Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Takjil di Tarakan Masih Aman

anggri-Radar Tarakan • 2019-05-11 10:18:14

TARAKAN - Pengawasan takjil yang dilakukan di Bumi Paguntaka kembali dilakukan. Pasalnya, takjil yang terjual sepanjang jalan, masih dipertanyakan keamanannya untuk dikonsumsi masyarakat.

Kepada Radar Tarakan, Pengawas Farmasi Makanan  (PFM) Ahli Muda pada Loka POM Tarakan Rosa Yufita mengatakan bahwa pihaknya telah melaksanakan pemeriksaan di beberapa titik lokasi dan mendapatkan hasil memenuhi syarat. Dalam hal ini, POM melakukan uji khusus empat parameter bahan berbahaya yakni boraks, formalin, rhodamin B dan metanil yellow.

“Kami sudah menguji di empat parameter itu, dan hasilnya memenuhi syarat,” ungkapnya.

Dijelaskan Rosa, rhodamin B dan metanil yellow merupakan pewarna tekstil yang sering disalahgunakan untuk makanan.

Sementara itu, PFM Ahli Muda Loka Pom Tarakan lainnya, Hani Dwi Kustanti menambahkan bahwa pada dasarnya, keempat bahan seperti boraks, formalin, rhodamin B dan metanil yellow merupakan bahan berbahaya. Boraks dan formalin memiliki efek mengawetkan namun bukan untuk makanan, sebab seperti yang diketahui, formalin merupakan pengawet mayat sedangkan boraks biasa digunakan di industri kayu. “Kalau boraks itu mengenyalkan, biasanya kalau kenyal kan produknya jadi lebih bagus seperti bakso jadi kenyal dan bentuknya bagus, itu yang disalahgunakan,” tuturnya.

Proses pemeriksaan pun dilakukan di Markoni, Jalan Aki Balak, Juata Permai dan Karang Rejo. Selama Ramadan, pihaknya berencana untuk melakukan pemeriksaan di tujuh titik.

“Kami sudah tentukan titik-titiknya, tapi tentatif. Nanti dilihat, kadang kami bisa menggabungkan titik A dan titik B kemudian diuji dalam satu tempat,” jelasnya.

Adapun jenis sampel yang menjadi objek POM seperti kue, gorengan, minuman berwarna, pempek, ikan, pentol dan sayur masak. Jika pada deteksi awal hasilnya positif, selanjutnya akan dilakukan uji konfirmasi lebih dulu di laboratorium. Jika hasil negatif, maka hasil akhirnya tetap negatif. Namun, jika hasil akhirnya positif, maka POM akan menembuskan kepada instansi terkait, seperti Dinas Kesehatan.

“Kalau sudah diketahui jangka cepatnya positif, kami langsung amankan produk itu. Jangan sampai produk itu dikonsumsi masyarakat dan kami lakukan penelusuran ke tempat produksi. Kalau kami temukan benda berbahaya di tempat produksi, kami sita dan akan dilakukan pembinaan oleh Dinkes,” pungkasnya.

 

DLH IMBAU BAWA TAS

Untuk menekan produksi sampah plastik di bulan Ramadan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tarakan mengimbau kepada masyarakat agar membawa tas kain setiap berbelanja takjil. Hal tersebut dimaksudkan agar masyarakat tidak menggunakan kantong plastik.

"Diimbau kepada masyarakat agar kiranya di bulan Ramadan ini lebih sering membawa tas yang ramah lingkungan. Tidak hanya tas kain saja mungkin rantang kecil bisa dibawa ke mana-mana di bulan puasa ini. Mungkin menaruh di jok motor, di kantong atau dalam laci mobil," ujar Plt Kepala DLH Tarakan Supriono, kemarin (10/5).

Ia menerangkan, di bulan Ramadan setiap tahunnya produksi sampah plastik mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut, sebagian besar didominasi sampah kantong plastik. Selain karena meningkatnya aktivitas jual beli dengan kantong plastik di bulan Ramadan, bertambahnya jumlah pedagang di pinggir jalan juga merupakan faktor penyumbang bertambahnya sampah plastik.

"Setiap Ramadan memang ada peningkatan dan peningkatan itu sebagian besar karena bertambahnya sampah makanan dan kantong plastik. Tapi kalau sampah makanan kan bisa diambil petugas untuk dijadikan pupuk atau makanan ternak. Tapi kalau kantong plastik tidak bisa diapa-apakan lagi. Karena kan belanja tidak semua diniatkan sebelum keluar rumah. Tapi banyak juga yang terjadi spontan saat kita bepergian. Misalnya di jalan lihat kue berjejer akhirnya kepengin akhirnya beli. Di situlah ada aktivitas menggunakan kantong plastik. Jadi, kalau keluar bawa tas kain dan rantang. Jadi setiap mau belanja tidak perlu kantong plastik lagi," tuturnya.

Meski demikian, ia menerangkan jika barang belanja tidak memungkinkan untuk disimpan pada tas kain, maka boleh menggunakan kantong plastik. Bagaimana pun, kenyataannya tidak semua barang belanjaan dapat dimasukkan pada kedua benda tersebut.

"Kecuali mungkin membeli sesuatu yang tidak bisa menggunakan tas kain. Mau tidak mau mengharuskan pakai plastik saja," jelasnya.

Ia menerangkan, imbauan tersebut bertujuan untuk mengurangi produksi sampah plastik namun tidak melarang peredarannya. Meski begitu, ia tidak menyarankan masyarakat menggunakan kantong plastik saat berbelanja.

Walau begitu, Supriono mengaku sudah menerapkan kebiasaan tersebut sejak beberapa bulan lalu.

"Saya pribadi selama Ramadan sudah menerapkan itu sejak beberapa bulan lalu. Saya ke mana-mana selalu bawa tas kain di jok motor. Jadi kalau di jalan ada yang mau saya beli jadi saya bisa tidak perlu kantong plastik lagi," pungkasnya. (*/zac/lim)

 

Editor : anggri-Radar Tarakan
#takjil