Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Wilayah Endemis, DBD Masih Menghantui Warga

anggri-Radar Tarakan • Selasa, 23 April 2019 - 22:34 WIB

TANJUNG SELOR – Meskipun saat ini kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kalimantan Utara (Kaltara) sudah berkurang. Namun hal itu masih menjadi momok yang menakutkan bagi warga. Pasalnya, Kaltara masuk dalam wilayah endemis DBD.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltara, Usman mengatakan, sejauh ini kasus DBD di Kaltara memang sudah jarang sekali ditemukan. Akan tetapi hal itu tidak bisa dijadikan acuan kalau kasus DBD tidak akan terjadi. “DBD ini bisa saja terjadi, khususnya di wilayah endemis,” kata Usman kepada Radar Kaltara, Sabtu (20/4).

Untuk itu, masyarakat diharapkan untuk selalu waspada serta aktif melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan gerakan 3M plus. Pertama, menguras, membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es dan lain-lain. Kedua, menutup, yaitu menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, tangki air, dan lain sebagainya. Ketiga, memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk penularan demam berdarah.

“Jadi itu salah satu langkah yang bisa digunakan untuk mengurangi perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti,” ujarnya.

Selain itu, masyarakat juga harus mengetahui gejala awal DBD. Selama ini banyak dari masyarakat jika ada keluarga yang mengalami demam tinggi hanyalah demam biasa. “Jika terjadi demam tinggi sebaiknya bawa ke rumah sakit untuk ditangani medis. Apabila positif DBD bisa secepatnya ditangani oleh tim medis,” ujarnya.

Jika fogging itu hanya akan membunuh nyamuk Aedes aegypti dewasa saja. Sementara nyamuk dewasa bisa bertelur hingga 800 telur. “Jadi membunuh nyamuk dewasa itu tidak akan bisa menghentikan siklus hidup nyamuk,” ujarnya.

Siklus nyamuk ini juga sangat cepat, bahkan dalam sepakan sudah bisa menetas. Sehingga fogging bukanlah langkah yang efektif dalam menghentikan siklus nyamuk. “Yang lebih efektif yakni melakukan PSN,” ujarnya.

Terlepas dari semua itu, Usman juga menyampaikan jika saat ini kasus penyakit leptospirosis tidak lagi ditemukan di Kaltara. khususnya di Kota Tarakan. “Kalau di awal tahun 2019 kita memang sempat menetapkan penyakit leptospirosis sebagai kejadian luar biasa (KLB),” ujarnya.

Penetapan KLB itu dilakukan karena selama ini kasus leptospirosis tidak perah terjadi, dan tahu ini menjadi tahun pertama adanya ditemukan kasus leptospirosis. “Kita harapkan tidak ada lagi kasus leptospirosis ditemukan, masyarakat juga diharapkan rutin melakukan pembersihan di lingkungan sekitar,” pungkasnya. (*/jai/eza)

Editor : anggri-Radar Tarakan