Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Dari Debu hingga Bau Badan, Asma, Penyakit Kronis yang Berpotensi Serius

izak-Indra Zakaria • 2023-05-06 21:29:42
dr Subagyo
dr Subagyo

Data Kementerian Kesehatan di 2020, ada 4,5 persen atau sekitar 12 juta orang di Indonesia menderita asma.

 

M RIDHUAN

mad.dhuan@gmail.com

 

TAHUN 2.600 sebelum Masehi, sebuah kitab kuno dari Tiongkok ditambah catatan peradaban Mesir kuno sudah menyebut sebuah penyakit sesak napas. Hingga pada 100 Masehi, seorang dokter Yunani kuno bernama Aretaeus dari Cappadocia menyusun definisi rinci tentang asma yang serupa dengan pemahaman modern tentang bagaimana penyakit ini berkembang. Dokter Spesialis Paru RS Pertamina Balikpapan (RSPB) dr Subagyo menjelaskan, asma merupakan penyakit yang semakin meluas di dunia. Termasuk Indonesia.

Berbagai faktor, seperti lingkungan sampai ras, menjadi pemicu prevalensi asma. Seperti di Selandia Baru, 13,5 persen penduduknya berisiko menderita asma. Menjadi yang tertinggi di dunia. Sementara terendah ada di India, dengan 3,7 persen penduduknya berisiko menderita asma. "Indonesia di tiap provinsi pun berbeda. Dan angkanya naik turun. Dengan rata-rata itu 7,5 persen. Artinya ada 7 dari 100 orang berisiko memiliki asma. Secara keseluruhan, data terakhir Kementerian Kesehatan di 2020, ada 4,5 persen penduduk Indonesia atau 12 juta orang," ucap Subagyo kepada Kaltim Post.

Subagyo menegaskan, asma pada dasarnya adalah penyakit alergi. Paling sering diturunkan dari orangtua kepada anak, sehingga potensi asma selalu ada. Tinggal bagaimana asma itu muncul. Dan kondisi tersebut sangat bergantung pada pencetus. Bisa jadi, seumur hidup seseorang dengan bawaan asma tidak akan kambuh jika tidak bertemu pencetusnya. Sebaliknya, ada yang sejak dini sudah menderita asma karena bertemu pencetusnya.

"Jadi, awal seseorang dengan risiko bisa terserang asma karena menunggu adanya pencetus. Contoh seorang pasien saya. Dia ada risiko karena keturunan. Lahir di Malang, dari lahir sampai dewasa tidak pernah kena asma. Tetapi begitu dia pindah dan bekerja di Kaltim, dia mulai kena asma. Pulang ke Malang tidak pernah kambuh. Balik ke Kaltim kambuh. Ternyata faktor pemicunya adalah debu batu bara. Dia kerja di tambang batu bara," jelasnya.

Subagyo pun menemukan kasus seorang istri selalu kambuh asmanya ketika bertemu sang suami. Kasusnya, sang suami jarang di rumah karena pekerjaannya di lokasi. Sehingga setiap pulang dan keduanya bertemu, sang istri selalu terserang asma. Analisis demi analisis pun dilakukan, hingga keluar hasil. Asma si istri kambuh karena bau badan sang suami. "Jadi solusi yang diberikan adalah si suami begitu baru pulang dari lokasi, harus bersih-bersih dulu sebelum bertemu istrinya. Mandi dan memakai deodoran. Karena pemicu asma sang istri adalah bau badan si suami," ungkap Subagyo.

Pencetus juga tidak hanya berasal dari debu atau sesuatu yang masuk ke saluran pernapasan. Makanan pun bisa menjadi pencetus. Namun yang perlu dipahami, masing-masing orang dengan asma memiliki pemicu berbeda. Jadi seseorang tidak bisa menyimpulkan, dia tidak boleh memakan makanan yang oleh penderita asma lainnya "haram" untuk dikonsumsi. "Pasien saya pernah mengeluhkan tidak bisa makan sampai 20 jenis makanan setelah bertanya kepada 20 orang sesama penderita asma. Karena dianggap sebagai pemicu. Padahal masing-masing berbeda pemicunya. Kalau dia sampai dia bertanya ke 50 orang, dia mau makan apa?" ujarnya.

Ada juga pemicunya karena cuaca. Baik saat dingin atau panas. Ada juga dipicu karena kondisi emosional. Misal ketika dia menangis atau tertawa. Sehingga seseorang dengan kondisi asma tidak bisa menyamakan faktor pemicu yang dimilikinya dengan orang lain.

Lantas bagaimana seseorang tahu faktor pemicunya? Subagyo menyebut, dalam perkembangannya ada tes yang bisa dilakukan.

Seperti tes yang dilakukan pada kulit untuk mengetahui alergi seseorang, maka untuk mengetahui pencetus asma bisa dilakukan bronchial provocation test. Memasukkan berbagai zat melalui saluran pernapasan hingga ditemukan zat yang menjadi pemicu asma pada seseorang. "Namun, tes ini tidak semua tempat ada. Dan harus diawasi dengan berbagai alat yang bisa membantu menangani pasien jika zat pemicunya ketemu. Kalau tidak, risikonya bisa berat. Makanya ini jarang dilakukan karena risikonya yang tinggi," ujarnya.

Teranyar, Subagyo menyebut Kaltim akan memiliki program pendidikan dokter spesialis paru di Fakultas Kesehatan Universitas Mulawarman (Unmul) di Samarinda. Yang di dalamnya, memiliki laboratorium yang memiliki alat-alat untuk melaksanakan bronchial provocation test. Karena itu yang paling efektif mengetahui faktor pemicu asma adalah pengalaman pasien. Ketika datang berobat, dokter akan bertanya kepada pasien, dalam kondisi, situasi atau sedang mengonsumsi apa sehingga dirinya tiba-tiba terkena asma.

Dari riwayat itu, pasien diminta untuk menghindarinya. Lebih jauh, selalu membawa obat asma. "Saat ini ada dua cara pengobatan. Konsumsi obat dengan diminum dan dengan cara dihirup. Obat yang diminum ini bekerja cukup lambat. Untuk mengobati paru-paru, obat harus masuk dulu ke saluran pencernaan kemudian ke jantung yang memompa darah ke paru-paru. Akhirnya untuk menyembuhkan paru-paru, semua bagian tubuh terkena obat itu," jelasnya.

Kemudian dalam perkembangannya, muncul obat bersifat lokal. Yang kini awam disebut inhaler. Sebagai pengobatan yang langsung bekerja di paru-paru sehingga efeknya kerjanya cepat, justru ironisnya, kata Subagyo, penderita asma kebanyakan justru menghindari inhaler ini. "Seperti Mas, pas sakit minum obat yang tiba-tiba membuat Mas sembuh. Pasti takut dong. Nah pasien asma ini takut jika inhaler ini mengandung sesuatu zat yang dosisnya tinggi dan punya efek samping berbahaya. Padahal tidak, kan ini langsung ke sasaran," tambahnya.

Karena itu, Subagyo menyarankan kepada penderita asma untuk lebih memilih, memiliki dan membawa inhaler. Tentu dengan dosis sesuai petunjuk dokter. Apalagi ketika seorang terserang asma, kecepatan mendapatkan obat akan menentukan kondisi orang tersebut. Jika terlambat, ada potensi asma yang diderita bertambah parah hingga mengakibatkan kematian. "Misal dulu asmanya ringan. Tapi karena lambat konsumsi obat akhirnya jadi asma berat. Sebelumnya yang setiap terserang cukup datang ke dokter lalu pulang, meningkat ke UGD lalu dirawat. Eh menunda lagi (berobat), meningkat lagi dari UGD ke ICU. Sampai akhirnya ke ICU enggak merespon (meninggal)," tuturnya.

Meski asma merupakan penyakit yang tidak bisa disembuhkan, namun Subagyo menegaskan asma bisa dikendalikan. Bahkan pasien tidak akan pernah kambuh. Asal pasien mampu menghindari pemicunya. Namun terpenting, selalu membawa obat kemanapun penderita pergi. Karena tidak ada yang bisa mencegah dan menyadari jika pemicu tersebut datang. "Penderita asma juga jangan pasrah. Karena sudah banyak penelitian, di mana ada kelompok penderita asma. Satu kelompok hanya diberikan obat, sementara kelompok lain diberikan obat ditambah senam asma. Hasilnya kelompok yang melaksanakan senam asma kondisinya lebih sehat dan jarang kambuh dibandingkan kelompok sebelumnya," ucapnya. Dan dengan pengobatan dan olahraga rutin, ada potensi bisa menurunkan tingkat keparahan asma.

(riz/k16)

Editor : izak-Indra Zakaria