JAKARTA–Sakit hati. Itulah pernyataan pertama yang keluar dari mulut pelatih tim nasional U-20 Indonesia Shin Tae-yong (STY) setelah mendengar kabar Piala Dunia U-20 batal terselenggara di Indonesia. Persiapan yang dirancang dalam tiga tahun terakhir berantakan. Pelatih asal Korea Selatan tersebut sangat kecewa. Padahal, Piala Dunia U-20 bisa membuat sepak bola Indonesia lebih maju. ”Saya pernah tampil di Piala Dunia U-20 2017 Korea Selatan. Lewat Piala Dunia U-20, ada perkembangan luar biasa. Sayang, itu tidak bisa digelar di sini. Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi,” ucapnya di Hotel Sultan, Jakarta, (30/3).
Kegagalan Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 berdampak terhadap mental para pemainnya. Semua pemain sangat terpukul. Apalagi, STY mengamati langsung kerja keras seluruh pemain. ”Semuanya terlihat sangat lelah. Padahal, kepercayaan diri para pemain sedang meningkat setelah tampil di Piala Asia U-20 Uzbekistan. Semua pemain kecewa dan sedih,” ungkap dia. Lantas, bagaimana nasib timnas U-20 setelah ini? Jika dipaksakan terus berlatih, kata STY, sulit membuat suasana tetap normal. Karena itu, dia akan memutuskan setelah Ketua Umum PSSI Erick Thohir tiba di Jakarta. ”Saya ingin membuat para pemain stabil,” terang pelatih timnas Korea Selatan pada Piala Dunia 2018 Rusia tersebut.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum PSSI Zainudin Amali meminta timnas U-20 tetap tenang. PSSI akan menunggu kedatangan Erick untuk menentukan langkah selanjutnya. ”Saya menyampaikan permohonan maaf kepada STY, manajer tim, dan terutama anak-anak. Mereka harus kehilangan mimpi untuk bisa bermain di Piala Dunia,” ucap Amali. Mantan menteri pemuda dan olahraga (Menpora) itu memuji etos kerja STY. Menurut dia, mantan asisten pelatih Queensland Roar tersebut sudah bekerja keras menempa para pemain U-20. ”Sekarang, saya minta STY bersabar dulu. Tolong jangan ambil keputusan apapun,” tegas pria asal Gorontalo tersebut.
Sementara itu, Presiden Joko Widodo menyatakan telah mendapat laporan dari Erick Thohir terkait pembatalan Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 oleh FIFA. Jokowi mengajak semua pihak menghormati keputusan tersebut. ”Saya tahu keputusan ini membuat masyarakat kecewa. Saya pun sama, juga merasakan hal itu, kecewa dan sedih. Tapi, jangan menghabiskan energi untuk saling menyalahkan satu sama lain,” katanya. Kepala negara meminta momen itu dijadikan pelajaran bagi persepakbolaan nasional. Jokowi juga meminta kepada Erick berupaya maksimal agar sepak bola Indonesia tidak terkena sanksi. Termasuk kesempatan untuk menjadi tuan rumah event internasional lainnya.
Terpisah, Plt Menpora Muhadjir Effendy mengatakan, meski diliputi rasa kecewa, pihaknya meminta program untuk memperbaiki kinerja sepak bola Indonesia tetap berjalan. Juga, fokus menyiapkan multievent yang sudah menunggu seperti SEA Games dan Asian Games. ”Kita harus siapkan seluruh tim. Termasuk tim sepak bola kita,” ujarnya. Di sisi lain, Komite Olimpiade Indonesia (KOI) menyebutkan, penyelenggaraan ANOC World Beach Games sampai saat ini tetap direncanakan sesuai jadwal. Yakni, 5–12 Agustus 2023.
Ketua Umum KOI Raja Sapta Oktohari menyatakan, pihaknya bersama 67 anggota cabang olahraga bersepakat memegang teguh Olympic Charter atau Piagam Olimpiade. Di dalamnya terdapat aturan tidak diperbolehkannya diskriminasi dalam aktivitas olahraga. Pria yang akrab disapa Okto itu melanjutkan, sebagai negara besar yang tergabung dalam G7 dan G20, tujuan pihaknya jelas. Yakni, mengumandangkan nama Indonesia di seluruh dunia. Karena itu, dia menegaskan, jangan sampai Indonesia dikerdilkan dalam pergaulan olahraga internasional karena melakukan diskriminasi di olahraga. ”Terutama kepada atlet. Olahraga adalah aktivitas independen yang mengedepankan sportivitas, respek, dan persahabatan,” ucapnya. (fiq/wan/lyn/raf/c7/fal/jpg/riz/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria