Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Soal Narkotika, Malaysia Dinilai Acuh dan Cuek

anggri-Radar Tarakan • Selasa, 15 Juni 2021 - 18:07 WIB
Brigjen Pol Samudi./IFRANSYAH/RADAR TARAKAN
Brigjen Pol Samudi./IFRANSYAH/RADAR TARAKAN

PEMERINTAH Malaysia dinilai acuh terhadap persoalan narkotika yang masuk ke Indonesia. Hal itu menjadi pertanyaan Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kaltara, Brigjen Pol Samudi, mengingat hingga saat ini kasus pengungkapan narkotika dari Malaysia yang masuk ke Kaltara masih sangat tinggi. “Kita sangat menyayangkan sekali, kenapa pemerintahMalaysia seperti acuh dan cuek sekali kalau narkoba itu mau masuk ke Indonesia, terutama yang melalui pintu Kaltara,” ungkapnya, Senin (14/6).

Dirinya menjelaskan bahwa antarnegara sudah ada perjanjian yang disepakati bersama, yakni berupa kerja sama untuk memberantas narkotika terutama jenis sabu-sabu. Namun, kenyataannya narkoba yang masuk dari Tawau, Malaysia ke Kaltara seperti air yang sudah tidak terbendung lagi. “Sabu itu datang terus ke sini (Kaltara), akhirnya kami seperti pemadam kebakaran yang berusaha memadamkan api. Tentu hal ini membuat kewalahan dalam melakukan pencegahan dan pemberantasan,” tuturnya.

Dirinya menilai, bila pemerintah Malaysia komitmen dan konsisten, aparat yang berada di Indonesia akan lebih ringan menekan peredaran narkotika. Mengenai hal ini pemerintah Malaysia diharapkan peduli dengan banyaknya narkoba yang keluar dari negaranya. Terlebih saat ini masih banyak lagi pintu masuk narkoba dari negara lain seperti Filipina dan pintu lainnya dari Malaysia yakni melalui Dumai, Riau maupun Batam. “Kami melihat pemerintah Malaysia seperti sengaja membiarkan bandar ini masuk membawa sabu ke Indonesia, kami melihat seperti tutup mata, namun bila barang haram ini masuk ke Malaysia mereka sangat tegas. BNN Pusat sendiri sudah seringkali mengingatkan kerja sama terkait hal ini,” bebernya.

Adanya komitmen pemerintah Malaysia untuk memberantas narkoba, hal tersebut terlihat dari pengungkapan sabu di Kaltara didominasi berasal dari Malaysia. Bahkan saat Malaysia sedang menerapkan lockdown karena Covid-19, pihaknya masih saja mengungkap kasus sabu dari Malaysia. “Nyatanya ada kami tangkap sampai 20 kg sabu yang masuk dari Malaysia, dan itu baru yang berhasil kami ungkap, belum lagi yang berhasil lolos, seharusnya ada komitmen pencegahan dari Malaysia,” ujarnya.

Adapun dengan demografi perairan di Kaltara, ditambah lagi minimnya sarana dan prasarana diakuinya juga menjadi kendala BNNP Kaltara. Perairan yang luas di Kaltara selama ini dimanfaatkan para pelaku menggunakan speedboat yang sudah dimodifikasi. “Jadi mesin yang digunakan, dibuat kecepatan yang membuat petugas tidak bisa mengejar,” ucapnya.

Dirinya menungkapkan bahwa hingga saat ini pihaknya belum memiliki speedboat atau kapal lain yang bisa digunakan untuk melakukan pengembangan dan penyelidikan di wilayah perairan. Terkait hal tersebut BNNP Kaltara senantiasa menggandeng Bea Cukai Tarakan untuk bisa membantu dan kerja sama sarana dan prasarana. “Sarana dan prasarana Bea Cukai untuk perairan cukup lengkap. Sehingga kami selalu bekerja sama dalam hal memberantas dan pengungkapan kasus narkotika,” jelasnya. (jnr/lim)

 

 

 

 

Editor : anggri-Radar Tarakan