WALI KOTA Makassar Dani Pomanto, membuat tagline baru bagi kota yang dipimpinnya. Bukan landmark atau bangunan bersejarah. Tapi soal makanan.
Maka hadirlah sebutan ‘Makassar Kota Makan Enak’. Itu di-launching langsung sang wali kota. Ia menyebut, bila liburan selama tiga hari saja, bisa menjelajahi semua kuliner dan dipastikan enak-enak semuanya.
Saya yang asal Makassar, bila pulang kampung, layaknya seorang perantau di kampung sendiri. Kenapa begitu Pak Daeng? Saya tidak hafal lagi pusat-pusat kuliner.
Seingat saya, penjual mi kering ‘Titi’ ada di Jalan Irian. Sekarang sudah tersebar ke mana-mana. Dulu hanya mengenal Coto Makassar di Jalan Macan, sekarang hampir semua jalan ada penjual cotonya. Ada Coto Nusantara di Jalan Nusantara ada Coto Gagak di Jalan Gagak.
Ada yang baru. Namanya Sop Lidah. Tak ada yang campur, memang di dalam mangkuk hanya ada irisan lidah sapi ditambah perkedel. Kaldunya bening tak sama dengan Coto Makassar. Tapi nikmatnya luar biasa.
Saat ke Makassar beberapa bulan lalu, bertemu dengan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dan sejumlah pramugari Garuda dan Batik Air. Sama-sama menikmati Sop Lidah. Pak menteri, tanpa diminta langsung meng-endorse salah satu jenis kuliner yang terkenal itu.
Saat masih SMA, ada langganan es pisang ijo ‘Flamboyan’ di Jalan Cenderawasih dan nyoknyang di kios Eva Ria. Sekarang penjual pisang ijo sudah ada di mana-mana. Bahkan pisang ijonya ikut merantau ke Tanjung Redeb. Rasanya tak jauh berbeda. Memang bahannya sama.
Apalagi ya. Sop Konro, dulu hanya bisa didapatkan di salah satu sudut lapangan bola Karebosi. Jualan tenda di bawah pohon Trambesi yang ukurannya besar. Sekarang mereknya tidak berubah. Jualannya sudah di bangunan bertingkat. Sop Konro juga bisa ditemuai di banyak tempat.
Adalagi, namanya Pallubasa di Jalan Srigala. Saya punya pengalaman tak nyaman, saat menikmati makanan yang berbahan daging dan nasi. Saya pikir, waktu itu setelah makan bisa santai merokok. Tidak tahunya, ada perempuan cantik yang menepuk pundak saya. “Sudah habismi pak, berdiri maki,” kata perempuan itu.
Saya senyum kecele, sambil membawa minuman botol dingin. Keluar tenda, dan duduk di halte menghabiskan minuman dingin dan melanjutkan merokok. Dulu jualan di tenda tepi jalan. Sekarang ‘Pallubasa’ sudah menempati bangunan besar. Tak jauh dari lokasi awal berjualan. Pallubasa juga bisa didapatkan di banyak tempat.
Ikan bakar bagaimana? Itu tidak usah ditanyakan lagi. Banyak penjual ikan bakar bertebaran di dalam kota. Tinggal memilih selera saja. Begitupun ikan Bandeng bakar yang dipadukan dengan Sop Saudara. Coba saja ke rumah makan nelayan di Jalan Ali Malaka. Makassar dekat pusat pertokoan Somba Opu.
Ada juga yang legendaris. Namanya ‘Sop Ubi’. Jualannya di dalam lorong sempit. Hanya bisa dilewati motor. Sudah jualan sejak 50 tahun lalu. Lokasinya berdekatan dengan Mie Titi dan Ikan Bakar Lae-Lae di Jalan Datu Museng, tak jauh dari rumah sakit Stella Maris.
Kejelian Dani Pomanto yang melihat jenis makanan enak itu, lalu dijadikan ‘brand’ yang cerdas. Bisa menjadi daya tarik sendiri, ingin membuktikan ucapan wali kota. Enak betulkah? Betulkah enak?
Berau bagaimana Daeng? Tidak mungkin meniru apa yang dipopulerkan Wali Kota Makassar. Walaupun di Berau juga makanannya enak-enak. Makanan Nusantara.
Dua hari lalu, teman saya membawa tamu dari Surabaya yang nginap di Palmy Hotel. Ia mendadak jadi sopir ‘tembak’. Membawa wisatawan itu keliling Tanjung Redeb, sebelum naik pesawat ke Maratua.
Ia mengakui makanannya enak, usai menikmati menu masakan di rumah makan Sari Ponti di Jalan Durian II. Teman saya itu, ketawa setelah jadi sopir tembak, ia diberi tips tiga lembar uang merah. Hehe.
Kalau diminta buat brand. Saya hanya ingin mengenalkan, kalau Berau bisa ‘Tidur Enak’. Buktinya apa. Ya, kalau selesai liburan di pulau atau ke wilayah pesisir menikmati Labuan Cermin, sekembalinya ke tempat menginap bisa tidur enak.
Teman saya dari Jakarta, setelah berurusan di siang hari. Saya sarankan, setelah menikmati semuanya. Terakhir nikmatilah tidur enak. Kalau di Jakarta, tidak akan bisa seenak bila tidur di Berau. Di Berau bisa tidur enak. @cds_daengsikra. (*/udi)
Editor : uki-Berau Post