Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Dialektika Isra Mi’raj: Rekonstruksi Kedudukan Manusia sebagai Makhluk Langit yang Membumi

Redaksi Prokal • 2026-01-16 12:19:54

Irma Yuliani
Irma Yuliani



Oleh: Irma Yuliani,S.E.,M.Si, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UINSI Samarinda


Secara kodrati, manusia bukanlah entitas yang hadir secara kebetulan. Dalam diskursus filsafat eksistensial dan teologi, manusia ditempatkan sebagai pinnacle of creation (puncak penciptaan). Memahami kedudukan manusia berarti memahami keseimbangan antara keterbatasan fisik dan tak terbatasnya ruhani.

Peristiwa Isra Mi’raj adalah proklamasi terbesar tentang potensi manusia. Di saat sains modern masih bergelut dengan teori relativitas dan perjalanan antar-galaksi, Islam telah memberikan gambaran melalui Nabi Muhammad SAW bahwa kodrat manusia mampu menembus batas-batas materialitas menuju puncak spiritualitas.

I. Manusia dalam Lintasan Ruang dan Waktu

Peristiwa Isra Mi’raj merupakan momentum paling revolusioner dalam sejarah peradaban Islam. Secara saintifik dan spiritual, perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra) hingga ke Sidratul Muntaha (Mi’raj) melambangkan harmoni antara kecepatan (speed) dan ketepatan spiritual (spiritual precision).

Dalam konteks profesionalisme modern, Isra Mi’raj mengajarkan kita tentang pentingnya Vertical Accountability (akuntabilitas kepada Tuhan) dan Horizontal Humanity (pengabdian kepada sesama manusia). Inti dari perjalanan ini adalah perintah Shalat, yang secara hakiki berfungsi sebagai "jangkar" agar manusia tidak kehilangan arah di tengah badai disrupsi duniawi.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 1:
سُبْحَانَالَّذِيأَسْرَىٰبِعَبْدِهِلَيْلًامِنَالْمَسْجِدِالْحَرَامِإِلَىالْمَسْجِدِالْأَقْصَىالَّذِيبَارَكْنَاحَوْلَهُلِنُرِيَهُمِنْآيَاتِنَاۚإِنَّهُهُوَالسَّمِيعُالْبَصِيرُ

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Pesan atau Maknanya adalah:

1. Integritas Melampaui Logika: Sebagaimana Abu Bakar Ash-Shiddiq membenarkan peristiwa ini saat orang lain meragu, profesional sejati harus memegang teguh nilai kebenaran meskipun tidak populer.

2. Keseimbangan Hidup: Mi’raj (naik ke langit) tidak membuat Nabi lupa akan bumi. Beliau kembali untuk memimpin umat. Ini adalah simbol bahwa kesuksesan karier setinggi langit harus tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan di bumi.

II. Manusia sebagai Makhluk Dua Dimensi

Isra Mi’raj menegaskan bahwa manusia adalah makhluk dua dimensi:

1. Dimensi Terestrial (Isra): Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha melambangkan kodrat manusia sebagai makhluk bumi yang memiliki tanggung jawab sosial, sejarah, dan geopolitik.

2. Dimensi Celestial (Mi’raj): Pendakian menuju Sidratul Muntaha melambangkan kodrat manusia sebagai makhluk spiritual yang tidak boleh puas hanya dengan urusan perut dan materi.

Allah SWT menegaskan kedudukan mulia ini dalam Surah Al-Isra ayat 70:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا


"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di darat dan di laut, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan."

III. Kaitan Isra Mi’raj dengan Kodrat Kedudukan Manusia

1. Kodrat Melampaui Batas (Transendensi)
Melalui Mi’raj, manusia diajarkan bahwa kedudukannya berada di atas malaikat jika ia mampu mengoptimalkan akal dan ruhaninya. Sidratul Muntaha adalah simbol bahwa manusia memiliki akses menuju "pengetahuan puncak" (ultimate knowledge) jika ia mau melakukan perjalanan intelektual dan spiritual yang sungguh-sungguh.

2. Kedudukan Manusia sebagai Pemegang Amanah Shalat
Perintah shalat yang diterima langsung dalam Mi’raj adalah instrumen untuk menjaga kodrat manusia. Shalat adalah "Mi’raj-nya orang mukmin". Tanpa shalat (koneksi vertikal), manusia akan kehilangan kedudukannya dan jatuh menjadi sekadar "hewan yang berpikir" (animal rationale).

3. Kepemimpinan yang Melayani (The Comeback)
Kodrat tertinggi manusia bukan saat ia berada di puncak (langit), tetapi saat ia bersedia "turun kembali" ke bumi untuk membawa perubahan. Nabi Muhammad SAW tidak menetap di langit, beliau kembali ke Mekah untuk memperbaiki moralitas kaumnya. Ini adalah pelajaran bagi para pakar dan pemimpin: Kedudukan Anda diuji bukan dari seberapa tinggi gelar Anda, melainkan seberapa besar dampak Anda bagi kemanusiaan.

IV. Sintesis: Menjadi Khalifah yang Paripurna

Dalam konteks modern, Isra Mi’raj menuntut kita untuk meredefinisi kedudukan kita. Di dunia ini, kita bukanlah pemilik, melainkan pengelola (Khalifah). Kita memiliki kaki yang harus berpijak kuat di bumi (bekerja profesional, riset, membangun ekonomi), namun kepala dan hati kita harus tetap menengadah ke langit (integritas, etika, ketuhanan).

V. Kesimpulan

Isra Mi’raj adalah pengingat bahwa manusia adalah "makhluk langit" yang sedang menjalankan tugas di bumi. Jangan sampai kesibukan duniawi membuat kita lupa akan kodrat asal dan tujuan akhir kita. Sebagaimana Buraq membawa Nabi melintasi dimensi, biarlah Iman dan Ilmu membawa kita melampaui keterbatasan diri kita saat ini.Semoga Allah SWT memudahkan segala urusan dan meridhoi langkah kita agar tetap Istiqomah dalam kebaikan aamiin. (*)

 

Editor : Indra Zakaria