TANJUNG REDEB – Kasus Demam Berdarah Dengeu (DBD) di Berau meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya. Hal itu diutarakan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau, Totoh Hermanto.
Menurut data Dinkes Berau, sejak Januari hingga Agustus jumlah kasus DBD di Berau mencapai 273 kasus. Sedangkan tahun lalu, hanya 103 kasus.
Disampaikan Totoh, sebagai antisipasi DBD, penyebaran bubuk abate sudah jauh hari dilakukan pihaknya. Tetapi kebersihan lingkungan masyarakat seakan terabaikan, sehingga penyakit DBD ini dengan mudah menyerang masyarakat yang lingkungannya kurang bersih.
“Sudah sejak lama itu (pemberian bubuk abate, red), sebelum musim penghujan,” ujarnya.
Mantan Kepala Dinas Sosial Berau ini melanjutkan, kebersihan lingkungan menjadi faktor utama agar penyebaran DBD tidak terjadi. Karena genangan air, selokan yang kotor bisa menyebabkan jentik nyamuk penyebab DBD berkembang pesat.
“Ini yang salah. Seharusnya ketua RT bisa turun ke jalan. Bersihkan lingkungan sekitar bersama warga. Apalagi ini sudah hujan terus,” paparnya.
Penerapan pola hidup sehat dan bersih, ditegaskannya perlu diterapkan oleh masyarakat. Sebab, dengan tingginya kasus DBD, menjadi perhatian khusus semua pihak. “Apalagi bisa mengarah ke kematian,” tuturnya.
Disinggung mengenai Fogging, Totoh mengatakan, fogging tidak bisa membunuh jentik nyamuk. Hanya menyasar nyamuk dewasa saja. Sehingga cara ini dianggap kurang efektif. Lalu, Fogging juga dilakukan apabila ada laporan dari masyarakat, jika di daerahnya ada warga yang terdampak DBD.
“Tidak bisa ujuk-ujuk langsung turun, kan harus ada laporan,” katanya.
Ia menjelaskan, kesadaran masyarakat yang menjadi tinggi akan kebersihan, menjadi faktor utama DBD tidak berkembang di Bumi Batiwakkal. “Pola hidup sehat, bersihkan lingkungan, itu menjadi faktor utama,” pungkasnya. (hmd/arp)
Editor : uki-Berau Post