Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Terhambat Identifikasi Daftar Sandera, Gencatan Senjata Tertunda

izak-Indra Zakaria • Jumat, 24 November 2023 - 19:57 WIB
Photo
Photo

GAZA CITY – Gencatan senjata di Jalur Gaza tertunda. Pelaksanaan kesepakatan penghentian perang antara Hamas dan Israel paling cepat baru dimulai hari ini (24/11).

Penasihat Keamanan Nasional Israel Tzachi Hanegbi menjelaskan, perjanjian akan tetap berjalan sesuai rencana alias tidak batal. ”Kontak untuk pembebasan sandera kami semakin maju dan terus berlanjut. Permulaan pelepasan akan dilakukan sesuai dengan kesepakatan awal antara kedua belah pihak dan tidak sebelum Jumat,” ujarnya seperti dikutip The Guardian.

Berdasar perjanjian tersebut, Hamas akan membebaskan setidaknya 50 di antara 240 sandera yang sebagian besar berasal dari Israel. Sebagai imbalan, Israel akan membebaskan sedikitnya 150 tahanan Palestina. Juga mengizinkan 300 truk bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza setelah lebih dari enam minggu pengeboman, pertempuran sengit, serta blokade bahan bakar, makanan, obat-obatan, dan kebutuhan penting lainnya yang melumpuhkan wilayah tersebut.

Penyebab penundaan gencatan senjata yang seharusnya terjadi kemarin (23/11) belum jelas. Juru Bicara Gedung Putih Adrienne Watson mengatakan, perincian logistik akhir untuk pembebasan tersebut sedang dikerjakan. Salah satu pejabat Israel yang diwawancarai stasiun penyiaran Kan mengungkapkan, penundaan tersebut disebabkan kegagalan Hamas dan mediator Qatar untuk menandatangani perjanjian. Namun, pejabat itu optimistis perjanjian tersebut akan dilaksanakan setelah ditandatangani.

Media lain di Israel menyebutkan, Hamas belum mengirimkan perincian lengkap mengenai kelompok sandera pertama yang akan dibebaskan. Identifikasi sandera menjadi masalah selama perundingan. Para pengamat mengungkapkan bahwa itu mungkin mengindikasikan Hamas tidak menahan atau memiliki akses terhadap semua sandera. Di Jalur Gaza ada dua sayap militer: Brigade Al Qassam milik Hamas dan Palestine Islamic Jihad (PIJ).

Sejak tercapainya kesepakatan yang diumumkan pada Rabu (22/11), Pasukan Pertahanan Israel (IDF) justru meningkatkan serangannya. Ratusan warga Palestina tewas dalam serangan Israel dari darat, laut, dan udara selama dua hari terakhir. Kemarin IDF menyatakan telah menyerang 300 titik yang ditengarai didiami Hamas.

Menteri Luar Negeri Palestina Riyad Al Maliki mengatakan, 52 korban di kamp pengungsian Jabaliya yang dibom pada Rabu berasal dari keluarga Qadoura. ”Saya punya daftar namanya, 52 di antaranya. Mereka musnah total, dari kakek hingga cucu,” ujarnya.

Tidak cukup sampai di situ, penahanan yang dilakukan Israel juga kian intensif. Dalam sehari kemarin, mereka menangkap sekitar 90 penduduk Palestina di wilayah pendudukan Tepi Barat. Direktur RS Al Shifa Muhammad Abu Salmiya dan beberapa dokter senior lainnya ditangkap. Mereka dipindahkan ke Otoritas Keamanan Israel (ISA) untuk diinterogasi. Versi Israel, itu terkait bukti bahwa RS Al Shifa di bawah manajemen Abu Salmiya telah digunakan sebagai pusat kendali dan komando Hamas.

IDF sejauh ini belum berhasil membuktikan bahwa memang benar RS Al Shifa adalah pusat kendali dan komando Hamas. Bahkan, terowongan yang mereka klaim sebagai jaringan milik Hamas ditengarai hanyalah saluran air. Hal itu dikuatkan kesaksian dari mereka yang membangun rumah sakit dan gambar yang sesuai. IDF bahkan sempat malu karena menyebut kalender dalam bahasa Arab di RS Al Shifa sebagai jadwal dan nama-nama anggota Hamas yang menjaga sandera.

Kementerian Kesehatan Gaza menginginkan penjelasan dari WHO terkait penangkapan staf medis RS Al Shifa. Penangkapan terjadi ketika petugas medis sedang perjalanan dalam konvoi WHO bersama pasien. Mereka tiba-tiba dihentikan dan ditahan pasukan Israel. ”WHO belum mengirimi kami laporan apa pun untuk menjelaskan situasinya, termasuk jumlah dan nama mereka yang ditahan,” ujar Juru Bicara Kementerian Kesehatan Gaza Ashraf Al Qudra seperti dikutip Al Jazeera.

Dia khawatir, mereka yang ditahan itu bakal dibunuh karena Israel bisa dan mampu melakukannya. Kementerian telah memutuskan untuk menghentikan koordinasi dengan WHO mengenai evakuasi sampai mereka mengirimkan laporan yang menjelaskan apa yang terjadi.

Di lain pihak, Hamas mengecam keras penangkapan Abu Salmiya dan rekan-rekannya. Mereka menyerukan kepada Komite Palang Merah Internasional dan organisasi internasional lainnya untuk berupaya mewujudkan pembebasan mereka secepatnya. Dua hari sebelumnya, dua paramedis Palestina juga ditangkap Israel. ”Ini memberikan tanda yang jelas bahwa tidak ada kekebalan di Jalur Gaza, baik bagi pekerja medis, kru pertahanan sipil, maupun jurnalis, karena serangan tersebut telah menjangkau semua lapisan masyarakat Palestina,’’ ujar jurnalis Al Jazeera Tareq Abu Azzoum. (sha/c7/fal)

Editor : izak-Indra Zakaria