Sekprov Kaltim Sri Wahyuni menghadiri penandatanganan perjanjian kerja sama pinjam pakai tanah milik Kementerian Sekretariat Negara di Anjungan Daerah Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Rabu (8/11).
KALTIM mendapat lahan pinjam pakai seluas 6.716 meter persegi selama lima tahun ke depan. Lokasi TMII berada di Kelurahan Ceger, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.
Penandatanganan kerja sama dilakukan Sri Wahyuni sebagai pihak kedua dan Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara Setya Utama sebagai pihak pertama.
“Setelah perjanjian kerja sama ini, kami akan mendukung TMII untuk menjadi wajah baru Nusantara dengan empat pilar. Yakni green, culture, smart, dan inclusive,” ucap Sri setelah penandatanganan di Sasono Utomo, TMII, kemarin. “Kita hadirkan promosi, informasi, dan edukasi seni budaya 10 kabupaten/kota di Kaltim, termasuk contoh bangunan Titik Nol Nusantara,” tambahnya.
Pilar green (hijau) adalah komitmen mewujudkan TMII sebagai kawasan hijau. “Jadi, konsepnya 70 persen ruang terbuka hijau dan 30 persen bangunan,” jelas Sri.
Bangunan yang akan dihadirkan di area Kaltim, selain contoh Titik Nol Ibu Kota Nusantara (IKN), juga ada bangunan-bangunan khas. Mulai lamin adat Dayak, Masjid Shiratal Mustaqiem Samarinda Seberang, Rumah Dahor Balikpapan, Museum Tenggarong, dan lainnya.
Pemprov Kaltim juga memberikan ruang dan kesempatan bagi 10 kabupaten/kota di Kaltim untuk menampilkan serta mempromosikan keunggulan seni budaya. Termasuk potensi pariwisata dan produk kulinernya di anjungan Kaltim dengan waktu yang telah diagendakan.
Sementara itu, Setya Utama mengajak 34 provinsi menjaga dengan baik barang milik negara dan memanfaatkan sebaik-baiknya. “Kami harapkan, semua peduli dan tidak mengubah fungsi atau penurunan nilai objek barang milik negara di sini,” pesan Setya.
Dia berpesan dengan semangat menghadirkan wajah baru Nusantara, TMII diharapkan bisa terus menghadirkan inovasi dan edukasi dengan harga tiket yang terjangkau.
Adapun pihak pengelola berjanji akan mendorong TMII ke depan akan menjadi museum hidup terbesar di dunia. “TMII akan menjadi the biggest folk museum in the world. Satu tujuan, banyak pengalaman. Tidak akan pernah habisnya membahas Indonesia,” kata Dirut PT Bhumi Visatanda Claudia Ingkiriwang, selaku pengelola TMII.
Hadir mendampingi dan menjadi saksi penandatanganan kerja sama ini Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kaltim Fahmi Prima Laksana. (za/adv/diskominfo)
Editor : izak-Indra Zakaria