Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Puteri Keraton

uki-Berau Post • Senin, 3 April 2023 - 16:14 WIB
-
-

SOAL nama kue yang dijajakan di Pasar Ramadan, bermacam-macam. Juga dengan latar belakang penamaannya.

Sepuluh hari puasa ini, saya belum melihat yang namanya kue janda. Kue yang juga punya kisah sendiri di daerah asalnya. Ramadan tahun lalu, saya temukan di salah satu penjual kue yang ada di Sambaliung.

Saya masih ingat. Penjualnya perempuan paruh baya. Mulanya saat saya tanyakan nama kuenya, dia tidak langsung menyebutkan. Dia memandang ke arah saya sambil tersenyum. Ini kue janda namanya, kata si penjual.

Dari situlah saya baru tahu yang namanya kue janda. Padahal kue itu sering saya nikmati setiap ke warung kopi di Makassar. Tapi tidak pernah bertanya namanya. Hanya tertarik warnanya yang pink.

Di Pasar Ramadan halaman Masjid Agung Baitul Hikmah, dari pengamatan berkeliling ke semua petak, hanya ada dua yang jualan kue janda. Itu pun tidak banyak jumlahya.

Sore Minggu (2/4) kemarin, saya sebetulnya mau berbelanja kue bingka yang jualan di tepian Jalan Pulau Derawan. Seingat saya, sudah tiga Ramadan dia berjualan di tempat yang sama. Tak jauh dari Masjid Raya.

Setiap sore selalu diserbu pembeli. Memang enak, bisa membawa pulang kue bingka yang masih panas-panas. Yang jualnya juga cantik-cantik. Harganya tidak terlalu mahal, hanya Rp 20 ribu per satu kemasan.

Sebelumnya saya pernah datang. Karena antrean panjang, saya terpaksa membeli bukan bingka yang baru masak dan panas-panas. Mungkin harus datang lebih awal, begitu pertanyaan saya dalam hati.

Kalau sabar menanti sebetulnya tak masalah. Bisa sekalian menyaksikan bagaimana proses memasak kue bingka yang warna hijau dan warna kuning. Bisa juga sambil tanya-tanya berapa omzetnya setiap hari. Sambil menunggu saat berbuka di tepian sungai.

Alhasil, karena saya datang terlalu awal, gerobak penjual bingkanya belum datang. Yang mau belanja juga belum ada. Mungkin karena mereka tahu jadwal jualannya. Sementara saya sebaliknya.

Terpaksa batal buka puasa dengan bingka panas. Saya lanjut ke Jalan Panglima Batur. Di tempat itu bingkanya juga dibuat sendiri. Karena beda koki, tentu beda rasa. Saya beli saja bingka yang ditaburi irisan nangka. Tak dapat bingka tepian, dapat bingka Panglima Batur tak apalah.

Nah, di Jalan Panglima Batur inilah jumpa dengan kue yang saya baru tahu namanya. Itu wadai puteri keraton ngarannya, kata sang penjual yang bapak-bapak. Dalam satu kemasan, ada dua irisan kue yang nampak teksturnya lembut. Ini toh yang namanya kue puteri kraton, kata saya.

Kue puteri keraton ini menurut teman-teman, awalnya dikenal di Kalimantan Selatan. Kue yang pembuatannya sangat sederhana dengan bahan utamanya adalah biskuit. Karena menggunakan biskuit itulah, sehingga tampilannya lembut. Mungkin karena lembutnya itu diberi nama puteri kraton.

Malam hari Diskusi Ramadan di warung pojok, masih terus berlangsung. Setelah malam sebelumnya mendiskusikan rapat antara Pak Machfud MD dengan komisi III DPR-RI, Malam minggu lalu, yang menjadi bahan diskusi soal batalnya Piala dunia U-20.

Padahal menurut Pak Iwan, kalau jadi piala dunia U-20, selain menjadi tontonan berkualitas, juga akan tercatat dalam sejarah. Tapi mau diapa lagi, putusannya sudah begitu. Dan sepakbola Indonesia hanya sampai di level Asian Games.

Tak usah memikirkan yang berat-berat. Cukup yang ringan-ringan saja. Bagaimana Tunjangan Hari Raya (THR) bisa cair dan gaji 13 juga bisa segera diterima. Begitu kata Pak Muransyah, pensiunan polisi yang InsyaAllah tahun ini akan menunaikan ibadah haji.

Menunggu bedug berbunyi. Menunggu azan Magrib berkumandang dan siap-siap es kelapa muda dan sirop DHT. Termasuk hue puteri keraton yang saya beli di Jalan Panglima Batur. (*/sam)

@cds_daengsikra

Editor : uki-Berau Post
#Catatan