Oleh: Prientananda Ghina Salsabila
Statistisi Ahli Pertama BPS Provinsi Kalimantan Timur
“Pertanian negeri, jiwa raga kami” adalah frasa yang terus berembus dari napas sebagian besar masyarakat Indonesia di berbagai penjuru, tak terkecuali Kalimantan Timur. Kehidupan agraris sudah mendarah daging dalam setiap tubuh anak bangsa. Lalu, sudahkah pertanian berhasil menghidupkan kesejahteraan jiwa dan raga rakyat Indonesia?
Menurut BPS, pada Agustus 2022, 13,87 persen masyarakat Indonesia masih menumpukan hajat hidupnya sebagai buruh, karyawan, pegawai, atau pekerja bebas di lapangan pekerjaan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Angka ini merupakan yang tertinggi kedua dibandingkan sektor lainnya.
Demikian juga di Kalimantan Timur, sektor ini juga banyak menyerap tenaga kerja, bahkan hingga 20 persen. Dari jumlah ini, lebih dari 74 persennya berada di kawasan pedesaan. Menariknya, hal ini disertai dengan kemiskinan Kalimantan Timur yang bersifat rural. Artinya, kemiskinan di Bumi Etam didominasi oleh masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan, lebih tepatnya mencapai 9,64 persen pada Maret 2022. Lebih dari dua kali lipat persentase penduduk miskin di daerah perkotaan yang hanya 4,80 persen (BPS, 2022).
Tidak hanya itu, hal ini juga diiringi dengan indeks kedalaman kemiskinan yang lebih tinggi di daerah pedesaan (1,687) dibandingkan perkotaan (0,672). Maknanya, rata-rata pengeluaran masyarakat pedesaan masih lebih jauh dari garis kemiskinan (lebih rendah) dibandingkan masyarakat perkotaan, sehingga kemiskinan di daerah rural dapat dikatakan lebih “dalam”.
Padahal, di sisi lain, pengangguran di Kalimantan Timur terus mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir, terutama di daerah pedesaan yang penurunannya pada Agustus 2022 dibandingkan dengan Agustus 2021 mencapai 1,68 persen. Lebih dari dua kali lipat penurunan pengangguran di daerah perkotaan yang hanya mencapai 0,88 persen (BPS, 2022). Hal ini kemudian menjadi perhatian, mengingat perbaikan situasi pengangguran di pedesaan di Kalimantan Timur tidak berjalan beriringan dengan perbaikan kondisi kemiskinan rural.
POLEMIK DAN POTENSI
Menarik benang merah dari data tersebut, kemiskinan yang bersifat rural ini dimungkinkan terjadi karena jenis pekerjaan para tenaga kerja sebagian besar adalah pekerjaan kasar, terutama di sektor pertanian. Fenomena ini juga terjadi di Indonesia secara umum. Dan hal ini didukung dengan data rata-rata upah dari pekerja kasar di Indonesia untuk sektor pertanian (Rp 1,24 juta) yang lebih rendah sekitar Rp 600 ribu dibandingkan pekerja kasar di sektor non-pertanian (Rp 1,88 juta).
Padahal, di Kalimantan Timur sektor pertanian merupakan penyumbang PDRB terbesar keempat (6,73 persen) setelah pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, dan konstruksi. Fakta ini menunjukkan bahwa sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan Kalimantan Timur sejatinya memiliki potensi yang sangat besar untuk dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Selain itu, potensi pertanian dapat dilihat dari nilai tukar petani (NTP) Provinsi Kalimantan Timur yang selalu meningkat setiap bulan di semester II 2022, mulai 113,52 pada Juli 2022, hingga 124,21 pada Oktober 2022. Hal ini mengindikasikan pendapatan petani yang naik lebih besar dari pengeluarannya dan kondisi ini semakin membaik setiap bulan.
Artinya, tingkat kesejahteraan petani senantiasa berubah ke arah yang lebih baik. Momentum ini seharusnya dapat dipandang sebagai jalur menuju kesejahteraan pekerja pertanian dengan penuh optimisme.
TINDAK LANJUT
Untuk mendukung perumusan tindak lanjut terhadap permasalahan ini, perlu teropong yang dapat memotret kondisi nyata di lapangan, sehingga terwujud basis data yang akurat untuk menentukan langkah dan kebijakan strategis. Kemudian, mengingat kompleksitas fenomena tersebut, diperlukan pula kebijakan yang memiliki fokus spesifik terhadap kemiskinan dan pertanian.
Oleh karena itu, program pendataan awal registrasi sosial ekonomi (regsosek) hadir untuk mencatat Indonesia demi optimalisasi program perlindungan sosial dan pemberdayaan masyarakat, di mana pendataan tersebut telah terlaksana November lalu. Badan Pusat Statistik (BPS) kini kembali bersiap untuk melakukan Sensus Pertanian 2023 yang mengangkat misi kesejahteraan dan kedaulatan petani.
Duet maut kegiatan ini diharapkan dapat membuka tabir dan menjawab persoalan kemiskinan di Kalimantan Timur yang bersifat rural dan banyak dialami masyarakat agraris. Setelah gelaran ini berlangsung, integrasi antara keduanya dengan dipayungi seluruh elemen pemerintah dan dukungan masyarakat akan memunculkan optimisme untuk bersama-sama mengoptimalkan perlindungan sosial, pemberdayaan masyarakat, dan kesejahteraan petani. (dwi/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria