Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Alam Lestari, Masyarakat Mandiri, Industri Migas Bernilai

rahman-Rahman Hakim • Jumat, 30 September 2022 - 06:13 WIB
PT PHM UNTUK KALTIM POST POHON UNTUK MASA DEPAN: Penanaman pohon yang dilakukan KTH Alas Taka di Desa Suweto, Kecamatan Muara Samu, Paser, turut mendapat pendampingan dari PT PHM dan KPHP Kendilo. Konservasi DAS Kendilo turut melibatkan partisipasi peremp
PT PHM UNTUK KALTIM POST POHON UNTUK MASA DEPAN: Penanaman pohon yang dilakukan KTH Alas Taka di Desa Suweto, Kecamatan Muara Samu, Paser, turut mendapat pendampingan dari PT PHM dan KPHP Kendilo. Konservasi DAS Kendilo turut melibatkan partisipasi peremp

"Ketika pohon terakhir ditebang, ketika sungai terakhir dikosongkan, ketika ikan terakhir ditangkap, barulah manusia akan menyadari bahwa dia tidak dapat memakan uang." Eric Weiner.

Muhammad Rizki, Balikpapan
mahulu2013@gmail.com

HAMPARAN pohon nan hijau yang menutupi langit Desa Saing Prupuk, Kecamatan Batu Engau, Kabupaten Paser, menyambut Heri Sukmana. 12 tahun lalu, transmigran asal Ngawi, Jawa Timur itu, menginjakkan kaki di Desa Saing Prupuk yang berjarak sekitar 2 jam perjalanan darat dari Tanah Grogot, pusat pemerintahan Kabupaten Paser. Di pedalaman Paser, Heri begitu mudahnya melihat dari dekat pohon meranti dan ulin. Dua pohon endemis Kalimantan yang dikenal karena kayunya yang berat, keras, dan sangat awet.

Namun, panorama itu tak lama memanjakan mata Heri. Tanpa disadari, satu per satu pohon ulin dan meranti yang menjadi perisai dari terik matahari, menyerap emisi karbon, hingga sebagai cadangan air, tumbang di tangan perambah hutan. “Banyak pembalakan liar. Illegal logging banyak sekali. Kayu-kayu itu (ulin dan meranti) banyak bertumbangan karena paling banyak dicari,” ungkapnya kepada Kaltim Post, Selasa (27/9). Kondisi itu membuat Desa Saing Prupuk yang notabene sebagai salah satu Daerah Aliran Sungai (DAS) Kendilo menjadi kritis.

"Kalau kita gali-gali tanah, banyak sekali sisa pohon ulin dan meranti, bekas penebangan liar," tutur Heri yang saat ini dipercaya sebagai ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Aper Sejahtera, Desa Saing Prupuk. Selain pembalakan liar, kerusakan DAS Kendilo juga disebabkan kebakaran hutan dan lahan ketika musim panas. Salah satu peristiwa terbesar terjadi pada 2015. Saat itu, ada 500 titik panas atau hot spot akibat kebakaran hutan dan lahan di DAS Kendilo. Angka tersebut menjadikan DAS Kendilo sebagai penyumbang hot spot terbesar Kaltim pada 2015.

Situasi itu memaksa Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menetapkan DAS Kendilo termasuk dalam 12 daerah aliran sungai kritis di Indonesia. Padahal, Sungai Kendilo merupakan sungai utama yang membentuk kawasan tangkapan air seluas 452.837 hektare, atau sekitar 39 persen dari total wilayah Kabupaten Paser. DAS Kendilo terbentuk dari sedikitnya 13 anak sungai di hulu Kabupaten Paser kemudian mengalir sekitar 60 kilometer ke arah Laut Sulawesi.

Berdasarkan laporan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Kendilo yang dibentuk pemerintah pada Desember 2013, DAS Kendilo mengalami degradasi dan deforestasi akibat penebangan liar dan kebakaran hutan. Untuk memulihkan ekosistem DAS Kendilo sebagai cadangan air, diperlukan perbaikan lingkungan, seperti rehabilitasi dan reklamasi lahan. Gayung bersambut, pada 2018, PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) mendapat penugasan merehabilitasi DAS Kendilo.

Dijelaskan Frans Alexander Hukom, Head Communication Relations and CID PT PHM, lokasi rehabilitasi berada di Desa Suweto, Kecamatan Muara Samu, dan Desa Saing Prupuk, Kecamatan Batu Engau, Paser. Mulanya, sebut dia, PT PHM selaku operator wilayah kerja Delta Mahakam dengan dukungan SKK Migas dan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) sebagai induk perusahaan, mendapat Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) Delta Mahakam.

Izin tersebut berlaku sejak 2018 dan berakhir pada 2038. Adapun luasnya 1.925,4 hektare. Salah satu kewajiban sebagai pemegang IPPKH adalah merehabilitasi daerah aliran sungai. Dari luas IPPKH itu, PT PHM kemudian mendapat tugas merehabilitasi seluas 2.118 hektare di DAS Kendilo. Mengapa DAS Kendilo yang dipilih? Frans menjelaskan, awalnya PT PHM akan merehabilitasi kawasan Delta Mahakam, Kabupaten Kutai Kartanegara. Setelah melakukan verifikasi lapangan, pihaknya kemudian menghadap ke KLHK.

Dari pertemuan itu, PT PHM disarankan untuk tidak menanam di Delta Mahakam karena sudah banyak perizinan. "Khawatir overlapping. Kami kemudian diarahkan ke lokasi lain. Kandidatnya di Kabupaten Berau, Tahura Bukit Soeharto, dan DAS Kendilo. Dari ketiga lokasi itu, lokasi DAS Kendilo yang dipilih. Setelah berkoordinasi dengan KPHP Kendilo, BPDASHL Mahakam Berau dan Dishut Provinsi Kaltim, kami mendapat dukungan penuh dan diberi area untuk melaksanakan kegiatan penanaman dalam rangka rehab DAS (DAS Kendilo)," jelasnya.

Sejak 2018, PT PHM mulai melakukan rehabilitasi. Pihaknya menggandeng dua kelompok tani setempat dengan skema swakelola murni. Yakni KTH Aper Sejahtera dan KTH Alas Taka di Desa Suweto. Kolaborasi antara KPHP Kendilo, KTH Aper Sejahtera dan KTH Alas Taka serta PT PHM, disebutnya selaras dengan program pemerintah dalam meningkatkan produktivitas rakyat. Serta pemberdayaan masyarakat untuk melestarikan hutan. Melalui swakelola, ucap Frans, hasilnya ternyata mampu meningkatkan efisiensi anggaran penanaman sebesar 69,64 persen, bila dibandingkan dengan pengerjaan oleh pihak ketiga.

Rehabilitasi DAS Kendilo terbagi dalam tujuh blok penanaman dengan total luas lahan yang ditanam 2.189 hektare. Sementara itu, jenis tumbuhan yang ditanam berkategori tanaman multiguna. Seperti pohon durian, nangka, cempedak, petai, mete, sukun, dan jengkol. Ada juga jenis kayu-kayuan, seperti meranti, sengon, jabon, dan gaharu. Hingga akhir September 2022, dari tujuh blok, empat blok telah selesai dilakukan penanaman. Lanjut Frans, pada tahun ini akan dilakukan penilaian dan penyerahan pertama kegiatan rehab DAS kepada KLHK. Luasnya 780 hektare dengan total 905.300 pohon yang sudah ditanam.

Sementara di blok lainnya, sambung dia, progres rehabilitasi juga sedang berjalan. Pada 2023, ditargetkan dua blok kembali selesai dilakukan penanaman dan akan dinilai lalu diserahkan kepada KLHK. Untuk memudahkan pemantauan pohon yang telah ditanam, PT PHM membekali kelompok tani hutan berupa aplikasi digital Penanaman Rehabilitasi DAS (Parida). Frans menyampaikan, melalui pendekatan pembangunan berkelanjutan, program rehabilitasi DAS Kendilo melebihi kepatuhan karena mampu berkontribusi pada United Nation Sustainable Development Goals 2030.

Seperti kesetaraan gender dengan keterlibatan perempuan hingga 62,79 persen, penyelamatan cadangan air, penambahan aset kelompok tani hutan, serta penyerapan emisi karbon (CO2) 223.981 ton per tahun. Termasuk meningkatkan pendapatan masyarakat kelompok tani hutan sebesar 44 persen, lewat program budi daya daun serai menjadi minyak atsiri, madu, dan arang aktif dari limbah kayu pohon alaban. Produk budi daya itu telah dijual ke luar daerah. Di satu sisi, anggota KTH Aper Sejahtera dan KTH Alas Taka yang berjumlah sekitar 80 orang sebagai pekerja, di sisi lain, mereka juga sebagai pengusaha. Mereka menyelamatkan lingkungan dan lingkungan memberi mereka kehidupan.

Rehabilitasi DAS Kendilo yang dilakukan PT PHM akan berlangsung selama 7 tahun. Dimulai dari 2018 sampai 2025 dengan target jumlah tanaman yang ditanam hingga 2.532.200 pohon. "Mimpinya, dari hutan yang direhabilitasi di DAS Kendilo ini, bermanfaat bagi masyarakat dan menghasilkan nilai jual karena menanam tanaman yang produktif. Tidak ada lagi penebangan pohon secara liar. Karena melibatkan dan mengajak masyarakat sekitar melalui kelompok tani hutan, sehingga ada rasa memiliki," harapnya.

 

PT PHM UNTUK KALTIM POST
BAHU-MEMBAHU: Bibit pohon di lokasi persemaian, Desa Suweto, Paser, bersiap dibawa menuju lokasi penanaman diangkut menggunakan kendaraan double cabin.

Menjadi Contoh Program Rehabilitasi DAS

DAS Kendilo mengemban tugas berat. Selain sebagai penyangga fungsi ekologis daerah aliran sungai yang bernilai ekonomi bagi masyarakat, juga pengontrol perubahan iklim. Kepala KPHP Kendilo Muhammad Hijrafie mengatakan, melalui rehabilitasi dan reklamasi lahan kritis, kualitas dan kuantitas nilai ekologis hutan DAS Kendilo diharapkan bisa meningkat. Mengingat perlindungan dan konservasi sumber daya hutan, juga turut memberdayakan masyarakat desa hutan. Seperti melibatkan partisipasi kelompok masyarakat dalam bentuk kerja sama pola kemitraan agroforestry.

"Konsep penanaman rehab DAS (DAS Kendilo) ini, melibatkan langsung peran masyarakat setempat melalui kontrak kerja sama antara PT PHM dengan kelompok tani hutan. Konsep ini sangat bagus," kata Hijrafie. Dia menuturkan, selain berdampak positif pada peningkatan pendapatan masyarakat sebagai pekerja, swakelola rehabilitasi DAS Kendilo menghasilkan nilai tambah besar bagi kelompok tani hutan sehingga produktif. "Seperti pengembangan usaha agroforestry, hasil usaha hutan bukan kayu, dan pengembangan jasa lingkungan seperti wisata alam. Kami harap konsep ini menjadi contoh bagi perusahaan atau mitra yang akan melakukan penanaman rehab DAS," ungkapnya.
Sementara itu, Izulkifli, anggota dari KTH Alas Taka menuturkan, melalui skema swakelola, rehab DAS Kendilo tidak hanya berdampak pada pemberdayaan ataupun dari sisi peningkatan ekonomi masyarakat. “Tapi, juga peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengelola hutan agar produktif. Semoga program ini terus berlanjut, dan berkelanjutan,” harapnya.

 

Manfaat Industri Hulu Migas Tak Sekadar Dana Bagi Hasil

Rehabilitasi DAS Kendilo yang dilaksanakan PT PHM merupakan potret jika industri hulu migas nasional tak sekadar berdampak konkret terhadap perekonomian, ketenagakerjaan ataupun pendapatan negara, termasuk bagi Kaltim dalam bentuk dana bagi hasil (DBH) yang menjadi modal pembiayaan pembangunan daerah. Tetapi, juga sebagai lokomotif penyelamatan lingkungan dengan melibatkan masyarakat sekitar. Rehabilitasi hutan dan lahan di DAS Kendilo merupakan wujud investasi jangka panjang perusahaan migas dalam melestarikan lingkungan berkelanjutan.

"Ternyata, kontribusi industri hulu migas itu tak melulu produksi dan lifting. Namun, setelah dijabarkan lebih luas, dampaknya luar biasa bagi masyarakat. Seperti konservasi, penghijauan DAS (DAS Kendilo)," kata Senior Manager Humas SKK Migas Kalsul Wisnu Wardhana diwawancarai terpisah di Balikpapan pekan lalu. Wisnu menuturkan, rehabilitasi DAS Kendilo merupakan salah satu program skala besar. Untuk diketahui, SKK Migas bersama 12 kontraktor kontrak kerja sama atau KKKS, saat ini melaksanakan rehabilitasi DAS seluas kurang lebih 6.034,18 hektare. Sementara, yang dikerjakan PT PHM mencakup 35 persen dari luas area tersebut.

Wisnu melanjutkan, rehabilitasi hutan dan lahan DAS Kendilo merupakan salah satu bentuk sinergi, kolaborasi, dan integrasi antara pemerintah, dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pengusaha, serta masyarakat. "Konservasi atau rehabilitasi lingkungan ini, adalah satu dari sekian kontribusi keberadaan industri hulu migas. Di luar pajak, infrastruktur, keterlibatan para pengusaha daerah, rekrutmen tenaga kerja lokal yang sudah di atas 50 persen, kemudian pembinaan UMKM yang bahkan sudah ada yang go nasional," jelasnya. (riz/k15)

Editor : rahman-Rahman Hakim