Terpuruk karena Covid-19 tak serta-merta membuat Putri Arofah ‘jatuh’. Justru, semenjak itu jalan hidup telah mengarahkannya menggeluti dunia batik.
ARI PUTRA UTAMA, Gunung Tabur
PANAS terik matahari, tak menghambat keuletan tangan Putri Arofah. Di selembar kain putih sepanjang sekitar 2,5 meter, ia mulai menggosokkan pewarna buatan di badan kain. Teriknya matahari yang masuk ke sela-sela ‘pabriknya’ sangat disyukuri Putri. Karena membuat kain yang telah dipoles pewarna menjadi cepat kering.
Namun di sela-sela kesibukannya itu, Putri menyempatkan waktu bertemu awak media ini. “Tapi maaf ya, tangan saya masih berlepotan ini,” ujarnya sembari menunjukkan tangan kanannya yang penuh dengan sejumlah pewarna.
Sejatinya, Putri memiliki sekitar sepuluh orang karyawan untuk memproduksi puluhan batik setiap harinya. Namun, ia merasa harus turun tangan langsung. Karena baginya, batik yang dihasilkan dari Putri Maluang Batik, memiliki ciri khas tersendiri. “Karena beda tangan beda hasil nanti,” katanya.
Di tempat produksi yang berada persis di samping rumahnya di Jalan Poros Kampung Maluang, Kecamatan Gunung Tabur, Kabupaten Berau, Kaltim, dirinya mengungkapkan, dalam satu hari Putri Maluang Batik mampu menghasilkan sekitar 20 kain batik.
Omzet yang diraih pun tak main-main. Setiap bulannya, dia menyebut bisa mendapatkan Rp 150 juta hingga Rp 300 juta. Besarnya omzet yang diraih itu, tak terlepas dari semakin luasnya pasar milik Putri Maluang Batik.
Mulai dari pemerintah, swasta, hingga masyarakat pada umumnya pun menjadi pemakai batik yang dihasilkan Putri Maluang Batik. “Kami juga coba menjual batik kami di media sosial. Dan alhamdulillah penjualan dari online juga bagus,” ungkap wanita kelahiran 1983 ini.
Saat awal-awal membangun usaha Putri Maluang Batik, Putri mengaku penuh perjuangan. Bahkan, terjun di dunia batik menurutnya buah ketidaksengajaan.
Ia menceritakan, mulai membatik saat tengah ‘terkurung’ di rumah, dikarenakan harus menjalani isolasi mandiri (isoman) di tengah pandemi Covid-19 sekitar akhir 2020. Bersama tiga orang lainnya yakni Nita, Nur, dan Nisa yang juga tengah menjalani isoman.
Di tengah kebosanan menjalani isoman, Putri melihat banyak alat-alat bekas membatik yang berada di rumahnya. Alat-alat itu merupakan hasil pelatihan membatik yang pernah diikutinya beberapa tahun sebelumnya.
Tanpa pikir panjang untuk mencari kesibukan, mereka mulai mencoba kembali menggoreskan ujung canting di selembar kain putih. Meskipun sembari mengingat cara membatik yang pernah mereka lakukan sebelumnya. “Sambil belajar otodidak juga dari melihat YouTube,” tutur Putri.
Diakui Putri, awal-awal membatik tentunya tidaklah mudah. Selembar demi selembar kain pun harus berakhir di tempat sampah. Karena menurutnya tidak sesuai dengan hasil yang diinginkannya.
“Itu momen-momen saya sempat mau menyerah. Tapi karena kondisi yang dikucilkan orang sekitar karena covid, jadi mau tidak mau ya dicoba terus,” ungkapnya. Sampai akhirnya, beberapa kain batik pun berhasil dibuat.
Seiring berjalannya waktu, batik yang mereka buat dirasa sudah layak untuk dijual. ‘Lapak’ di media sosial pun menjadi langkah pertama untuk menjajakan hasil batik buatan mereka. Pendapatan pertama mereka mulai Rp 150 ribu hingga Rp 500 ribu per bulannya.
Di samping itu, mereka mulai membuat usaha dengan nama Putri Maluang Batik. Kata Maluang sendiri berasal dari nama Kampung Maluang, yang menjadi tempat Putri dan ketiga rekannya tinggal.
Semakin banyaknya omzet dan corak batik yang dibuat, Putri menyadari motif yang telah dibuat harus dipatenkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Beberapa motif yang telah didaftarkan di antaranya Katu Lada, Air Pasang Surut dan Kantong Semar.
Dari ketiga motif itu, Putri mengaku terinspirasi dari sekitarnya. Mulai dari Katu Lada yang menurutnya mampu ditanam di manapun dan bisa bermanfaat bagi siapa saja. Kemudian motif Air Pasang Surut memiliki filosofi menggambarkan kehidupan manusia kadang di atas dan di bawah.
“Kebetulan juga kan di dekat rumah ada sungai, jadi setiap hari saya lihat air pasang surut,” ujarnya tertawa.
Kemudian lewat motif Kantong Semar, ia ingin menyampaikan bahwa para wanita harus bisa menjadi layaknya bunga Kantong Semar. Yakni mampu menyimpan segala hal dalam menjalani kehidupan.
“Letak bunga Kantong Semar juga adanya di hutan. Jadi untuk mendapatkannya juga tidaklah mulus. Begitu juga dengan kehidupan, untuk mencapai sesuatu yang diinginkan tentu tidaklah mudah,” tuturnya.
Kini, dengan terus berkembangnya Putri Maluang Batik, perempuan tiga orang anak inipun tak ingin berpuas diri. Ia tetap rutin mengikuti sejumlah perlombaan yang digelar tingkat kabupaten, provinsi hingga nasional. Terbaru, dirinya mampu meraih juara pertama pada lomba desain batik yang diadakan Bank Indonesia perwakilan Kalimantan Timur. Dengan menciptakan motif batik Keindahan Sungai Borneo.
Karena itu juga, Putri Maluang Batik saat ini sudah menjadi binaan dari Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF). Sehingga setiap pameran yang diadakan ISEF di berbagai daerah di Indonesia, Putri Maluang Batik disediakan tempat untuk menampilkan hasil batiknya.
“Lewat pameran itu jadi kesempatan kami untuk bertemu desainer lain. Seperti Dian Pelangi hingga Bella Shafira dengan brand terkenal mereka,” katanya.
“Jadi kami juga merasa bangga bisa sejajar dengan booth mereka di ISEF. Hingga akhirnya booth kami yang ternyata paling banyak dikunjungi orang,” sambungnya dengan bangga.
Dengan segala torehan dan capaian yang telah dibuatnya, Putri Arofah berkeinginan agar batik bisa terus lestari. Salah satunya dengan mengadakan pelatihan membatik bagi pelajar sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di Kampung Maluang.
“Lewat pelatihan itu kami ingin generasi muda tahu dan mau belajar membatik. Apalagi batik inikan warisan Indonesia yang diakui dunia,” ujarnya. Pelatihan membatik itu dilaksanakan setiap tiga bulan sekali.
Di samping itu, Putri juga tengah membangun sebuah galeri yang tepat berada di depan rumahnya. Galeri itu nantinya akan menjadi sebuah etalase, dengan menampilkan semua kain batik buatan Putri Maluang Batik.
Agar lebih menarik, selain bisa melihat batik yang telah dibuat. Para pengunjung galeri juga bisa melihat langsung proses pembuatan batik. Karena lokasinya tepat di samping galeri yang dibangun. “Rencananya selesai pada Desember nanti,” pungkasnya. (*/udi)
Editor : uki-Berau Post