TARAKAN – Kasus demam berdarah kembali merebak, terbukti dalam dua bulan terakhir di awal 2019 ini sudah ditemukan 94 kasus dan satu orang meninggal dunia.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tarakan, Subono mengatakan saat ini ada peningkatan dibandingkan dengan bulan yang sama di tahun 2018 lalu. Dilihat secara nasional, banyak daerah di Indonesia yang mengalami kejadian luar biasa (KLB).
“Artinya, fenomena peningkatan KLB ini tidak hanya terjadi di Tarakan saja, tetapi sifatnya sudah nasional,” ungkapnya.
Pihaknya juga sudah memiliki SOP untuk pencegahan maupun penanggulangan DBD. Untuk pencegahannya dilakukan sosialisasi 3M plus, kemudian juga melakukan sosialisasi kepada tokoh-tokoh masyarakat, Ketua RT dan kepala-kepala sekolah terkait.
Berbagai sosialisasi terus dilakukan agar masyarakat terus bergerak untuk peduli terhadap lingkungan. Supaya tidak ada ruang atau media yang menjadi perkembangbiakan sumber penyakit seperti nyamuk demam berdarah dan tikus penyebar Leptospirosis. Pihaknya mengharapkan adanya kepedulian, karena penyakit ini banyak terjadi disebabkan oleh lingkungan dan perilaku masyarakat yang hampir mencapai 70 persen.
“Sedangkan untuk 30 persennya kemungkinan akibat turunan atau lainnya. Tetapi sebagian besar penyakit disebabkan oleh lingkungan dan perilaku masyarakat,” ujarnya.
Dikatakannya, semua kelurahan sampai saat ini sudah ada kasus DBD dan yang terbanyak terjadi di Karang Anyar. Karena wilayah Karang Anyar yang lebih luas dibandingkan wilayah lainnya. Meski di dua bulan pertama tahun 2019 ini sudah mencapai 94 kasus, di Tarakan sampai saat ini belum masuk KLB. Karena di Tarakan termasuk endemik, seluruh kelurahan di Tarakan tidak ada yang terbebas dari DBD dan itu sudah menjadi sejarah sejak dahulu.
Pihaknya juga saat ini melakukan fogging tetapi secara terfokus, dan ini sudah memiliki standar operasional prosedur (SOP). Ada laporan dari RT yang warganya terkena DBD, nantinya akan ditunggu laporan apakah positif atau tidak dari rumah sakit karena lewat laboratorium. Jika hanya gejala saja, tentunya belum positif, sehingga menunggu laporan dari rumah sakit dari hasil tes. Setelah positif, maka akan dilakukan penyelidikan epidemologi, dari petugas puskesmas melakukan survei di daerah sekitar kasus terjadi.
“Kalau memang terjadi penularan secara positif di daerah itu, maka akan dilakukan fogging terfokus di sekitar daerah itu. Radius sekitar 200 meter, sebanyak 2 kali. Di awal dan di akhir,” jelasnya. (*/naa/eza)
Editor : anggri-Radar Tarakan