LEBIH cepat tutupnya. Maklum, hari Jumat (16/12) jam buka di Warung Pojok tidak seperti hari lain. Tutup sebelum jam 12.00 siang.
Harusnya saya datang lebih pagi. Bisa jumpa dengan pengunjung yang sudah hadir sejak pintu warung mulai dibuka. Karena waktu terbatas, sayapun datang masih dengan busana olahraga.
Sudah mulai sepi. “Sudah banyak yang pulang,” kata Pak Tarigan, yang pensiunan Polisi. Dia sahabat saya sejak lama. Terakhir, ia bertugas sebagai Kapolsek Talisayan. Sejak purna tugas, jam berkunjung ke Warung Pojok, lebih sering. Sama seperti saya.
Setiap ketemu, tidak pernah kehabisan cerita. Ada saja cerita unik yang ujung-ujungnya menimbulkan tawa. Suasana itu yang dilahirkan, saat jumpa dengan teman-teman. Tidak saja di Warung Pojok. Semua tempat yang sering dijadikan tempat perjumpaan.
Hari Jumat lalu itu, sebetulnya saya janjian dengan penjual ikan di Jalan Sutomo. Katanya, ada pasokan yang baru masuk dari Tanjung Batu, Pulau Derawan. Entah kenapa, lalu mengarah ke Warung Pojok.
Tak lama, ada rombongan para petinggi Partai Gerindra. Ada Pak Jakariya, ada Pak Kiyank dan Pak Zulkarnain Tanjung bersama istri. Pak Tanjung itu, pemilik restoran Padang Kuring. Ini bakalan nambah waktu. Yang datang, pasti punya banyak cerita.
Rupanya, ‘tim Gerindra’ lagi kecewa. Rencananya mau ke Teluk Bayur, menikmati lontong sayur yang katanya luar biasa nyamannya. Sampai di lokasi, apa yang dicari sudah habis. Mengobati rasa kecewa, mereka ke Warung Pojok.
Sejak terjadi perubahan nomor partai peserta pemilu, Gerindra nampaknya gembira. Mereka tak perlu lagi repot mengekspresikan nomor urut partainya. Cukup dengan jari tengah dan jari telunjuk. Seperti lazimnya banyak orang berpose dengan dua jari.
Warung Pojok itu, sering mempertemukan dua sahabat atau dua teman yang lama tidak jumpa. Warung kopi yang bisa jadi center point, bagi warga yang ada di Berau. Atau, warga Berau yang datang liburan di kampungnya.
Seperti halnya Pak Mula Sihotang. Ia pernah duduk sebagai anggota DPRD Berau, beberapa tahun lalu. Ia termasuk salah satu pengunjung setia Warung Pojok.
Di hari Jumat itu, Pak Sihotang menjadi pengunjung terakhir yang datang. Banyak teman yang ada sudah ia tidak kenal. Mungkin saja karena lama tak jumpa. Buktinya, begitu salaman dengan Pak Kiyank, dia langsung memeluk. Katanya ada cerita menarik tentang mereka berdua.
Saat bersalaman dengan bos ‘Padang Kuring’ itulah, Sihotang sedikit bingung. “Bapak siapa ya?” tanyanya. Teman lain yang menjelaskan, kalau beliau adalah Pak Zulkarnain Tanjung, bos Padang Kuring.
Pak Sihotang langsung memeluk dan cipika cipiki. “Kita bersaudara, aku juga berasal dari Padang,” kata Sihotang. Seisi warung bingung. Selama ini, dengan namanya saja, orang sudah paham kalau ia dari Sumatera Utara. Kok, tiba-tiba jadi orang Padang?
Mungkin karena sama-sama dari Sumatera itu, sehingga Sihotang bisa saja menyebut dirinya dari Padang. Semakin ramailah pertemuan tersebut. Pemilik warung sibuk menyiapkan roti bakar dan mi kuah yang jadi menu favorit.
Tak ubahnya ketika masih jadi anggota DPRD. Sihotang mampu mengubah situasi tegang jadi rileks. Ia banyak bahan untuk membuat suasana jadi cair. Saat melakukan rapat dengar pendapat.
Barangkali dari pengalaman setelah menjadi anggota DPRD itu, Sihotang bisa membuat suasana ramai. Ia mengaku bahwa dirinya juga berasal dari Padang.
Hari Jumat, waktunya mepet. Saya juga masih harus melanjutkan perjalanan mencari ikan segar. Tapi tidak lagi ke Jalan Sutomo. Saya ke pasar Jalan Manunggal saja. Selain mau membeli ikan basah, juga ikan asin jenis ikan Gulama. Saya masih senyum-senyum, mengingat cerita Pak Sihotang jadi orang Padang. @cds_daengsikra. (*/udi)
Editor : uki-Berau Post