TARAKAN – Memprioritaskan satu titik jalan, namun tak kunjung direalisasikan. Alhasil warga menimbun jalan dengan pecahan batu bekas bangunan. Tepatnya di Jalan Anggrek, RT 16, Kelurahan Karang Anyar.
Ketua RT 16, Muhammad Noor mengatakan, jalan yang memiliki panjang 350 meter dengan lebar sekiranya 2,5 meter ini tak kunjung dibenahi, meski sudah diusulkan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (musrenbang).
Sebenarnya ada beberapa titik jalan yang perlu dibenahi. Namun ia memprioritaskan satu titik jalan hingga direalisasikan.
“Masih ada jalan lainnya yang tinggal disemenisasi, tapi kita usulkan satu titik saja belum direalisasikan, bagaimana mau usulkan yang lain?,” terangnya.
Mengingat perbaikan jalan tak kunjung dikerjakan, warga setempat pun berinisiatif menimbun jalan dengan pecahan batu dan sisa bangunan. Maklum jalan yang masih bertekstur tanah ini selalu becek. Apalagi belakangan ini, Tarakan dilanda hujan.
“Kalau ada warga yang sakit, jalannya becek susah dilewati kan kasihan. Makanya warga saja yang timbun pakai batu-batu, daripada dibiarkan,” katanya.
Tak hanya jalan yang belum disemenisasi. Drainase di sisi kiri dan kanan badan jalan pun belum disiring. Parit pun perlahan terkikis, dan jalan terancam terputus.
Akhirnya warga setempat pun berinisiatif menimbun tanah yang amblas. Berulang kali mengusulkan perbaikan pembangunan lingkungan, menyisakan kekecewaan tersendiri saat mengikuti musrenbang.
“Realisasi musrenbang di lapangan tidak ada. Makanya kadang malas juga mau ikut musrenbang,” bebernya.
Pasalnya apa yang menjadi aspirasi warganya ia sampaikan ke pemerintah meski melalui musrenbang. Konon, Ketua RT merupakan ujung tombak pemerintahan.
Tentu diharapkan ke depannya pemerintah dapat merealisasikan item yang diajukan saat musrenbang.
“Kita penyambung masyarakat, yang dikeluhkan warga kita sampaikan ke pemerintah. Jadi tidak ada realisasi, apa yang mau disampaikan ke masyarakat,” tutupnya. (*/one/udn)
Editor : anggri-Radar Tarakan