Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Berharap Tak Ada Lagi Kelangkaan Elpiji 3 Kg

anggri-Radar Tarakan • Rabu, 19 Agustus 2020 - 21:08 WIB
DISTRIBUSIKAN: Tabung gas melon 3 kilogram didistribusikan Disperindagkop ke Kecamatan Tana Lia dan Desa Menjelutung menggunakan kapal, Selasa (18/8)./RIKO / RADAR TARAKAN
DISTRIBUSIKAN: Tabung gas melon 3 kilogram didistribusikan Disperindagkop ke Kecamatan Tana Lia dan Desa Menjelutung menggunakan kapal, Selasa (18/8)./RIKO / RADAR TARAKAN

TANA TIDUNG - Mahalnya elpiji ukuran 3 kilogram  yang mencapai Rp 75 ribu seperti yang dikeluhkan warga di Kecamatan Tana Lia selama ini sudah normal.

Bahkan warga berharap tak ada lagi kelangkaan maupun harga mahal seperti yang didapatkan selama ini.  Hal ini menyusul pemerintah daerah melalui Disperindagkop dan UKM KTT kerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) mendistribusikan gas melon ke masyarakat.

Berdasarkan Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 511/258/K-X/2018 tentang Penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) Premium, Solar dan Liquified Petroleom Gas (LPG) 3 kilogram subsidi untuk sub penyalur di Kabupaten Tana Tidung (KTT). Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi UKM (Disperindagkop) mengambil langkah untuk mendistribusikan tabung gas elpiji 3 kg ke Kecamatan Tana Lia agar warga di sana bisa membeli dengan harga normal.

Dikatakan Sekretaris Disperindagkop KTT Linda Safitri, bahwa harga elpiji ukuran 3 kilogram selama ini memang dikeluhkan warga. Untuk itu Disperindagkop telah menyuplai tabung gas elpiji 3 kg tersebut ke Kecamatan Tana Lia.

"Memang di sana mahal tabung gas elpiji 3 kg, setahu saya harga satu tabung ukuran 3 kg itu bisa mencapai Rp 65-75 ribu pertabung. Tentu harga segitu mahal," kata Linda Safitri.

Mahalnya harga tabung melon tersebut bukan tanpa alasan, karena selama ini tabung melon tersebut berasal dari Kota Tarakan yang mana biaya operasional ke Tana Lia mahal sehingga ikut mempengaruhi harga jual.

"Selama ini yang kita tau bahwa, tabung gas melon tersebut berasal dari Tarakan makanya mahal. Tentu yang menjual perorangan bukan dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes)," jelasnya.

Menurutnya,  pihak Disperindagkop selama pandemi Covid-19 telah menyuplai gas melon tersebut sekali suplai sebanyak 430 buah tabung dengan jadwal dua minggu dua kali.

"Sudah beberapa bulan kita suplai gas melon ke Tana Lia sebanyak 430 dan juga Desa Menjelutung sebanyak 50 buah tabung gas melon dengan menggunakan kapal," ungkapnya.

Disampaikan, Harga Eceran Tertinggi (HET) sudah ditetapkan oleh Pemkab KTT sebesar Rp 38 ribu pertabung.

"Ikut HET warga bisa beli dengan harga Rp 38 ribu, kalau selama ini warga beli dengan harga sampai Rp 75 ribu sekarang sudah tidak ada lagi," katanya.

Elpiji 3 kg tersebut juga akan dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), untuk pendistribusian pihaknya langsung menyalurkan ke BUMDes sehingga warga langsung membeli di BUMDes.

"Pengolala kita kerja sama dengan BUMDes di sana, kalau selama ini mungkin warga beli di kios sekarang silakan beli di BUMDes dengan harga HET yang telah ditetapkan," katanya.

Salah satu warga setempat Pitri (30) mengatakan, sudah lama warga di Kecamatan Tana Lia mengeluh kondisi tersebut, warga berharap elpiji 3 kg tersebut stabil.

"Harganya di sini Rp 75 ribu pertabung, mau tidak mau kami harus beli karena tidak ada lagi yang jual," kata Pitri kepada Radar Tarakan, Selasa (18/8).

Dengan adanya suplai dari dinas terkait dengan harga normal pihaknya bersyukur.

"Alhamdulillah sekarang Disperindagkop sudah suplai ke sini, jadi harga sudah normal tinggal beli di kios-kios BUMDes sekarang. Harganya Rp 38 ribu satu tabung," ucapnya tersenyum.

Warga lainya, Anto (34) senang karena menurutnya tabung gas 3 kg tersebut tidak mahal seperti biasanya. Tentu ini sangat membantu bagi warga yang kurang mampu.

Ia berharap harga ini akan selalu stabil dan juga elpiji 3 kg tidak ada kelangkaan, warga saat ini sudah tergantung dengan gas karena mudah juga praktis.

"Gas ini mudah dan praktis, kalau harus pakai kayu bakar lama prosesnya. Jadi kami harap semoga saja tidak ada kelangkaan elpiji nantinya," harapnya. (rko/har)

 

Editor : anggri-Radar Tarakan