Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia dan Peran Menjaga Asa Penderita Gangguan Mental

izak-Indra Zakaria • Sabtu, 10 Juni 2023 - 17:58 WIB
KPSI saat menggelar kegiatan bersama.
KPSI saat menggelar kegiatan bersama.

KPSI memberikan edukasi sekaligus menciptakan situasi lingkungan yang membantu pemulihan penderita skizofrenia. Sebagian penyintas atau keluarga mereka kini beralih menjadi edukator.

 

FOLLY AKBAR, Jakarta

 

TAK tebersit di benak Osse Kiky jalan hidupnya menikung begitu tajam. Dari seorang pengidap skizofrenia atau gangguan jiwa kini justru menjadi edukator bagi penderita maupun publik secara umum.

Tikungan hidup yang bahkan memberangkatkannya ke berbagai kota, sampai ke Manchester, Inggris, sana. Termasuk mendatangkan banyak tambahan pengetahuan serta pengalaman.

Lompatan hidup Osse itu tak lepas dari peran Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI), sebuah komunitas yang dia kenal sejak 2012. Tahun ketika dia harus berjuang melawan penyakit mental yang membuatnya seperti orang tidak waras.

”Pada awalnya yang aktif (di KPSI) almarhum ayah saya,” ujarnya kepada Jawa Pos pada pengujung Mei lalu (31/5).

Sang ayah, lanjut dia, adalah sosok yang paling getol berikhtiar menyembuhkan dia. Ketika menjalani pengobatan di sebuah pusat kesehatan, ayahnya secara kebetulan mendengar KPSI dari pengunjung lain saat antre.

Dari situ sang ayah mengetahui ada komunitas yang mengumpulkan dan mengedukasi penderita skizofrenia. Sebuah iklim lingkungan yang dibutuhkan Osse.

Sebelumnya, salah satu tantangan besar yang dialami Osse adalah konsistensi meminum obat. Padahal, obat bagi penderita skizofrenia sangat krusial. ”Jadi sering kambuh,” ceritanya.

Dengan bantuan lingkungan KPSI, kebiasaan buruk itu perlahan bisa dihilangkan. Kesadaran dan semangat untuk sembuh terus dipupuk. Hingga akhirnya Osse bisa hidup normal, bahkan sanggup berbagi manfaat bagi penderita lain. Atas dasar itu, pria paro baya tersebut memutuskan untuk terlibat aktif dan ikut membantu menyembuhkan penderita lain bersama KPSI.

KPSI didirikan Bagus Utomo, seorang warga Jakarta yang aslinya berlatar belakang pustakawan dan peneliti. Meski tak pernah mendapat pendidikan formal terkait kejiwaan, Bagus kenyang pengalaman di bidang itu. Pengalaman didapat dari belasan tahun interaksinya merawat sang kakak yang mengidap skizofrenia sejak 1995.

Bagus sukses menyembuhkan sang kakak berkat mempelajari dengan tekun penyakit tersebut. Juga mengikuti metode penyembuhan yang tepat.

”Saya mikir, sayang sekali kalau pengetahuan ini tidak dibagikan,” kata Bagus dalam perbincangan terpisah dengan Jawa Pos.

Apalagi, banyak orang yang tidak mengetahuinya. Dari situ, dia mulai rajin berbagi di internet melalui blog. Kemudian, komunitas pun terbangun lewat jejaring terbatas. Seiring kemajuan teknologi, komunitas beralih ke Facebook hingga akhirnya bertransformasi secara lebih besar dengan membentuk sekretariat, bahkan sampai ke daerah-daerah.

Bagus menuturkan, penderita gangguan jiwa di Indonesia cukup banyak. Sayangnya, belum banyak di antara mereka atau lingkungan terdekatnya yang teredukasi. Imbasnya, penderita tidak tertangani secara benar.

Bahkan, sebagian mengambil langkah ekstrem dengan mengurung atau malah memasungnya. Yang lebih parah, ada juga yang membuang serta membiarkannya berkeliaran.

Padahal, layaknya penyakit, mayoritas penderita gangguan jiwa juga bisa disembuhkan jika ditangani. ”Hanya satu pertiga yang mungkin tidak bisa disembuhkan,” imbuhnya.

Nah, KPSI hadir untuk memberikan pemahaman tersebut. Peran komunitasnya, lanjut dia, lebih fokus pada edukasi. Sementara itu, secara medis, yang melakukan tetap penyedia layanan kesehatan.

Dalam kaitan dengan edukasi, KPSI menjadi wadah saling berbagi informasi dan pengalaman. Itu mengingat banyak anggota yang justru berasal dari penyintas atau keluarga yang berhasil sembuh.

Selain membuka layanan harian, KPSI mengadakan sejumlah kegiatan penunjang. Salah satu yang rutin dihelat adalah peer support yang diagendakan pada pekan ketiga setiap bulan. Di situ, penderita maupun keluarganya berkumpul untuk meng-update ataupun saling bertukar persoalan serta solusi.

KPSI juga rutin mengadakan kegiatan maupun pelatihan bagi para pengidap skizofrenia. Mulai pelatihan kreativitas, seni, hingga ke arah pelatihan keterampilan dan wirausaha. ”Untuk menjaga produktivitas para penderita,” kata Bagus.

Para penderita juga dilatih mengontrol emosi. Dengan berkegiatan, konsentrasi diharapkan meningkat dan mengeliminasi perilaku halusinasi.

Tak hanya sampai di situ, diadakannya pelatihan kewirausahaan juga bagian dari upaya kecil menyiapkan masa depan. Sebab, sebagian penderita harus kehilangan pekerjaan maupun sumber mata pencaharian akibat penyakit tersebut.

Semua kegiatan itu, kata Bagus, dilakukan secara swadaya anggota. Dia pun berharap cara pandang terhadap penderita skizofrenia, terutama di lingkungan terdekat, diubah. Jangan sampai mereka dikucilkan, justru harus didukung.

Seperti dulu Osse didukung penuh sang ayah yang akhirnya membuat jalan hidupnya menikung tajam menuju ke arah yang lebih baik. Tidak hanya telah sembuh, dia kini juga bisa berbagi pengetahuan dan pengalaman untuk sembuh. (*/c19/ttg)

Editor : izak-Indra Zakaria