Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Tetap Ujian meski Harus Terjang Banjir

uki-Berau Post • Kamis, 11 Mei 2023 - 00:47 WIB
TETAP ANTUSIAS: Sejumlah peserta didik tetap antusias hadir untuk melaksanakan ujian, meski harus menembus banjir dari rumah menuju sekolah.
TETAP ANTUSIAS: Sejumlah peserta didik tetap antusias hadir untuk melaksanakan ujian, meski harus menembus banjir dari rumah menuju sekolah.

SEGAH - Kampung Long Ayan menjadi salah satu yang kini terendam banjir. Meski begitu, tak mengendurkan semangat para tenaga pengajar serta peserta didik di SD Negeri 001 Long Ayan untuk tetap melaksanakan ujian.

Namun, meski kondisi ini cukup sering terjadi, namun rasa khawatir kata Wakil Kepala SD Negeri 001 Long Ayan, Muchlis Noor, tetap menghantui mereka dan para peserta didik. Bagaimana tidak, di jalanan banjir yang terjadi diperkirakannya sudah setinggi 1,4 meter, sudah mencapai batas lehernya.

“Di rumah saya yang kebetulan berdekatan dengan sekolah itu di halaman sudah seleher saya,” kata Muchlis kepada Berau Post, melalui sambungan telepon, Selasa (9/5).

Katanya, hal seperti ini bisa terjadi menimpa sejumlah kampung di sana 4-5 kali dalam satu tahun. “Kami tidak hanya mengajar, kalau keadaan sudah seperti ini kami harus siap. Kami sebagai guru, juga dipaksa harus memiliki kemampuan tanggap bencana,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Bagaimana tidak, jika keadaan serupa terjadi, maka Muchlis bersama ke-13 rekan guru lainnya mulai mengatur langkah dan strategi. Mengamankan aset pembelajaran merupakan hal pertama yang dilakukan, kemudian para guru harus lebih mengawasi para murid agar sampai di rumah atau setidaknya melihat mereka telah dijemput oleh orang tuanya.

“Para orang tua juga ketika air sangat tinggi mereka akan menunggu di atas perahu (ketinting) menunggu anak-anaknya selesai mengikuti pembelajaran,” jelasnya.

Pria yang telah mengabdikan dirinya di Long Ayan selama 18 tahun ini juga menjelaskan, karena ini bukan kali pertama terjadi, para guru, murid, dan orangtua telah paham dan akhirnya harus terbiasa dengan situasi dan kondisi yang ada.

“Kami dengan dewan guru tetap laksanakan tugas dengan kondisi seperti ini. Tentu skala prioritas adalah keamanan dan keselamatan para murid,” terangnya.

Pelaksanaan Ujian Sumatif kali ini menurutnya tertolong dengan bentuk bangunan sekolah yang merupakan rumah panggung, tidak langsung menyentuh tanah, sehingga banjir tidak begitu parah di dalam kelas.

“Model sekolah ini panggung, kebetulan ada yang rendah dan tinggi. Ujian kemarin dilaksanakan di ruangan yang bangunannya tinggi, sehingga air tidak masuk ke dalam,” terangnya.

Dengan kejadian ini, dirinya berharap pemerintah bisa memberi perhatian lebih. Seperti melengkapi penyediaan bangunan sekolah baru yang terletak di dataran lebih tinggi. Sebab, saat ini hanya ada tiga ruangan yang dapat digunakan untuk belajar saat banjir melanda.

“Sudah ada upaya pemerintah dibangunkan (sekolah) di atas gunung. Namun, fasilitas penunjangnya tidak ada, air tidak ada, akses halaman dan sebagainya belum siap,” terangnya.

Sehingga, mereka kini memilih menempati gedung lama dengan fasilitasnya yang ada meski harus siap dengan kondisi banjir yang datang sewaktu-waktu. Sebagai seorang guru, tidak ada yang bisa dilakukannya selain menjalankan kewajiban dan mengusulkan pembangunan dilanjutkan.

“Kami sudah mau apalagi, kami hanya bisa mengusulkan saja. Sebagai tuntutan profesi, ini tugas kami,” sambungnya.

Dirinya berharap, perhatian lebih bisa didapatkan di sekolahnya. Sehinga murid-muridnya juga bisa merasakan mendapatkan pendidikan di sekolah dengan fasilitas yang sama seperti sekolah-sekolah di wilayah perkotaan.

Terpisah, Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Berau, Dahry, menjelaskan, bahwa Dinas Pendidikan sendiri pada tahun 2022 kemarin telah membangun sarana pendidikan yang baru bagi SD Negeri Long Ayan 001 berdasarkan permintaan kampung dan masyarakat.

“Secara kasat mata, tanah yang dihibahkan tidak kebanjiran memang kalau dinilai belum maksimal, saya mengakui itu,” terang Dahry.

Namun hal itu itu ditegaskannya bukan karena kurangnya perhatian pemerintah, akan tetapi lantaran penerapan Sistem Informasi Pemerintah Daerah (SIPD) menjadikan pembangunan tidak lagi menjadi satu dengan pengadaan barang serta kebutuhan di dalamnya.

“Kalau untuk Long Ayan ini rencananya tahun ini mengisi meja belajar mebelernya, untuk lanjutan fisiknya belum ada tahun ini,” pungkasnya. (*/sen/sam)

Editor : uki-Berau Post
#pendidikan