, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri".

Banyak hadis yang menegaskan tentang kewajiban berbuat baik dan memuliakan tetangga. Di antaranya hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya". Hadis di atas menempatkan akhlak baik terhadap tetangga sebagai indikator keimanan. Ada korelasi antara perlakuan kepada tetangga dengan kadar keimanan seseorang. Bisa dikatakan bahwa semakin tinggi keimanan seseorang, semakin baik juga akhlaknya kepada tetangga. Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, disebutkan bahwa Rasulullah pernah dinasihati Malaikat Jibril untuk memperlakukan tetangga dengan baik.

Nasihat ini diwujudkan Rasulullah dalam tindakan nyata. Sebagaimana banyak kisah atau riwayat yang menceritakan tentang akhlak Rasulullah kepada tetangga. Rasulullah senantiasa tersenyum kepada siapa pun yang ditemuinya, terutama kepada tetangga-tetangganya. Saking banyaknya Rasulullah tersenyum, Abdullah bin Harits bahkan memberi kesaksian bahwa dia tidak pernah melihat orang lain yang banyak senyum sebanyak senyum Rasulullah kepada orang lain termasuk tetangganya.

Orang lain yang pertama kali ditemui ketika keluar rumah tidak lain adalah tetangga. Rekahan senyum merupakan hadiah yang indah untuk tetangga sebagai bukti kesenangan seseorang bertetangga satu sama lain. Sebaliknya wajah cemberut bisa jadi dianggap sebuah sinyalemen menganggap tetangganya tidak beriktikad baik membangun hubungan. Salah satu teladan Rasulullah kepada tetangga adalah memberi hadiah. Rasulullah sering menyuruh Aisyah memberikan hadiah. Ketika ditanyakan kepada siapa hadiah tersebut diberikan, Rasulullah menjawab kepada tetangga. Saling memberi dan menerima hadiah kepada tetangga akan melahirkan rasa hormat dan sayang kepada tetangga dan menghilangkan rasa tidak suka.

Selain memberi hadiah, Rasulullah juga menganjurkan untuk sering berbagi makanan kepada tetangga. Beliau pernah memberikan tips agar bisa selalu berbagi kepada tetangga, yaitu dengan memperbanyak air dalam kaldu, sehingga banyak yang bisa kebagian. Salah satu etika yang diterapkan ketika memasak makanan, apalagi tetangga mencium aroma masakan, hendaklah berbagi. Jangan dibiarkan tetangga hanya mencium aromanya dan membayangkan kelezatan tanpa merasakan memakannya. Urusan makanan ini juga terhubung dengan nilai keimanan seseorang.

Rasulullah pernah menyebutkan bahwa bukanlah seorang mukmin bila membiarkan tetangganya lapar sementara dirinya kenyang. Terkait upaya menjaga hubungan baik dengan tetangga, hal yang harus diperhatikan adalah selalu berucap baik dan bersikap ramah. Jangan sampai ada ucapan atau tindakan yang dapat menyakiti atau menganiaya tetangga, karena hal tersebut dapat menjadi penyebab seseorang terhalang masuk surga. “Tidak masuk surga orang yang tetangganya tidak aman dari perbuatannya yang zalim”. Demikian bunyi sebuah hadis yang mengingatkan untuk menghindari akhlak buruk terhadap tetangga.

Hadis di atas berkorelasi dengan hadis lainnya tentang manusia yang bangkrut di hari kiamat kelak.  Bukan karena tidak memiliki amal baik. Bisa jadi amal baiknya banyak, salatnya bagus, wajib dan sunah didirikan, demikian pula puasa, jangankan yang wajib, yang sunah pun rutin dilaksanakan, dan sederet amaliah lain juga tidak kalah banyaknya. Namun sayangnya, perbuatan-perbuatan baik tersebut diiringi dengan perbuatan zalim kepada orang lain.  Orang yang dizalimi mendapatkan limpahan pahala dari orang yang menzalimi, sehingga habis pahala dari amalnya karena dikonversi menjadi pahala untuk menebus dosa kezaliman orang yang dizalimi.

Ketika sudah tidak bisa menambal kezalimannya dengan pahala amal perbuatannya, maka pahalanya defisit berganti tersisa dosa. Inilah salah satu sebab Allah tidak meridainya masuk surga dan melemparnya ke neraka. Mari kita berupaya semaksimal mungkin meneladani akhlak Rasul kepada tetangganya. Insyaallah kehidupan di dunia menjadi damai dan kebaikan terhadap tetangga merupakan investasi pahala sebagai pemberat timbangan amal di akhirat nanti. Amin. (riz/k16)

Editor : izak-Indra Zakaria