Tumpukan sampah di Pulau Maratua hingga kini masih ditampung menjadi satu di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tanjung Batu.
TANJUNG REDEB–Alasan belum dibangunnya TPA Maratua lantaran konstruksi tanah yang berbeda, membuat limbah air mencemari sumber air bahkan laut. Jika TPA tidak dibangun secara khusus.
Hal itu disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau Mustakim Suharjana. Dia menyebut, konstruksi tanah di Pulau Maratua berbeda dengan daratan di Pulau Kalimantan lainnya. Sehingga, tidak bisa sembarang membangun TPA di sana.
"Perlu desain khusus untuk membuat TPA. Karena air limbah TPA bisa mengalir dan mencemari sumber air tanah penduduk," terangnya, belum lama ini. "Bahkan kalau bertahun-tahun tidak dikelola akan mengalir ke laut sehingga perlu desain TPA khusus," sambungnya.
Disebutkannya, tahun lalu sempat dicanangkan Pulau Maratua terkenal, terendah, dan terbersih. Maratua sudah menjadi pulau yang terkenal dan terindah. Sisa terbersih saja yang masih diupayakan bersama. Diakuinya, penanganan sampah di Maratua cukup rumit.
"Memang agak rumit penanganan sampah di Maratua. Karena sumber sampahnya kompleks," ungkapnya.
Di antaranya, ada empat sumber sampah yang berhasil diidentifikasi. Yang pertama, yaitu, sampah kiriman yang bisa berasal dari luar pulau atau negara tetangga. Seperti, sampah plastik bermerek negara Vietnam, Filipina, hingga Malaysia. Pun sampah wisatawan, sampah kapal dan sampah domestik yang dihasilkan penduduk maupun resort atau penginapan di sana.
Untuk mendukung Maratua sebagai destinasi wisata unggulan, tahun lalu pihaknya telah menempatkan 10 tenaga honorer kebersihan asli penduduk Maratua. Seleksinya melibatkan empat kepala kampung dan camat. "Dipilih 10 orang tersebut berdasarkan rekomendasi dari kepala kampung dan camat. Baru kami SK-kan," ucapnya.
Menurutnya, kinerja tenaga lokal Maratua cukup bagus. Pihaknya setiap hari memonitor melalui grup WhatsApp dan aplikasi khusus. Petugas kebersihan harus mem-posting foto dan video untuk dokumentasi pada aplikasi khusus yang bisa menyebutkan jam dan titik koordinat tempatnya. "Mudah-mudahan semangat dan kinerjanya tidak surut," harapnya.
Tahun 2023 lalu, pihaknya telah mendukung peralatan untuk Pulau Maratua berupa mobil angkutan sampah 1 unit, mobil roda 3 khusus pantai 3 unit, mesin press sampah 1 unit, mesin untuk membersihkan kayu di pantai dan alat kebersihan lainnya. Sementara itu, tahun ini pihaknya juga akan mendukung semua operasional untuk kegiatan kebersihan.
"Ke depan akan kami agendakan lagi untuk meninjau lokasi Maratua untuk pembangunan TPA di sana," tandasnya.
Sementara itu, Ketua DPRD Berau Madri Pani juga mendukung DLHK Berau menambah petugas kebersihan melalui outsourcing. "Kebutuhan tenaga kebersihan bisa diisi melalui outsourcing menggunakan dana CSR. Karena pengangkatan PTT sudah tidak ada," ujarnya.
Pihaknya meminta DLHK Berau untuk membuat kajian kebutuhan tenaga kebersihan yang nantinya ditandatangani oleh Bupati Berau dan Ketua DPRD Berau. Madri menilai perlu memberikan tanggung jawab kepada pihak ketiga. Jangan sampai selama ini tidak dimanfaatkan.
"Kalau kita menunggu kebijakan baru, sampai kapan akan menunggu. Ini sampah setiap hari semakin bertambah, kalau kita berbicara ekowisata, masalah kebersihan masalah utama. Dan wisatawan mancanegara lebih sensitif tentang kebersihan," tegasnya.
Merekrut tenaga kebersihan sebaiknya juga disesuaikan dengan kebutuhan saat ini. Menurutnya, CSR perbankan bisa saja membantu memberikan bak sampah. Tinggal bagaimana sinergisitas dan komunikasinya lagi.
Madri juga mengingatkan agar tidak terpaku dengan kebijakan. Bahwa tidak ada yang melanggar demi kebaikan orang banyak. (*/aja/ind/k8)
Editor : Indra Zakaria