SUARA guntur menggelegar. Suara yang sama disusul hujan lebat pekan lalu. Sejumlah fasilitas di Bandara Kalimarau rusak. Kalau soal genangan, itu sudah biasa.
Saya tidak menulis soal genangan dan rusaknya fasilitas di bandara akibat hujan lebat pekan lalu. Tapi, ingin tahu apa yang dibicarakan di semua warung kopi di hari Kamis (11/5) kemarin.
Terrnyata temanya seragam, soal siapa saja yang daftar sebagai calon legislatif. Banyak figur yang mereka belum tahu. Karena memang daftarnya belum final di KPU. Mereka mengenal, setelah melihat dari baliho yang bertebaran di mana-mana.
Saya tidak muncul ke warung pojok kemarin. Memilih bergabung dengan teman-teman pengopi di warung Mba Sri di Jalan Niaga. Ada pemuda mengenakan jas warna gelap berdasi merah. Lalu menawarkan sesuatu ke Pak Tek Eng yang duduk di teras dekat trotoar.
Pemuda itu membawa alat seperti laptop. Lalu ada kabel yang ujungnya besi seperti jarum besar. Berulang-ulang meletakkan di telapak tangan Pak Tek Eng. Setiap lampu menyala, pemuda itu menyebut ‘masalah’ yang ada di badan Pak Tek Eng.
Pak Tek Eng itu usianya lebih 70 tahun. Lalu disebutlah, ada masalah pada tulang kaki. Masalah dengan asam uratnya. Masalah dengan penglihatannya, hanya dengan membaca sinyal yang ditimbulkan oleh alat itu. “Pak Daeng periksa juga?” saya hanya ketawa.
Saya jadi waswas. Bagaimana tingkat akurasi alat itu yang diterjemahkan dari lampu yang bekedip. Apakah ada sertifikat yang dimiliki oleh sang pemuda itu. Sehingga dengan mudah menyebutkan masalah yang ada di tubuh seseorang.
Ada cerita teman yang baru bergabung di warung kopi kilo lima, ramai membahas soal sibuknya para calon anggota legislatif memeriksa kesehatan badan dan jiwa . Soal nama-nama yang ikut terdaftar sebagai caleg partai. Bahkan sudah bisa memprediksi siapa-siapa saja yang akan lolos.
Bukan hanya memprediksi, tapi sekalian melakukan evaluasi para anggota partai yang duduk di gedung dewan selama empat tahun terakhir. Mereka menyebut banyak nama yang hampir tak pernah terlihat. Beda ketika akan maju. Mereka itu sudah diberi garis merah.
Para penikmat kopi juga berkata jujur. Ia mengaku para figur yang sering terlihat di lapangan bersama warga. Khususnya warga yang ada dalam wilayah daerah pemilihannya. “Kalau mau terpilih lagi, harus tampil di masyarakat” kata mereka.
Mereka mengingatkan kepada para wajah baru, agar jangan berkecil hati. Peluang tetap besar dengan mempelajari dengan cermat apa yang berkembang di masyarakat. “Jangan ciut dengan mereka yang punya modal besar,” kata mereka.
Wajah lama, kata mereka, ada penilaian tersendiri. Mereka yang tidak aktif selama menjadi anggota dewan, tidak aktif menyuarakan aspirasi pemilihnya. Siap-siap, mereka akan ditinggal oleh yang memilihnya dulu. Peta situasi itu yang harus dicermati dengan baik, tambahnya.
Bagi saya, kepada semua wajah-wajah baru yang akan tampil, tetaplah semangat. Warga akan memberikan dorongan. Tidak usah berkecil hati, hanya karena isi tas yang tidak banyak. Banyak warga yang berharap akan banyak wajah baru di gedung DPRD.
Hujan reda menjelang sore. Seperti biasa, saya memanfaatkan beberapa saat untuk sekadar berjalan cepat di sekitar rumah hingga di sekitar kantor perpustakaan. Kegiatan rutin setiap pagi dan sore. Tiak jauh-jauh seperti yang dilakukan teman saya Song, yang keliling Tanjung Redeb setiap hari.
Sambil jalan itu, bisa mencermati aktivitas warga. Mulai yang jualan dan para penikmatnya. Pertigaan jalan dengan dermaga wisata, terbilang jalur sibuk dan rawan kecelakaan. Jadi, memang harus ekstra hati-hati.
Lalu, saya tertarik melihat ke arah trotoar, ada sekelompok warga yang mengelilinggi seorang perempuan muda yang membawa tas plastik di tangannya. Rupanya, wanita itu menawarkan jamu pada warga yang usianya di atas 60 tahun. Hehe, sama dengan saya.
“Ini jamu sakit-sakit badan,” kata wanita itu. Tak lama, mengeluarkan lagi jenis lain dengan manfaat beda. “Kalau ini, jamu mengatasi asam urat,” kata dia lagi. Nah, jamu yang terkahir itu, yang bikin semangat. “Ini jamu sehat lelaki, pokoknya hebat,” katanya sambil promosi.
Saya hanya ketawa. Mereka memandang saya. Mungkin berharap ada komentar. Saya hanya diam saja. Sambil memperhatikan kemasan jamu yang dimaksud wanita itu. “Saya nyari jamu kuat jalan,” kata saya sambil berlalu. @cds_daengsikra. (*/sam)
Editor : uki-Berau Post