Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Diduga Akibat Proyek PLTU, Permukiman di Bontang Menghilang dari Peta (2)

izak-Indra Zakaria • Jumat, 25 Agustus 2023 - 19:27 WIB
-
-

Keberadaan batu bara di PLTU Teluk Kadere benar-benar mengancam warga. Kesehatan mereka jadi terganggu.

 

SENJA perlahan mulai menampakkan diri. Tak seperti ibu rumah tangga lainnya yang sibuk memasak hidangan untuk menu berbuka puasa. Ariani justru memilih duduk di teras rumahnya di RT 15 Loktunggul, Kelurahan Bontang Lestari, Kecamatan Bontang Selatan, Bontang. Sembari menatap ke arah penampungan batu bara milik PLTU Teluk Kadere.

Lokasi stockpile yang hanya berjarak kurang 30 meter dari rumahnya, membuat Ariani begitu mudah melihat tumpukan batu bara. Terlebih, tumpukan itu menjulang tinggi melewati rumahnya.

Kondisi itu membuatnya takut untuk menyiapkan santapan berbuka untuk keluarganya. Lantaran khawatir, debu batu bara bakal beterbangan dan mengontaminasi makanan buatannya. “Sudah masak dari subuh. Kalau masaknya sore takut debunya masuk rumah. Belum lagi kalau angin kencang,” ujar Ariani saat ditemui di kediamannya, Minggu (2/4) lalu.

Perempuan 48 tahun itu mengaku, cuaca dan jam operasional stockpile dan PLTU yang tidak pasti, membuat dirinya dan keluarga harus ekstra waspada. Jika sedikit saja lalai, makanan yang disiapkan bisa berakhir di tong sampah. Bukan di lambung mereka.

Ariani mengisahkan, pernah anak bungsunya terpaksa harus membuang makanan yang ia santap. Lantaran saat ditinggal mengambil air minum di dapur, makanan yang diletakkan di teras rumah sudah dipenuhi dengan debu batu bara. “Ya, mau gimana lagi? Enggak mungkin dimakan sudah ada debunya, makanya dibuang,” sesalnya.

Jika cuaca terik, angin berembus kencang, dan stockpile sedang beroperasi, Ariani terpaksa harus menutup seluruh pintu dan jendela. Lantaran debu batu bara yang berasal dari stockpile bakal beterbangan memenuhi seluruh sudut rumah.

Tak jarang, kondisi itu membuat Ariani terpaksa harus menyuruh anak dan cucunya untuk bermain di dalam rumah. “Kalau kena mata perih, makanya lebih baik (main) di dalam rumah saja. Semua pintu ditutup,” jelasnya.

Ariani beserta sang suaminya, Darman, telah menempati rumah di Loktunggal sejak 1990-an. Dia mengaku, sebelum ada PLTU Teluk Kadere, kehidupannya bersama keluarga berjalan normal. Namun, sejak ada PLTU, dirinya harus bekerja lebih keras dalam menjalankan berbagai aktivitas. Salah satunya, membersihkan rumah.

Dalam sehari, Ariani bisa menyapu lima kali. Tak hanya itu, Ariani harus mengepel seluruh lantai. Itu dilakukannya demi bisa menghilangkan debu batu bara yang menempel. Dia mengaku risih. Sebab, partikel hitam itu akan meninggalkan jejak kehitaman di kulit dan menimbulkan bau tak sedap jika tak cepat dibersihkan.

Namun, terkadang Ariani lelah. Sebab, meski telah dibersihkan berkali-kali, debu batu bara itu tetap hinggap ke rumahnya. “Itu saja baru saya sapu. Tapi masih ada (debu batu bara) lagi. Kalau enggak disapu, ya kayak pasir di dalam rumah,” keluhnya.

Tak hanya dari sisi kebersihan, keberadaan stockpile batu bara disebut telah memengaruhi kesehatan Ariani dan keluarga. Meski belum memeriksakan diri secara menyeluruh ke rumah sakit, perempuan berjilbab itu mengaku, keluarganya kerap merasa sesak dan batuk. Utamanya, saat stockpile beroperasi disertai dengan angin kencang.

Pasalnya, meski telah menutup seluruh pintu dan jendela rapat-rapat, debu batu bara tetap merangsek masuk dari celah-celah rumah. Belum lagi bau busuk menyengat dari batu bara yang ikut menginvasi rumah. Kondisi itu membuat keluarga Ariani harus menyalakan kipas. Untuk sedikit mengusir debu dan bau batu bara dari sistem pernapasan mereka. “Kadang kami bingung. Keluar penuh debu, di dalam sesak napas,” lirihnya.

Kendati sering mengalami batuk dan sesak napas, Ariani dan keluarga memilih untuk tidak memeriksakan diri secara rutin ke rumah sakit. Lantaran khawatir hasil pemeriksaan bakal menunjukkan adanya penyakit berbahaya yang diderita dirinya dan keluarga.

Ariani mengatakan, lebih memilih menutup mata soal kesehatannya dan mencoba menjalani kehidupan seolah tak terjadi apa-apa dengannya. Itu dilakukannya agar bisa menghindari stres soal kondisi kesehatannya. “Tidak usah (memeriksakan diri ke rumah sakit). Ini saja (aktivitas sehari-hari) sudah buat capek pikiran,” keluhnya.

Keberadaan PLTU yang beroperasi sejak Oktober 2019 lalu itu, tidak mendatangkan pengaruh baik apapun pada kehidupan keluarganya. Bahkan, jaringan listrik PLN dan air PDAM yang sebelumnya tak menjangkau rumah mereka, pada akhirnya harus mereka perjuangkan sendiri. Tanpa adanya bantuan PT Graha Power Kaltim (GPK) selaku pengelola PLTU Teluk Kadere. Padahal saat itu, PLTU Teluk Kadere telah beroperasi.

Ariani mengaku menyesal. Proyek PLTU berkapasitas 2x100 megawatt (MW) yang kerap dibanggakan Pemkot Bontang lantaran diklaim mampu menambah sumber pendapatan daerah dan menyerap tenaga kerja, nyatanya hanya mendatangkan dampak buruk bagi kehidupannya.

Perempuan berkulit sawo matang itu menyebut, seandainya kala itu tahu bahwa proyek pembangunan yang dimaksud adalah PLTU, dirinya bakal menolak mentah-mentah proyek itu.

“Dulu cuma dikasih tahu mau ada proyek masuk, tapi tidak pernah dijelaskan proyek apa itu. Ternyata, batu bara,” terangnya sembari menatap dingin tumpukan batu bara di hadapannya.

Tak jauh dari rumah keluarga Ariani, ada rumah warga yang sampai harus membalik posisi rumahnya. Yakni, dapur menjadi ruang tamu. Dan ruang tamu menjadi dapur. Keputusan itu terpaksa diambil warga tersebut lantaran tak kuat dengan serbuan debu batu bara saat stockpile beroperasi.

ISPA MENINGKAT

Setelah PLTU beroperasi pada Oktober 2019, jumlah pengidap infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mengalami peningkatan. Menukil data Puskesmas Bontang Lestari yang membawahi Loktunggul, penyakit ISPA masuk daftar 10 penyakit terbanyak yang menjangkiti masyarakat Bontang Lestari pada 2021.

Saat itu ISPA menduduki posisi keempat dengan jumlah kasus 112. Angka itu mengalami peningkatan 235 kasus pada periode Januari-Mei 2022 lalu. Menjadikan ISPA di urutan kedua.

“Sebelum 2021, ISPA tidak masuk 10 besar penyakit yang paling banyak diderita masyarakat,” jelas Kepala UPT Puskesmas Bontang Lestari drg Faradina saat ditemui tim KJI di ruang kerjanya, Senin (7/8).

Dokter spesialis paru di RSUD Taman Husada Bontang dr Dian Ariani Tarigan mengatakan, setiap partikel debu batu bara mengandung zat-zat racun, sehingga jika dihirup dalam jangka waktu lama menyebabkan kerusakan pada organ paru.

Namun, kerusakan tersebut umumnya terjadi perlahan-lahan. Kendati demikian, pola hidup yang tidak sehat disebut akan semakin memperparah kondisi kerusakan pada organ paru. Lantaran partikel-partikel debu batu bara yang sudah masuk ke tubuh akan sulit keluar. Kondisi ini menyebabkan peradangan di paru-paru yang akhirnya menyebabkan jaringan parut.

“Biasanya memang tidak langsung, (penyakit) akan berkembang secara kronis atau perlahan-lahan,” terang dr Dian saat ditemui di ruang praktiknya, Kamis (10/8).

Terpapar debu batu bara berisiko tinggi membuat penderita terjangkit penyakit gangguan pernapasan. Di antaranya, batuk pilek, ISPA, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), hingga kelelahan akibat kekurangan kadar oksigen.

Namun, menghirup paparan debu batu bara dalam jangka waktu lama bisa menyebabkan timbulnya penyakit pneumokoniosis. Pneumokoniosis adalah penyakit paru-paru yang penyebabnya dikhususkan karena menghirup debu batu bara dalam jangka panjang.

“Kalau pneumokoniosis semakin parah bisa membuat paru-paru menjadi hitam (black lung) sampai kanker paru. Nah, kanker paru ini yang paling bahaya. Tidak ada obat-obatan yang bisa menolong pasien dengan kanker paru,” paparnya.

Dijelaskan dr Dian, tidak ada obat khusus untuk penyakit pneumokoniosis. Umumnya, dokter hanya akan memberikan obat untuk mengatasi gejala-gejala yang dialami oleh pasien pneumokoniosis. Itu dilakukan lantaran kondisi paru-paru pasien sudah mengalami kerusakan. “Jadi hanya untuk menghilangkan gejalanya. Kalau dia (pasien) batuk, ya dikasih obat batuk,” terangnya. (rom/k16)

 

Liputan ini merupakan hasil kolaborasi KJI Bontang 2023

 

 

Editor : izak-Indra Zakaria