Fenomena perubahan warna Sungai Karang Mumus (SKM) yang dikenal cokelat menjadi hijau, membuat warga Samarinda heboh dan mempertanyakan.
APA sebenarnya yang terjadi dari perubahan warna air sungai tersebut. Akademisi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman Dr Ismail Fahmy Almadi membeberkan, hijau itu identiknya kesuburan. Namun, jika warna tersebut hijau gelap, tingkat kesuburannya berlebihan.
Dia memberikan contoh. Jika melihat kolam ikan atau tambak yang biasa dibuat manusia membudidayakan ikan lele, perubahan air yang awalnya bening-keruh-hijau bisa terjadi tanpa disadari atau proses alamiah sedang berlangsung. “Tapi kalau di kolam perubahannya cepat. Karena airnya tidak mengalir. Prosesnya itu mulai manusia memberikan makan ikan, memakan dan mengeluarkan fasesnya (kotoran) tersebut menjadi sumber makanan bagi plankton. Jadi istilahnya itu blooming plankton atau populasi plankton banyak sekali,” ucapnya kepada Kaltim Post, Selasa (14/5).
Bila perubahan itu terjadi di sungai, faktor lainnya adalah volume air terbatas atau sumber air dari sungai tersebut mulai kecil. Hal tersebut bisa disebabkan musim kemarau yang panjang, kemudian berpindah menjadi musim hujan. Pun rute aliran SKM yang berkelok-kelok bisa menjadi faktor penyebab aliran air mengendap. “Faktor lainnya adalah kotoran-kotoran di sungai yang banyak. Sebab, aktivitas manusia dalam hal domestik dan lainnya bisa menjadi pemicu. Apalagi SKM itu banyak wilayah-wilayah pertanian yang berfokus pembuatan pupuk. Itu bisa mempercepat populasi plankton,” sambungnya.
Disinggung tingkat bahaya perubahan warna tersebut, Fahmy menegaskan, kejadian itu bisa menimbulkan dua hal. Indikatornya bisa bagus dan buruk.
Untuk bagian buruk antara lain jika kesuburan tersebut terlalu subur, berakibat bisa terjadi secara terus-menerus. Sehingga output-nya bisa menyebabkan ikan di sungai mati. “Yang mengakibatkan kematian ikan-ikan di situ karena tidak adanya pengenceran atau air tidak mengalir secara baik. Jadi biota di sungai termasuk ikan berupaya bernapas. Apalagi jika kawasan Sungai Karang Mumus banyak memelihara ikan di keramba, itu bisa menyebabkan ikan yang dibudidayakan mati,” tegasnya.
Sementara untuk sektor positifnya, air sungai yang menghijau bisa dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman. Namun, itu perlu proses pengujian melalui laboratorium terlebih dahulu. Bila pengujian dilakukan secara manual, bisa dilakukan dengan cara mengamati ikan-ikan di kawasan sungai, dalam hal ini apakah ada yang mati atau masih normal. Termasuk aroma air tersebut yang tidak bau.
“Kalau bau, itu pertanda ikan banyak yang mati dan tidak baik bila dimanfaatkan menjadi pupuk. Tapi semua itu perlu diuji melalui laboratorium jika mau dimanfaatkan,” tuturnya.
Pada dasarnya fenomena tersebut terjadi diakibatkan populasi plankton meningkat. Yang menyebabkan ikan dan biota di dalamnya berusaha mencari oksigen. Sebab, over-plankton itu menyebabkan kadar oksigen di dalam sungai menjadi rendah. “Jadi mereka rebutan mencari oksigen. Biasanya kejadian tidak berlangsung lama, dan sering terjadi,” pungkasnya. (dra/k8)
EKO PRALISTIO
pralistioeko@gmail.com
Editor : Indra Zakaria