Perusahaan kayu lapis PT Balikpapan Forest Industries (BFI) di Jenebora, Penajam, Penajam Pasar Utara (PPU), diambang bangkrut karena pasar Timur Tengah telah mengambil produk yang sama dari negara lain dengan harga yang kompetitif.
PENAJAM-Perusahaan berbendera Korea-Indonesia (Korindo) Group ini kini mengurangi jumlah produksi bulanan sebesar 76.000 meter kubik kayu lapis menjadi hanya berkisar 3.000-4000 meter kubik. Termasuk mengurangi jumlah karyawan yang kini tersisa 1.100 orang.
“Faktornya bukan akibat pasokan bahan kayu, aman, tetapi pembelinya di Timur Tengah sudah mati suri di sana. Tetap ekspor ke sana sih tetapi jumlahnya sudah sangat tipis, karena sudah banyak saingan. Dulu, kita bisa dibilang bisa bernapas karena mengandalkan pasar di Timur Tengah itu,” kata Manajer Umum PT BFI Arifin, Selasa (28/3).
Dia mengungkapkan, pasar Timur Tengah kini dirambah oleh produksi yang sama dari negara lain dengan harga yang jauh lebih murah, sehingga pasokan dari Indonesia, termasuk dari PT BFI, menjadi terganggu. “Karena produksi dari negara lain yang masuk dengan harga murah, ya lari pembeli,” katanya. Demikian pula, pasar ekspor kayu lapis Indonesia ke Amerika Serikat, yang pada awalnya menjanjikan, secara bertahap mulai mengalihkan pembelian ke negara lain. Masalahnya sama dengan yang terjadi di pasar Timur Tengah, yaitu intervensi produksi dari negara lain dengan harga yang lebih murah.
“Jadi, sekarang ini pasar di Amerika Serikat yang semula digadang-gadang itu juga tidak bisa diharap. Harga murah semua,” ujarnya. Arifin mengatakan bahwa hampir semua perusahaan kayu lapis di Indonesia saat ini menghadapi masalah yang sama. "Pada masa lalu, perusahaan kayu lapis mengalami masa kejayaan satu dekade yang lalu. Produksi dari Indonesia merupakan yang terbaik di mancanegara. Sekarang kalah bersaing dengan negara lain. Bahkan, perusahaan-perusahaan kayu lapis pada akhirnya akan mati," katanya.
Di Kaltim, kata dia, produksi PT BFI bukan satu-satunya yang mengalami hal ini.
Pertemuan Asosiasi Panel Kayu Indonesia (Apkindo) menemukan bahwa perusahaan-perusahaan lain di Bumi Etam juga mengeluhkan hal yang sama. “Ada yang mau beli tetapi dengan harga murah. ‘Kan ini tidak cocok dengan ongkos produksi dan modal usaha. Di Indonesia kayu mahal, kebijakan pemerintah ketat, dan tentu saja kalah bersaing dengan produk asing yang padat teknologi sementara di sini masih padat karya dengan tenaga banyak orang. Karena itu, di sana bisa tekan upah karena tidak melibatkan pekerja dalam jumlah banyak, sehingga berpengaruh pada harga jual plywood yang bisa murah,” tuturnya.
Dampak ditimbulkan dari permasalahan ini, kata dia, perusahaan sejak September 2020 telah melakukan pengurangan jumlah karyawan secara bertahap hingga tahun ini. Kendati demikian, lanjut dia, perusahaannya masih mampu memenuhi kewajiban pembayaran untuk tunjangan hari raya (THR) keagamaan kepada para karyawannya tersebut pada 2023 ini. “Iya, kami masih berusaha untuk tetap bisa bertahan,” kata Arifin. (far)
ARI ARIEF
ari.arief@kaltimpost.co.id