CATATAN
MUHAMMAD RENDY FAUZAN
Redaktur Muda Kaltim Post
SEDIH ketika menyaksikan striker lokal kesulitan bersaing di kompetisi negaranya sendiri. Mereka tersisih, kalah pamor dari para penyerang impor. Terlebih, beberapa tahun terakhir, talenta dari negeri berperadaban sepak bola maju seperti Brasil, mulai melirik negeri ini sebagai ladang penghidupan potensial. Situasi yang kian mengancam keberadaan penyerang lokal.
Melansir dari data Transfermarkt, ada 74 pemain asing yang berkarier di Liga 1 musim ini. Puluhan di antaranya adalah yang kini menyesaki daftar pencetak gol terbanyak sementara pada musim ini.
David da Silva, penyerang Persib Bandung, bersama Matheus Pato dari Borneo FC Samarinda, sementara ini jadi yang tersubur. Hingga pekan ke-14, duo Brasil itu sudah mencetak 12 gol. Di bawahnya, ada pemain depan Bali United Privat Mbarga dari Kamerun. Dia mencatatkan delapan gol untuk Serdadu Tridatu.
Nah, setelah Mbarga, barulah ada pemain berkebangsaan Indonesia. Ilija Spasojevic. Talenta “lokal”. Sudah mencetak tujuh gol untuk Bali United. Kata lokal itu terpaksa saya beri tanda kutip. Karena, sebelum menjadi warga negara Indonesia pada 2017, dia adalah talenta yang tumbuh besar dan terasah di Eropa sebagai warga Serbia-Montenegro.
Dalam beberapa kesempatan berbincang dengan pengelola klub dan keterangan resmi mereka di media, ada alasan yang menonjol kala mereka memutuskan merekrut penyerang asing: postur tubuh.
Memang, dari sejumlah penyerang asing tersebut memiliki postur di atas rata-rata pemain Indonesia. Dari data yang saya ulik, yang paling “pendek” adalah Pedro Henrique, pemain berpaspor Timor Leste kelahiran Brasil. Tingginya 182 cm. “Sudahlah gede, gesit pula,” ucap salah satu dari mereka memuji kualitas pemain asing rekrutannya. Performa menonjol itu juga menurutnya bisa menjadi nilai jual untuk mengerek bisnis tim.
Sementara itu, penyerang asli Indonesia kini lebih sering menjadi pelapis. Penghangat bangku cadangan. Tidak semua demikian. Tetapi inilah potret yang awam kita saksikan di layar kaca beberapa tahun terakhir.
Meski demikian, beberapa dari mereka ada yang tetap produktif meski tidak banyak dapat kesempatan tampil. Di Arema FC, ada penyerang muda Dedik “Drogba” Setiawan yang kini sudah mengoleksi empat gol. Koleksi gol itu sama banyaknya dengan capaian penyerang asing Singo Edan, Abel Camara.
Dari Persikabo 1973, ada Muhammad Dimas Drajad yang telah membukukan lima gol. Begitu juga di Borneo FC Samarinda, Ahmad Nur Hardianto, dan Yakob Sayuri dari PSM Makassar juga sudah mengoleksi empat gol. Melihat produktivitas itu agak melegakan dada. Setidaknya ini menggambarkan bahwa mereka hanya perlu diberi kesempatan lebih banyak.
Di samping itu, tak kalah penting bagi pemain lokal untuk mengembangkan kapasitasnya di luar lapangan. Seperti meningkatkan kemampuan berbahasa asing, mengingat komposisi pelatih klub Liga 1 Indonesia saat ini juga mayoritas dihuni oleh tactician mancanegara. Bagaimanapun, pelatih tentu akan lebih nyaman menunjuk pemain yang bisa memahami keinginannya.
Itu sudah dilakukan penyerang Persija Jakarta Hanno Behrens. Selama jeda kompetisi yang lalu, dia bersemangat belajar bahasa Indonesia. Menjadikan rekan setimnya “guru les” bahasa Ibu Pertiwi. Itu dia lakukan demi memudahkannya memahami komunikasi selama berkarier bersama Macan Kemayoran.
Walah, 2-0 untuk keunggulan pemain asing kalau begini ceritanya. Tetapi semoga di bagian ini hanya karena wawasan saya yang minim. Siapa tahu ternyata ada pemain lokal Borneo FC Samarinda yang intens belajar bahasa Inggris, atau malah bahasa Portugis, demi memahami maksud pelatih Andre Gaspar yang notabene berasal dari Brasil. Siapa tahu. (*)
Editor : izak-Indra Zakaria