Nongkrong sembari menyeruput kopi sudah biasa di kalangan anak muda. Ketika bersantai sambil bercerita, Alvionita Budiaris ambil peran berbeda.
DI tengah hiruk pikuk terkait isu sosial maupun budaya, terlebih Kaltim akan menjadi Ibu Kota Nusantara (IKN), dara asal Kutai Kartanegara (Kukar) itu suarakan soal toleransi sosial dan budaya.
Alvi, begitu orang menyapanya. Keraguan untuk bergelut di ajang pemilihan pemuda benar-benar dia rasakan. Sebab, perempuan itu saat ini tengah disibukkan pada pekerjaan. Namun, tak ada salahnya bila mencoba. “Saya itu awalnya lihat informasi dari grup-grup WhatsApp teman saya. Saat itu masih mikir, bisa enggak ya kalau saya ikut,” ucapnya
Kala itu Alvi berada dalam pesawat, penerbangan Jakarta menuju Kaltim. Setelah tiba, segala administrasi untuk menjadi bagian dari peserta segera dia lengkapi. Nyaris gugur di pendaftaran, lantaran informasi yang dia terima menerangkan bahwa batas waktu pengumpulan berkas administrasi sangat mepet, terlebih kontestan seleksi pemuda itu terbatas, yakni 15 orang. “Saya itu memikirkan bisa enggak ya bagi waktu antara pekerjaan dan persiapan sebagai peserta. Berhari-hari saya pikirkan itu. Tapi yakin aja walaupun daftar terakhir,” tuturnya.
Ajang tersebut menyeleksi beberapa bidang. Alvi ambil bagian di bidang kesadaran bela negara pemuda masa kini. Perempuan itu memilih berdasarkan pengalaman yang bersentuhan dengan kesehari-hariannya. Selain bekerja, hingga kini dia aktif bergelut di dunia kesenian, yakni tari jepen. Dari penutupan pendaftaran, Alvi hanya punya waktu satu minggu untuk mempersiapkan konsep dan gagasan yang akan dia paparkan. “Memang tipikal saya belajar harus ngobrol. Susah kalau belajar mandiri, jadi saya ajak diskusi termasuk sebagian peserta yang saya kenal, juga orang terdekat saya,” jelasnya.
Tiba di ajang seleksi, tahap satu Alvi dipertemukan dengan seleksi tertulis, kemudian seleksi orasi, dan seleksi tanya jawab dari dewan juri. Perasaan dia mulai pesimis, yang ada di pikirannya setelah mengikuti berbagai seleksi hanya kekalahan.
Hal itu disebabkan persiapan yang minim dan pertanyaan dewan juri membuat Alvi kelimpungan. “Saya angkat bidang sosial budaya melalui toleransi budaya, kemudian saya kembangkan bahwasanya jangan sampai kita tidak mengetahui gerak tari atau iringan musik, khususnya kepada anak cucu kita nanti. Karena kan kita menyambut IKN nih, jadi salah satu bentuk aksi nyatanya adalah melalui toleransi seni budaya jangan sampai hilang. Artinya seni budaya tersebut harus terus dilestarikan dan diharumkan. Saya juga mengangkat bahwasanya Indonesia juga harus siap dengan SDM ataupun SDA-nya melalui ekonomi kreatif, juga mempromosikan pariwisata yang ada di Kaltim,” katanya.
Menurutnya, perpindahan IKN ke Kaltim dapat memengaruhi pola pikir generasi di masa yang akan datang. Harapannya, toleransi budaya dan sosial yang dia kemukakan, mampu mempertahankan kearifan lokal sekaligus melestarikan dan memperkenalkan kepada khalayak publik di kemudian harinya. Rasa pesimis Alvi tak seburuk hasil akhir yang dia dapatkan. Juara satu sebagai pemuda kesadaran bela negara di ajang seleksi pemuda yang diinisiasi Dispora Kaltim tersebut mendarat mulus ke pangkuannya. (dra/k16)
EKO PRALISTIO
pralistioeko@gmail.com
Editor : izak-Indra Zakaria