TARAKAN - Kenaikan harga tiket pesawat membawa dampak luas kepada masyarakat. Khususnya mereka yang biasa menjangkau sarana transportasi udara.
Alan (40), memutuskan tak berangkat dengan penerbangan. Tetapi, memilih jalur laut. Tidak hanya kenaikan harga tiket, juga karena bagasi. “Mending pilih ikut kapal saja sekalian. Apalagi saya mau ke Parepare, kalau naik pesawat harus singgah ke Makassar dulu, tapi kalau kapal laut langsung ke Parepare,” ujarnya, kemarin (14/1).
Meski harus melalui jalur laut dan menempuh perjalanan selama berhari-hari, tidak menjadi masalah. Perjalanan pulang tidak begitu mendesak.
Jika naik pesawat, ia harus menyiapkan uang paling sedikit Rp 2 juta. Belum ditambah biaya bagasi. Jalur laut, cukup Rp 500 ribu. “Murah, bisa menghemat uang. Misalnya berpikir karena hampir dua hari di jalan, itu enggak masalah. Siapa mau kasih duit Rp 1,5 juta dalam dua hari?” tanyanya.
M. Arifin (40), penumpang dengan tujuan yang sama dengan Alan membeli tiket untuk keluarganya. “Memang tiket pesawat mahal. Kalau kapal laut sudah biasa kami,” katanya.
Meski mahal, di antara pengguna transportasi masih ada yang memilih jalur udara. Fitriadi (39) mengaku biasanya perjalanan menuju Jakarta dengan rincian biaya tak lebih Rp 900 ribu. Sekarang harus menyiapkan Rp 1,8 juta sekali penerbangan.
“Ini biar kerja di pemerintah pun tetap saya rasa berat, apalagi kalau ada kepentingan mendadak sampai saat ini,” keluhnya.
Tak hanya itu, Hesti (25) menyatakan bahwa dirinya juga ingin berangkat menuju Jakarta dengan total biaya Rp 1.544.000 sekali penerbangan. “Ini mahal banget. Kalau ada rencana turun ya syukur,” harapnya.
Kepala Pelni Cabang Tarakan Haeru Rijal mengaku jika kenaikan harga tiket pesawat tidaklah berdampak pada peningkatan jumlah penumpang Pelni.
“Sejauh ini tidak ada yah. Memang ada kenaikan 7-10 persen saat musim liburan, tapi kalau sekarang tidak ada pengaruh. Tetap penumpang kami di kisaran 700-1.000 penumpang. Malah kapal kami masih kurang penumpang, karena kapasitasnya 3.329 penumpang, tapi penumpangnya hanya seribuan saja,” terangnya.
Menurutnya, tidak berpengaruh pada antusias masyarakat dalam menggunakan transportasi laut dikarenakan penumpang telah memiliki selera perjalanan masing-masing. Kapal Pelni memiliki jangkauan ke sejumlah daerah, meski harga tiket pesawat murah penumpang tidak akan beralih.
Seperti misalnya rute Tarakan-Nunukan-Parepare, penumpang rerata setiap kapal 700-800, 70 persennya turun di Parepare.
Mengenai adanya tambahan petugas dan yang memandu calon penumpang menurutnya hal tersebut bukanlah disiapkan sebagai antisipasi peningkatan penumpang. Melainkan petugas tersebut ditempatkan semata-mata demi peningkatan layanan.
“Kami memang meningkatkan pelayanan agar calon penumpang bisa menulis mengisi identitas dengan duduk. Karena kita maunya ini calon lenumpang kan merasa nyaman kalau membeli tiket,” urainya.
USAHA TRAVEL TERANCAM GULUNG TIKAR
Agen travel mengaku kenaikan harga tiket pesawat berdampak. Apalagi dengan adanya penghapusan insentif dan penurunan komisi. Kebijakan tersebut diperkirakan berdampak terhadap penutupan usaha travel.
Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Tarakan Ridho Asnawi mengungkapkan, dampak dari kebijakan yang dikeluarkan pihak maskapai tersebut juga sangat dirasakan hingga ke Tarakan. “Ini sudah lama persoalannya. Jadi semenjak sudah adanya penjualan tiket online yang bermunculan dan maskapai sendiri menjual tiket. Beli di online kan kurang lebih harga di travel,” katanya.
Ditambahkannya, perusahaan penjualan tiket online harus didanai dengan modal besar. Penjualan tiket online menggerus produktivitas usaha jasa travel.
Semenjak diberlakukan kebijakan tersebut, rata-rata travel di Tarakan yang bisa bisa membukukan transaksi di atas Rp 100 juta per bulan. Saat ini hanya di angka Rp 50 juta per bulan. Padahal sebelum diberlakukannya kebijakan tersebut, travel bisa mendapatkan keuntungan yang lumayan.
“Sekarang insentif dihilangkan dan komisi pun dari 5 persen diturunkan menjadi 3 persen. Jadi pemasukan terkadang tidak mencukupi untuk membayar tempat usaha travel,” sebutnya.
Sementara itu, salah satu agen travel yang enggan disebutkan namanya menuturkan, pendapatan penjualan tiket sangat menurun dratis setelah adanya penjualan tiket online. Ia pun tidak menampik bahwa usaha travel miliknya bisa saja terancam tutup, lantaran adanya kebijakan penghapusan insentif.
“Kami biasanya dapat Rp 10 ribu per tiket, lumayan itu. Dulu itu menjadi harapan pemasukan dan sekarang sudah tidak ada. Kemudian komisi itu kecil menjadi 3 persen dari tarif bukan dari harga totalnya, kan potong PPN,” keluhnya.
Keluhan yang sama juga diungkapkan agen tiket penerbangan lainnnya, Aji. Kebijakan tersebut sangat merugikan dan mengancam usahanya tutup.
“Tergantung masing-masing agen. Kalau agen kecil ya otomatis pelan-pelan pasti tutup. Paling dalam jangka enam bulan tutup. Sekarang tidak ada komisinya,” singkatnya. (*/shy/zar/*zac/lim)
Editor : izak-Indra Zakaria