TARAKAN – Sebagian lubang galian jaingan gas (jargas) masih menganga, tepat di badan jalan. Mengkhawatirkan pengguna jalan. Hal tersebut pun kembali disampaikan sejumlah warga ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tarakan pekan lalu.
Pemasangan pipa jargas masih terus berjalan. Proyek yang seharusnya berakhir di akhir 2018 lalu ini berlanjut dan menuai keluhan warga.
Anggota DPRD Tarakan Sofyan Udin Hianggio menuturkan keluhan yang serupa beberapa kali disampaikan masyarakat. Seperti saat ini, keluhan muncul dari Kampung Empat dan Kampung Enam, Tarakan Timur. Sejumlah jalan di kawasan itu ukurannya memang tidak demikian lebar. Semakin terasa sesak, karena munculnya galian yang tak juga ditutup.
“Laporan masyarakat itu terkait penggunaan jalan yang dikeluhkan, mengganggu pengendara. Karena sudah digali tetapi belum ditimbun kembali. Dan ada beberapa aktivitas, yang selesai pekerjaan, tidak langsung diperbaiki,” jelas Sofyan, kemarin (4/2).
DPRD pun kembali mengangendakan kunjungan lapangan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Sampai saat ini tidak ada koordinasi dari pihak terkait mengenai proyek jargas ini. Kunjungan lapangan akan dilakukan pekan depan untuk mengetahui pasti titik masalah.
Gangguan ini juga berkaitan dengan masyarakat sekitar. Diakuinya, proyek yang didanai dari APBN ini, saat ini sudah keluar dari kontrak yang diberikan karena seharusnya selesai di akhir Desember 2018.
“Apakah ada sesuatu atau kendala yang terjadi sehingga sampai saat ini belum selesai, itu nanti yang kami cari tahu,” bebernya.
Dina (30) saban hari melewati jalan di Kelurahan Kampung Empat untuk kuliah. Menurutnya, galian tidak ditutupi dengan baik, sehingga sangat mengganggu dan bahkan berpotensi mencelakakan. “Itu sudah tidak ada yang bekerja lagi, tapi tidak ditutup dengan baik. Minimal kembalikan lagi seperti semula,” ujarnya.
Area Koordinator PGN Tarakan Bramantya Pradana Saputra mengatakan pemasangan jargas sebanyak 4.695 sambungan yang ditargetkan selesai akhir 2018 lalu saat ini masih dalam tahap tes jaringan. Sebelum gas mengalir ke rumah tangga, dilakukan fase konstruksi seperti galian, tanam pipa, menguruk, lalu dilakukan fase pengujian.
Fase pengujian ini dilakukan dengan membersihkan pipa yang ada. Kata dia, pipa yang tertutup isolasi atau lem, ada yang dibuka orang yang tidak bertanggung jawab.
Saat ini semua sudah selesai, tinggal pemasangan segel pipa. Dari pipa 63, akan disegel dan dipanaskan agar melekat dan setelah itu nantinya akan dipasang pipa 20 yang nantinya menuju ke rumah. Titik inilah yang belum dilakukan pengurukan.
Jika ada kebocoran, maka pihaknya kerepotan untuk mencari titik kebocoran. Sehingga sementara harus dibuka, dan jika dites dengan air sabun bertekanan dan terjadi kebocoran maka dapat ditindaklanjuti. “Jika diuji tekanannya didapatkan penurunan tekanan maka itu terjadi penurunan. Sehingga untuk memudahkan pencarian kebocoran, beberapa titik itu dibiarkan terbuka dahulu,” tuturnya.
Rencananya, untuk proses gas in di minggu kedua Februari sudah dapat dilakukan karena daerah yang sudah benar-benar siap yakni di Kelurahan Karang Anyar Pantai tepatnya di Gusher, tinggal dilakukan tes ulang karena dibeberapa titik dilakukan perbaikan.
Begitu juga untuk Kelurahan Pamusian tepatnya di Rusunawa yang sebenarnya juga sudah siap. Tetapi masih menunggu pemasangan meterannya, karena masing-masing memiliki meterannya sendiri.
WAMEN SEMPAT SINGGUNG MASA KONTRAK
4.695 sambungan rumah tangga di Tarakan yang harus selesai Desember 2018 lalu merupakan penugasan baru dari pemerintah ke PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN). Pemasangan jargas tersebut tersebar di 6 lokasi. Keenam lokasi masing-masing Kampung Enam, Kampung Empat, Mamburungan, Mamburungan Timur, Rusunawa dan Perum Khusus.
Pembangunan ini merupakan kelanjutan dari program sebelumnya yang dibangun tahun 2016 sebanyak 21.000 SR dan tahun 2010 sebanyak 3.366 SR. “Seluruh program pembangunan jargas ini menggunakan APBN,” ungkap Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar, di sela-sela rangkaian kunjungan kerjanya di Tarakan, Rabu 14 November lalu.
Proyek tersebut ditargetkan rampung dalam waktu 141 hari sejak dimulai pada Agustus 2018. Total investasi senilai Rp 48,5 miliar. Dari APBN, total sambungan jargas diperkirakan mencapai 325.710 SR. Prioritas bagi rumah sederhana, rusun sederhana, dan daerah-daerah yang jauh lebih membutuhkan penghematan.
Seperti diketahui jargas memanfaatkan gas bumi, lebih efisien, mudah, praktis dan mengalir 24 jam penuh.
Arcandra beberapa waktu lalu mengungkap jika proyek tersebut tidak selesai seperti batas waktu yang ditentukan, maka akan ada sanksi tegas ke kontraktor.
Jargas di Tarakan mengalirkan gas bumi yang berasal dari Pertamina EP dan Medco. Pelayanan tersebut akan menyasar permukiman hingga rusunawa.
Dalam kurun waktu 2009-2017, pemerintah telah membangun jargas 236.046 sambungan di 31 kabupaten/kota. 2018 lalu dibangun 89.664 sambungan di 18 kabupaten/kota sesuai dengan Kepmen ESDM nomor 267 K/10/MEM/2018 dan Kepmen ESDM nomor 268 K/10/MEM/2018, tanggal 25 Januari 2018. Rinciannya Kota Medan 5.656 sambungan, Kabupaten Deli Serdang 5.560 sambungan, Kabupaten Serang 5.043 sambungan, Kota Pasuruan 6.314 sambungan, dan Kabupaten Probolinggo 5.025 sambungan. Selanjutnya, pengembangan jargas oleh PGN di Kabupaten Bogor 5.120 sambungan, Kota Cirebon 3.503 sambungan, dan Kota Tarakan 4.695 sambungan. (*/naa/lim)
Editor : anggri-Radar Tarakan