Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Tampilkan Suasana Zaman Belanda di Kota Tua Teluk Bayur

izak-Indra Zakaria • Sabtu, 29 Juli 2023 - 22:59 WIB
WISATA SEJARAH: Pengembangan Kota Tua Teluk Bayur ditarget berjalan 2024-2025, rencananya rumah warga juga akan dibenahi untuk menciptakan suasana pada zaman Belanda.
WISATA SEJARAH: Pengembangan Kota Tua Teluk Bayur ditarget berjalan 2024-2025, rencananya rumah warga juga akan dibenahi untuk menciptakan suasana pada zaman Belanda.

TANJUNG REDEB - Pembenahan Teluk Bayur menjadi daerah wisata sejarah terus dilakukan, dalam hal ini pun disebut Kabid Pengembangan Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Samsiah Nawir, pihaknya tidak sendiri dan melibatkan Dinas Perumahan dan Pemukiman (Disperkim) Berau.

Hal itu katanya, bertujuan agar suasana Kota Tua menjadi suasana saat masa Belanda pada zaman dahulu. Menurut Samsiah, Disbudpar akan mengusulkan fasad perumahan penduduk di sekeliling Teluk Bayur biar dapat susana kota tua peninggalan Belanda.

“Fasad yakni perubahan bentuk depan rumah. Jadi bagian depan saja yang nanti akan diubah,” paparnya.

Dijelaskan Samsiah, bentuknya tidak harus sama, bangunan depan rumah diubah agar kesannya wisatawan yang berkunjung dapat merasakan masa-masa zaman Belanda pada zaman dahulu. Hal itu yang akan dijual, mengingat wisatawan di Berau pernah dijajah oleh Belanda. 

“Hanya kami sedang mendiskusikan dengan beberapa OPD terkait, apakah hanya menyeragamkan catnya saja jadi berwarna putih, atau benar-benar mengubah fasad beberapa rumah yang memang butuh perhatian, atau justru membangun fasilitas toilet umum yang juga jadi tuntutan masyarakat setempat,” katanya.

Untuk Kota Tua Teluk Bayur, ada beberapa bangunan yang akan dikelola dengan baik yakni Museum Siraja, Gedung Bioskop, Kantor Pos, dan Kamar Bola yang merupakan bangunan bersejarah peninggalan Belanda.

“Kamar Bola yang saat ini sedang direvitalisasi oleh Dinas PUPR dan akan difungsikan sebagai Museum Tambang Batu Bara,” bebernya.

Ia melanjutkan, untuk pengelolaan Museum Tambang Batu Bara nanti Disbudpar akan menunjuk Pokdarwis Steinkolen Teluk Bayur, Pokdarwisnya juga akan latih dan diajak ke Museum Batu Bara yang ada di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Hal ini menurut Samsiah, masih diusulkan di anggaran perubahan.

“Kalau target selesainya lebih baik tanya langsung ke Perkim ya. Mudahan akhir tahun kita sudah bisa melihat perubahan Kota Tua Teluk Bayur, step by step,” tutupnya.

Sementara Kadisperkim Berau, Murjani, mengatakan, untuk tahun ini belum tentu bisa dilaksanakan, meskipun dipaksakan melalui anggaran tambahan. Karena dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk mengubah depan rumah warga. “Tahun ini belum. Mungkin baru perencanaannya. Dan dianggarkan melalui ABT,” katanya.

Sedangkan untuk bangunan fisik menurut Murjani, baru bisa terlaksana pada 2024 hingga 2025. Tergantung anggaran yang diberikan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Berau tahun depan.

“Benar, kami sudah rapat dengan Disbudpar, kami bicara apa adanya mengenai anggaran juga,” tambahnya.

Dijelaskan Murjani, pengelolaan Kota Tua Teluk Bayur, bisa menelan anggaran hingga Rp 10 miliar, dan jumlah tersebut cukup besar. Namun untuk kemajuan pariwisata Berau, dan juga menaikkan pendapatan asli daerah (PAD) pihaknya akan berupaya agar pembenahan wajah Kota Tua, bisa dilaksanakan.

"Kami upayakan. Kita juga koordinasi dengan OPD lain pastinya. Agar sama-sama memajukan pariwisata Berau," tutupnya. (hmd/sam)

Editor : izak-Indra Zakaria
#ragam