Oleh Bambang Iswanto
SALAH satu nikmat terbesar dalam hidup manusia adalah nikmat kemerdekaan. Sebuah ungkapan dalam bahasa Arab berbunyi, “nikmat terbesar setelah nikmat iman kepada Allah adalah nikmat aman.” Nikmat ini sering tidak dirasakan dan disyukuri karena merasa nikmat itu sudah menjadi kebiasaan. Seperti kenikmatan lain yang baru terasa jika sudah merasakan nikmat itu tidak ada. Nikmat sehat misalnya. Baru dirasa setelah merasa sakit. Karena nikmat sehat menempel dalam sering dirasakan dibandingkan dengan sakit. Untuk nikmat kemerdekaan, tidak perlu dijajah lagi untuk mengingat kembali rasa syukur.
Cukup dengan melihat negara-negara lain yang masih bergelut dengan kedaulatan negaranya, seperti Palestina. Suasana perang masih sering menghantui, bunyi desing peluru dan dentuman ledakan masih sering terdengar, dan bayangan ketakutan masih selalu menghampiri. Demikian pula membayangkan negara-negara masih dilanda perang, terasa suram, menakutkan, dan menderita. Harga kemerdekaan sangat mahal bahkan tak ternilai. Bangsa yang ingin merdeka rakyatnya rela mengorbankan tenaga, harta, bahkan jiwa. Itulah sebabnya mengapa Indonesia harus bersyukur karena sudah merdeka, lepas dari cengkeraman penjajahan selama ratusan tahun.
Sudah 77 tahun Indonesia merdeka. Generasi sekarang tidak perlu mengangkat senjata dan berkorban untuk mengusir penjajah. Cukup dengan mengisi kemerdekaan dengan cara mensyukurinya. Instansi-instansi dan lembaga pemerintahan dan non-pemerintahan melakukan upacara untuk memperingati dan mensyukuri kemerdekaan. Masyarakat umum melakukan beragam cara mewujudkan syukur kemerdekaan. Perlombaan-perlombaan meriah dilaksanakan dalam rangka memperingati kemerdekaan. Ada lomba makan kerupuk, lomba balap karung, membawa kelereng dalam sendok, memasukkan paku bertali ke dalam botol, panjat pinang, dan lain-lain. Banyak yang berjalan wajar, namun disayangkan masih banyak pula yang memperingati dengan cara-cara berlebihan dan menabrak aturan agama.
Terkait dengan mensyukuri nikmat kemerdekaan, ada 3 bentuk. Pertama, dengan hati. Yaitu dengan meyakini sepenuh hati bahwa kemerdekaan merupakan karunia dari Allah. Perjuangan merupakan ikhtiar dan wasilah perantara untuk menerima nikmat tersebut. Sangat tepat rumusan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang dalam salah satu bagiannya menyebut bahwa kemerdekaan adalah atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa. Para pahlawan berjuang meraih kemerdekaan, dan Allah memberikan kemenangan untuk perjuangan tersebut. Kedua, dengan lisan atau ucapan. Dengan melafalkan ucapan hamdalah “alhamdulillah”. Ini cara yang paling ringan, hanya menggerakkan lidah kata tersebut sambil meresapi maknanya. Bukan hanya untuk nikmat kemerdekaan. Lafal ini hendaknya diucapkan setiap mengingat dan merasakan kenikmatan.
Ketiga, dengan anggota badan. Mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif atau amal perbuatan baik yang mengundang rahmat Allah dan mendatangkan nikmat-nikmat lain dalam bangsa Indonesia. Ketika Rasulullah dan para sahabat berhasil memerdekakan diri dari ketertindasan kaum musyrik dan menaklukkan Makkah, Allah menurunkan Surah Al-Nashr yang terjemahannya, “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.”
Ayat di atas dapat dijadikan pedoman bagaimana cara bersyukur setelah mendapatkan kemerdekaan. Yaitu dengan bertasbih memuji Allah dan banyak beristigfar memohon ampun kepada Allah. Perbuatan kedua perbuatan tersebut akan selalu menyadarkan manusia untuk selalu mengingat kebesaran Allah dan pemberian nikmatnya sehingga selalu terus bersyukur. Ayat tersebut sekaligus pengingat untuk tidak mengisi kemerdekaan dengan foya-foya. Apalagi melakukan perbuatan maksiat. Jangan sampai nikmat dan anugrah kemerdekaan berubah menjadi bencana karena perbuatan tersebut.
Seperti yang dialami oleh kaum Mudhor sebagaimana diberitakan Allah dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl Ayat 112, “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)-nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” Awalnya mereka diberikan kemerdekaan, keamanan dan ketenteraman serta kesejahteraan. Akan tetapi, mereka lupa dan mengingkari nikmat-nikmat Allah tersebut. Allah balik keadaan menjadi negeri yang diliputi kelaparan dan ketakutan. Nau’zdubillah min dzalik.
Semoga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang warganya pandai bersyukur agar selalu diberi rahmat dan tetap menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Amin. (riz/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria