Genangan itu mulai terlihat pada pukul 15.00-17.00. Genangan itu membuat warga dan pengendara di Kota Tepian kembali dipusingkan saat beraktivitas, terutama saat harus melintasi jalan tersebut.
Sejumlah proyek normalisasi, tidak mampu menghadapi perubahan cuaca mendadak dari panas menjadi hujan. Artinya, Samarinda tidak siap menghadapi hujan.
Dari data Info Taruna Samarinda (ITS), genangan terjadi di 26 jalan. Titik-titik itu tersebar di dalam maupun di pinggiran kota. Rata-rata ketinggian air antara 20-50 sentimeter.
Beberapa titik yang menjadi langganan banjir di antaranya Jalan Mugirejo, Jalan Damanhuri, Jalan Sultan Alimuddin (Pelita IV, VII dan VIII), dan Jalan Pasundan.
Di ruas jalan tersebut terjadi kemacetan parah akibat genangan. Kemacetan semakin parah di saat jam pulang kantor.
Bunyi klakson sesekali terdengar saling bersahutan lantaran pengendara tidak sabar untuk melintas saat terjebak macet.
"Setiap hujan, pasti banjir. Kalau sudah banjir imbasnya ya macet. Kejadian yang selalu berulang dan tidak ada solusi jalan keluarnya," keluh Anang (30) warga Damanhuri.
Salah seorang pengendara motor, Sirma (38) warga Pasunda yang sehari-hari melewati jalan tersebut, mengaku kesal lantaran tak ada solusi berkaitan jalan yang selalu terendam banjir di saat hujan.
Meski begitu, Sirma mengaku ada upaya pemerintah yang telah menormalisasi drainase di persimpangan Jalan KS Tubun Dalam, meski tidak berdampak banyak.
"Tetap saja banjir. Kalau sudah begitu, saya harus cari jalan alternatif dari pada motor mogok," ungkapnya. Sementara, pohon tumbang terjadi di Jalan M Yamin, Samarinda Ulu.
Di lokasi ini, pohon yang berdiri di belakang sebuah kantor tiba-tiba roboh saat hujan dan angin kencang. Beruntung, saat pohon roboh tidak ada warga ataupun pengendara yang melintas.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda Suwarso membenarkan kondisi jalan yang selalu terendam banjir usai hujan deras mengguyur. Banjir yang menggenang di sejumlah ruas jalan akibat curah hujan sedang.
Genangan sendiri disebabkan adanya sumbatan dan daya tampung drainase yang kurang memadai sehingga air meluber ke jalan.
"Proyek normalisasi sedang berjalan dan beberapa saluran terpaksa ditutup menyebabkan air tidak lancar mengalir. Namun ke depan akan lancar kembali begitu proyek selesai," ungkap Suwarso.
Suwarso menambahkan, kondisi hujan disertai angin kencang akan tetap terjadi hingga akhir Mei. Hal ini sesuai dengan informasi yang disampaikan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). (*)