Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Merangsang Kemandirian Ekonomi Warga di ‘Kampung Vaname’

anggri-Radar Tarakan • Jumat, 5 April 2019 - 22:05 WIB

Sukses menjadi seorang pengusaha tak lantas membuatnya berpuas hati, dirinya masih ingin terus memberi manfaat untuk orang banyak. Dia adalah Andre Pratama (41). Ayah dari tiga orang putri ini ingin mewakafkan dirinya membantu masyarakat khususnya di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, dengan mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. Kontribusi Andre nyata untuk masyarakat.

 

MEGA RETNO WULANDARI

 

MASIH seputar puluhan kepala keluarga di Desa Balansiku, Sebatik Induk, Kabupaten Nunukan dilibatkan dalam budi daya udang intensif di lahan tambak seluas 2.800 meter persegi. Februari lalu, panen kedua di lokasi itu mencatat produktivitas 6,7 ton udang vaname. Warga turut merasakan hasilnya.

Di dalam cita-cita Andre, ada banyak pola kerja sama yang dapat dikembangkan dengan melibatkan masyarakat.

 “Masyarakat atau warga jangan jadi penonton. Ini soal kemandirian warga ke depan. Hasil bersih setiap siklus. Mereka (warga) awalnya tawarkan untuk dibeli lahannya (tambak). Saya bilang enggak usah saya beli, besok anak cucu bapak-bapak mau bikin apa? Saya kan enggak mau seperti itu. Pun dengan orang yang berinvestasi di situ enggak bisa seenaknya,” ujar Andre mengawali bagaimana pola kemitraan itu berjalan.

“Malah di lahan saya sendiri, saya belum bikin (budi daya). Budi daya yang sudah berjalan itu lahannya milik warga. Insyaallah, pola kerja sama bisnis ini akan lebih cepat tumbuh, daripada menunggu warga mandiri. Tapi cita-cita kita mereka akan mandiri. Lama kelamaan mereka yang punya,” jelasnya.

Menurut Andre, tambak udang milik warga di Desa Balansiku tersebut sebagai salah satu cara memanfaatkan lahan non-produktif menjadi lebih menghasilkan. Menimbang aspek lingkungan, Andre mengaku jika tambak-tambak itu mengikuti segala aturan yang disyaratkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). “Kalau enggak ikut aturan, itu akan jadi catatan hitam di mata KKP. Di sini (Sebatik) juga kami diawasi Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltara, Karantina Sebatik. Hasil panen itu mengantongi sertifikiat CBIB, sebelum dibawa buyer menuju Kawasan Industri Makassar (KIMA),” ulasnya lagi.

‘Kampung Vaname’, seperti dicita-citakannya, mempunyai prospek tinggi. Di siklus ketiga ini, benur kembali ditebar. Andre mengaku masyarakat juga dapat mendorong pembentukan koperasi ke depannya. Dengan begitu masyarakat bisa bekerja bersama dan menikmati hasil bersama. “Ini industri ke depannya, ini juga kami memikirkan bagaimana pengembangannya.  Sharing teknologi, semakin banyak budi daya, produksi semakin tinggi, orang banyak bekerja, bisa industri, pendapatan masyarakat Kaltara juga meningkat, Kaltara bisa menjadi salah satu sentra produksi udang vaname,” katanya optimistis.

Andre menepis anggapan yang menyebutkan vaname tidak memiliki prospek yang cerah. Vaname juga kerap kali diisukan rentan terhadap penyakit. “Saya sudah pernah ber-tiger (budi daya windu) di kolam yang sama. Sebelum dipakaikan terpal, enggak bagus hasilnya. Enggak tahan. Kalau di vaname, cukup diterpal. Cukup dipikirkan kualitas airnya,” terangnya.

Vaname setiap kilonya dihargai Rp 54 ribu, dijemput langsung oleh buyer dari Makassar. “Kami enggak mikir lagi ongkos siapa yang bawa. Mereka jemput di Balansiku. Mereka datang dengan mobilnya memang didesain untuk membeli udang. Mereka panen. Baru bawa ke Makassar. Kami enggak memikirkan es lagi. 6,7 ton itu butuh 45 batang es balok ukuran 1 meter. Lebih praktis orang datang, tinggal angkut,” kata caleg DPRD Nunukan dari Partai Bulan Bintang (PBB) ini.

Di mata Andre, vaname bisa menjadi unggulan, mengikuti sukses beberapa daerah di tanah air. Seperti Kabupaten Barru. Ini vaname bisa di bak 8 x 10 meter, di pekarangan rumah saja bisa diaplikasikan. Kalau pemerintah mau membina ini, bisa jadi contoh. Seperti arahan DKP, Kampung Vaname ini sekitar 50-an hektare lebih. “Apa manfaatnya untuk masyarakat sekitar? Seperti Pak Baba. Pemilik lahan, sharing profit. Manajemen, atau operator, seperti pembudi daya, teknisi yang menjalankan hari-hari. Berbagi hasil dengan investor. Misalnya investor menyanggupi pakan dan benur, vitamin. Mereka dapat hasil nanti di situ. Pemilik lahan menunggu panen saja, dapat hasilnya, itu pola kemitraan untuk jangka pendeknya. Kalau pemilik lahannya sudah mampu, ke depan bisa digarap sendiri,” urainya.

Andre semakin yakin, jika Pemprov Kaltara dapat mewujudkan balai perikanan budi daya air payau di Sebatik, maka biaya produksi semakin bisa ditakan.

“Misalnya pakan. Kami ketemu dengan Pak Satrio, kita bisa bangun gudang pakan di Sebatik. Itu menghemat ongkos. Karena langsung dari Surabaya. Udang bertelur, indukan. Menetas di Sebatik, itu bisa menekan biaya benih atau benur sebesar 50 persen. Harganya cukup jauh. Kalau sampai di Sebatik kami terima Rp 120 ekor. Kalau di dalam pendederan kita misalnya, itu bisa menekan Rp 30 jutaan untuk 500 ribu ekor benih,” tambahnya.

“Pemerintah (Pemprov) sangat diharapkan masuk dalam bisnis di Sebatik ini, memberi sentuhannya. Misalnya dengan membentuk balai perikanan budi daya air payau itu. Saya dengar, DKP sudah menyiapkan ini. Mudah-mudahan bisa terwujud di tahun 2020 nanti,” harapnya. (*/lim/ana)

 

Editor : anggri-Radar Tarakan
#calon legislatif #feature