Klarifikasi dengan pihak sekolah yang dilakukan istri Irwansyah itu rupanya membuat kepala sekolah dan beberapa tenaga pendidik di sekolah putra putrinya itu terusik.
"Setelah itu di ruang kepala sekolah istri saya dicaci maki, dihina, diintimidasi dengan kata-kata kasar," ujar Irwansyah. Merasa diperlakukan tidak semesatinya, istri Irwansyah pun memilih pulang dan menyimpan perlakuan buruk pihak sekolah itu dengan tidak menceritakan kepada siapa pun termasuk suaminya.
"Kejadiannya itu Sabtu (17/8) lalu. Istri saya tidak cerita dan saya tahunya dari TRC PPA Kaltim," ucapnya. Mengetahui istrinya mendapat perlakuan tidak semestinya sebagai orangtua murid, Irwansyah pun mencoba menelepon kepala sekolah dasar (SD) kedua anaknya.
"Tetapi nomor telepon saya ternyata sudah diblokir," tegasnya. Masih adanya perlakuan yang tidak baik dari oknum pendidik itu sangat disedalkan Ketua TRC PPA Kaltim, Rina Zainun. Rina menegaskan, seluruh praktik pungutan liar (Pungli) di lingkungan sekolah harusnya sudah tidak ada apalagi telah ditegaskan wali kota dan surat edaran Disdikbud Samarinda.
"Dan untuk tenaga pendidik juga tidak boleh serta merta mencaci maki apalagi mengintimidasi orangtua murid, karena itu sudah termasuk tindak pidana," jelas Rina. Sementara dalam pendampingan kasus intimidasi yang dialami istri Irwansyah, pihaknya menunggu hasil pertemuan dengan pihak sekolah yang dimediasi Pemkot Samarinda.
"Besok (hari ini) korban dan pihak sekolah dipertemukan. Dan kami juga diminta untuk ikut menghadiri," pungkasnya. Kasus intimidasi orangtua murid sebelumnya juga dialami seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) berinisial AE (47), pada Senin (12/8) lalu.
Intimidasi yang dialami AE itu, terjadi setelah dirinya menghadiri undangan penyerahan Kartu Bantuan Sosial Non Tunai oleh Wali Kota Samarinda, Andi Harun di halaman Balai Kota Samarinda, Sabtu (10/8) lalu.
Ketika itu wali kota membuka sesi dialog dan tanya jawab, sehingga membuat AE tergerak untuk ikut bertanya mengenai jual beli buku yang belakangan ini menjadi viral. Namun tanpa disadari AE, seseorang merekam dirinya ketika berdialog dengan wali kota yang menyebabkan dirinya diintimidasi pihak sekolah.
Kasus yang menimpa AE itupun menjadi perhatian serius, karena AE yang didampingi TRC PPA Kaltim mengadukan tindakan tersebut ke Polresta Samarinda. (oke/nha)