Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Memburu Rupiah dari Fosil Hiu Purba, Dulu Warga Meyakini Menemukan Huntu Gelap Pertanda Kesialan

Edi Susilo • 2024-02-08 10:37:33
MELESTARIKAN TETINGGALAN PURBA: Nuril Anwar saat memandu sejumlah pengunjung Museum Megalodon di Desa Gunungsungging, Sukabumi (1/2).
MELESTARIKAN TETINGGALAN PURBA: Nuril Anwar saat memandu sejumlah pengunjung Museum Megalodon di Desa Gunungsungging, Sukabumi (1/2).

Tak ingin fosil-fosil megalodon punah diburu untuk mengejar rupiah, warga Desa Gunungsinggung, Sukabumi, mendirikan tetenger berupa Museum Megalodon yang ternyata juga mendatangkan manfaat tak kalah besar.

EDI SUSILO, Sukabumi

"HUNTU gelap," ucap Epul spontan menyebut deretan fosil gigi yang tersimpan di kotak kaca itu. Rafa, temannya satu kelas, menimpali. "Itu megalodon."

Dua bocah taman kanak-kanak itu masuk ke Museum Megalodon di Desa Gunungsungging, Sukabumi, Jawa Barat, saat jam istirahat pada Kamis pekan lalu (1/2). Sekolahnya berada tepat di samping museum di desa yang masuk wilayah Kecamatan Surade tersebut.

"Kalau ini tulang paus," ucap Nuril Anwar, penjaga museum, sambil menunjuk belulang sepanjang 20 sentimeter yang terpanjang di sudut pojok.

Namanya bocah, tak puas dengan jawaban Nuril. "Batu gitu," celetuk Rafa disambut tawa teman-temannya. "Iya di dalam batu ini,” sahut Nuril. “Nah, ini yang panjang tulang paus," lanjutnya, yang disambut manggut-manggut tanda mengerti para buyung dan upik.

Sebagian besar koleksi museum itu memang gigi hiu purba Caracharocies megalodon atau hiu purba, binatang yang sudah punah dan diperkirakan hidup 23 hingga 2,3 juta tahun lalu. Ukurannya beragam, mulai dari sebesar telapak tangan berukuran 15 sentimeter sampai terkecil seukuran kelingking.

"Masih banyak koleksi museum yang kami simpan di sini," ucap Nuril sambil membuka pintu gudang.

Di dalamnya berjajar bersap-sap di antara rak tanpa tutup kaca. Semua fosil asli. "Pegang saja gak apa-apa," kata Nuril mempersilakan Jawa Pos

Museum itu berada di desa di kaki perbukitan Surade yang kaya fosil Megalodon. Jutaan tahun silam apa yang sekarang menjadi perbukitan itu merupakan bagian dari laut. Dan, setidaknya dalam lima tahun terakhir, fosil gigi si hiu purba tersebut menjadi perburuan untuk ditukar dengan rupiah. 

Berukuran 12×6 meter, Museum Megalodon meminjam bangunan desa yang sebelumnya digunakan untuk rumah sehat. Nuril bersama Eli, Mansyur, dan beberapa warga lain yang peduli mengenai kelestarian fosil di bawah tanah desa mereka mendirikan museum itu pada Februari 2021.

Pendirian museum tercetus lantaran mereka cemas melihat eksplorasi besar-besaran untuk menggali fosil. "Kami nggak mau anak cucu nanti hanya mendengar cerita. Tanpa tahu secara langsung fosil megalodon," ucap Nuril.

Semula, sebelum mengetahui fosil gigi megalodon bernilai tinggi, banyak warga desa justru menjauh ketika tak sengaja menemukan. Keyakinan setempat, menemukan gigi megalodon berarti akan menjumpai kesialan. Karena itu, orang-orang tua kampung menyebut gigi megalodon sebagai huntu gelap atau gigi petir. Yang menemukan bisa disambar petir.

Tapi, semua berubah ketika seorang warga menemukan gigi megalodon saat menggali fondasi rumah akhir 2019. Ternyata si huntu gelap laku dijual dan bernilai tinggi.

Eksplorasi makin gila-gilaan saat pandemi datang dan banyak orang kehilangan pekerjaan. "Jujur, saya termasuk yang ikut menggali waktu itu," ucap Nuril seraya tertawa.

Dirumahkan sebagai sopir ekspedisi membuat tak ada cara lain untuk Nuril mendapat penghasilan. Namun, seiring waktu, bersama beberapa warga kampung lain, Nuril mulai sadar ada hal penting lebih dari sekadar mengais rupiah dari fosil yang telah terpendam jutaan tahun lalu itu: menjadikan desa mereka sebagai pusat studi konservasi megalodon.

Juga melirik peluang lebih besar: menjadikan Gunungsungging kampung wisata dan edukasi. Dan, museum adalah langkah awal menuju tujuan tersebut.

Bekerja sama serta bernaung ke Museum Geologi Bandung, berdirilah Museum Megalodon. Para peneliti membantu dalam meneliti setiap temuan fosil. Warga bertugas membantu konservasinya.

Konservasi yang dilakukan warga dan pendirian museum skala desa ini kemudian menginspirasi beberapa desa di sejumlah daerah lain yang punya potensi serupa. Misalnya desa di Sumedang, Jawa Barat, dan di Brebes, Jawa Tengah. "Kami senang karena bisa menjadi bagian dan semangat mendirikan museum mini di beberapa daerah," kata pria 29 tahun tersebut.

Kini para pemuda dan penggerak Museum Megalodon sedang mempersiapkan pengemasan menarik untuk wisatawan yang berkunjung ke Gunungsungging. Di antaranya dengan mengembangkan daya tarik lain.

"Di sini ada perajin gerabah, juga pencak silat yang khas," katanya.

Perburuan fosil di perbukitan sekitar mungkin masih akan terus berjalan. Tapi, Nuril dan kawan-kawan meyakini mereka telah menemukan opsi lain melalui museum yang bakal bisa memajukan Gunungsungging.  "Anda menuju ke sini, merasakan jalannya berbeda nggak? Lebih halus ‘kan," tanyanya kepada Jawa Pos. “Itu karena berkat didirikannya Museum Megalodon. Yang membangun langsung pemerintah pusat melalui PUPR. Ini baru awal kemajuan,” tambahnya.

Si huntu gelap ternyata tak segelap itu. Di perbukitan yang memayungi Surade, rupiah bisa ditambang dari gigi-gigi si hiu. Di desa-desa di bawahnya, asal mau merawat fosil-fosil itu agar tak punah seperti binatangnya, ternyata juga mendatangkan manfaat tak kalah besar. (*/ttg/jpg/dwi/k8)

Editor : Indra Zakaria
#arkeologi #feature #megalodon