Nasib 150 lulusan universitas perkeretaapian Rusia asal Kaltim yang beberapa di antaranya dari Penajam Paser Utara (PPU), belum diketahui.
PENAJAM-Mahasiswa-mahasiswi itu dikirim oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim untuk belajar di negeri Vladimir Putin tersebut selama 6 tahun setelah penandatanganan kerja sama investasi dengan PT Russian Railways pada 1 Juli 2015. Tahap pertama dikirim 50 orang, untuk kuliah masing-masing di Moscow State University 20 orang; ST Petersbug Railway University 23 orang, Rostov State University lima orang dan Samara University dua orang. Tahap kedua, dikirim 29 September 2015 untuk belajar di Moscow State Transport University sebanyak 22 orang, Rostov State University 23 orang dan ST Petersburg Railway University lima orang. Sebanyak 50 orang lagi dikirim sebagai bagian dari tahap ketiga, sehingga totalnya menjadi 150 orang.
“Setelah lulus tahun lalu, angkatan ketiga, anak saya bekerja di sebuah perusahaan di luar perkeretaapian,” kata Intan, warga Tanjung Jumlai, Kecamatan Penajam, PPU, Minggu (10/9). Hal yang sama dikatakan Anang, warga Kota Balikpapan yang anaknya lulus seangkatan dengan Muhammad Fitrian, putra kedua Intan, tahun 2022, kemarin. “Setahun lalu lulusnya. Tapi, sampai di Indonesia mereka ini dibiarkan saja oleh pemerintah, tidak diperjuangkan, tidak dihubungi, tidak ditanya. Sekarang ini anak saya kerja di perusahaan lain di Sangatta, Kutim,” kata Anang.
Anaknya itu, Rama, bersama mahasiswa lainnya dari Kaltim menyandang gelar S-2 Master of Engineering (M Eng) selepas kuliah di Rusia yang didanai Beasiswa Kaltim Tuntas pada tahun itu, dan jadi tak jelas setelah kerja sama investasi dengan perusahaan yang sahamnya dipegang seratus persen oleh pemerintah Rusia itu batal. Penyebabnya, investasi tersebut tak bisa dilanjutkan akibat bertabrakan dengan rencana Pemerintah Indonesia yang menjadikan PPU sebagai wilayah ibu kota negara (IKN) baru. Perusahaan asing tersebut semula berencana investasi Rp 35 triliun untuk membangun jaringan rel kereta api sepanjang 203 kilometer, membentang dari PPU, Paser, Kutai Barat (Kubar), sampai terminal akhir Kota Balikpapan. Anak-anak Kaltim yang dikuliahkan ke Rusia itu dipersiapkan untuk bekerja pada jaringan kereta api ini.
Anang mengatakan, gelar M Eng itu saat ini belum bisa dipakai melamar kerja di Indonesia. Alasannya, belum dilakukan penyetaraan gelar kesarjanaan dari perguruan tinggi luar negeri di Indonesia. Karena itu, kata dia, saat anaknya melamar kerja di sebuah perusahaan di Sangatta hanya menggunakan ijazah S-1 sebuah universitas dalam negeri. “Menurut pengamatan saya, hal ini bukan menimpa anak saya saja, tapi seluruhnya yang lulusan perkeretaapian Rusia tidak diperhatikan oleh pemerintah. Rencananya setelah lulus, anak-anak Kaltim itu segera ditempatkan pada perusahaan perkeretaapian yang dibangun oleh PT Kereta Api Borneo,” katanya. (far)
ARI ARIEF
Editor : izak-Indra Zakaria