Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Toleransi di Namibia, Meksiko Dirasa Tak Nyaman

izak-Indra Zakaria • Kamis, 30 Maret 2023 | 14:45 WIB
Photo
Photo

Dodo menjalani puasa di anjungan pengeboran minyak. Salat, berbuka, dan Tarawih hanya dilakukan di kamar.

ARI ARIEF, Penajam

ari.arief@kaltimpost.co.id

 

Dodo, warga yang pernah tinggal di Penajam, Penajam Paser Utara (PPU), dan kini menetap di Jakarta, sudah berkali-kali merasakan pengalaman berpuasa di luar negeri. Puasa Ramadan yang merupakan rukun Islam keempat ini, selama ini hanya bisa ia rasakan di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, seperti di Arab Saudi. Kali ini, Dodo berpuasa di Namibia, negara yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Lalu, bagaimana keseruannya?

“Sekarang ini saya puasa di atas rig pengeboran di Namibia. Satu-satunya orang Indonesia yang sedang melaksanakan ibadah puasa di tengah-tengah warga Negro, bule, dan non-muslim,” kata Dodo saat dihubungi Kaltim Post sekitar pukul 21.00 Wita, Sabtu (25/3) atau sekitar pukul 16.00 waktu setempat.

Dia berada di negara Afrika bagian barat daya itu sebagai pekerja perusahaan yang melayani jasa katering untuk makan dan minum karyawan pengeboran minyak dan gas lepas pantai.

“Iya, namanya puasa di negara non-muslim saya hanya berbuka puasa di kamar, salat di kamar, dan termasuk salat Tarawih berjamaah bersama satu teman yang sama-sama dari Indonesia,” ujarnya.

Jadi, pekerja lain yang berasal dari negara non-muslim tidak mengetahui bahwa dia dan temannya berpuasa. Ia mengatakan, sahur sekitar pukul 05.00 pagi dan buka puasa pada pukul 19.15 malam waktu setempat. "Di sini, salat Subuh dilakukan pukul 05.55 pagi waktu Namibia," jelasnya.

Dodo mengatakan bahwa dia adalah seorang pekerja kontrak dengan jadwal satu bulan bekerja dan satu bulan libur. Ia berencana kembali ke Indonesia pada akhir bulan setelah kontraknya berakhir bulan ini.

Selain berpuasa, dia mengungkapkan pengalamannya melakukan penerbangan yang sangat panjang. "Saya terbang dari Jakarta-Bangkok-Ethiopia di Addis Ababa, dan dari sana ke Namibia. Total waktu perjalanan udara saja belasan jam non-stop," katanya.

Ia memerinci, Jakarta-Bangkok memakan waktu sekitar delapan jam. Lalu Bangkok-Ethiopia sekitar 12 jam. Dan Ethiopia-Namibia sekitar enam jam. “Namibia ke rig pengeboran dengan helikopter,” tuturnya.

Dodo melanjutkan, saat berada di anjungan pengeboran, dia bertemu dengan sesama muslim dari negara lain, seperti Senegal, dan ada beberapa pekerja muslim lainnya dari Afrika. "Mengenai toleransi, tidak ada masalah antara muslim dan non-muslim. Mereka bertanya kepada saya apakah saya berpuasa, tapi begitu mereka tahu, mereka baik-baik saja," jelasnya. “Ya, intinya asyik-asyik saja, tidak ada yang ngerecokin,” tambahnya.

Ia bekerja untuk mempersiapkan makan dan minum para pekerja di rig pengeboran Bollsta. Rig pengeboran lepas pantai Deepsea Bollsta berasal dari Northern Ocean dan memulai kontrak Shell di Namibia pada 2019. Rig pengeboran dikelola oleh kontraktor pengeboran Norwegia Odfjell Drilling, yang juga menyiapkan rig untuk kontrak tersebut. Rig tersebut sebelumnya dikelola oleh Seadrill, dengan nama West Bollsta.

Selain puasa di Namibia saat ini, Dodo menceritakan pengalamannya puasa di Arab Saudi. “Di sana saya bekerja di kapal, dan ditempatkan di daerah Dammam, panasnya minta ampun. Alhamdulillah, puasa hingga Lebaran dapat dilalui dengan baik di sana. Kontrak setengah tahun, dan langsung pulang,” bebernya.

Ia mengungkapkan, di Dammam sangat minim fasilitas. Ia menyebut, untuk berinternet ia harus beli paket data yang harganya sangat mahal.

Lain di Arab Saudi dan Namibia, lain pula pengalamannya menjalankan puasa Ramadan di Meksiko. Di negara Amerika Utara berbatasan dengan Amerika Serikat, Guatemala, dan Belize di sebelah tenggara, Samudra Pasifik di barat dan Teluk Meksiko dan Laut Karibia di sebelah timur, itu ia mendapatkan perlakuan kurang mengenakkan dari warga setempat.

“Pokoknya ngenes. Saya membatalkan diri untuk puasa. Ya, tidak nyaman untuk dikenang. Saya bertahan dua bulan bekerja di sana, dan kemudian minta pulang duluan,” katanya.

Perlakuan yang dia maksud, lanjut dia, diakuinya tidak sampai menyentuh fisik, tetapi lebih kepada bentuk sinisme. Bahkan, ia tidak mendapatkan ruangan pada saat naik kapal laut untuk menuju daratan yang kemudian menghubungkannya ke bandara setempat. “Saya terpaksa tidur depan toilet kapal,” katanya mengakhiri kisahnya kepada koran ini. (dwi/k8)

Editor : izak-Indra Zakaria