TARAKAN – Bayi yang diketahui bernama Mizyan Haziq Abdillah, sebelumnya pernah dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan. Tepatnya pada 12 Oktober hingga 17 Oktober 2019.
Dokter spesialis kulit dan kelamin di RSUD Tarakan dr. Yuli Megasasi, Sp.KK, mengatakan saat masuk di RSUD Tarakan, kondisi kulit Mizyan Haziq Abdillah terdapat bercak merah di seluruh badan dan kulit mengelupas disertai pecah-pecah.
“Awalnya dirawat dokter anak yaitu dr. Dian, karena adanya kegawatan 3 hari kemudian konsultasi ke saya. Kecurigaan saya pertama adanya proses genetik, kedua dermatitis seboroik, dan dermatitis atopik,” katanya mengawali penjelasan saat ditemui Radar Tarakan di kliniknya, kemarin (8/11).
Untuk mengetahui penyakit dan kelainan yang diderita Mizyan Haziq Abdillah, dilakukan pula biopsi kulit atau punch biopsy. Dari hasil pemeriksaan patologi anatomi ini, diketahui penyakit yang diderita Mizyan Haziq Abdillah adalah dermatitis seboroik pada infantil atau anak-anak.
“Setelah dilakukan punch biopsy di lengannya, ternyata hasilnya dermatitis seboroik pada infantil,” jelasnya.
Lebih lanjut dijelaskan dr. Yuli Megasasi, Sp. KK, untuk penatalaksanaannya saat dirawat di RSUD Tarakan, Mizyan Haziq Abdillah diberikan emolien atau pelembap, kortikosteroid topikal yang potensinya lemah seperti obat hydrocortisone 2.5 peren.
“Dirawat dari 12 Oktober sampai 17 Oktober, kemudian dipulangkan dengan keadaan sudah membaik. Memang masih ada bercaknya, tidak sembuh total, tapi sudah membaik, kegawatannya sudah teratasi, tanda infeksi sudah ditangani,” bebernya.
Karena kulitnya yang pecah-pecah, berpotensi sebagai pintu masuknya bakteri. Sehingga kondisi kulit bayi harus tetap terjaga dan lembap agar tidak pecah-pecah.
Meski keadaannya sudah membaik, tetapi penyakit ini akan kambuh bila terdapat faktor pencetus. Seperti adanya debu, lingkungan yang kurang bersih maupun tungau. “Yang ngerinya juga kulitnya pecah-pecah, jadi bisa komplikasi terinfeksi karena masuk bakteri. Jadi kulitnya harus dijaga agar tetap lembap, dan tidak pecah-pecah,” katanya.
Saat dirawat di rumah pun orang tua tetap memperhatikan kondisi kulit bayi, dan mempertahankan kelembapannya. Mulai dari pemakaian sabun yang mengandung pelembap tinggi, dan salep ataupun losion.
“Itu sakit dan gatal karena kulitnya bersisik. Iya, ini termasuk penyakit langka. Kalau di Tarakan ini baru pertama kali saya temukan, tapi saat pendidikan di luar ada beberapa yang saya temukan dan memang penyakit ini jarang,” bebernya.
Lantas apakah penyakit yang diderita Mizyan Haziq Abdillah dapat sembuh total? Dermatitis seboroik ini bisa sembuh, namun dapat kambuh sewaktu-waktu.
“Kan ini muncul saat bayinya berusia 3 bulan, dan sekarang usianya 6 bulan. Jadi selama menderita ini, tidak pernah sembuh total tapi dilakukan perbaikan-perbaikan saja. Kalau infantil itu bisa sembuh pada masa pubertas, beda lagi sama x linked ichthyosis itu bisa seumur hidup. Kalau Dermatitis seboroik itu bisa sembuh tapi bisa kambuh lagi,” jelasnya.
Yang harus diperhatikan orang tua saat merawat bayinya di rumah, tidak mencampurkan air untuk mandi dengan dedaunan. Kemudian menggunakan sabun mengandung pelembap tinggi. Usai mandi, bayi dikeringkan dengan handuk lembut, dan langsung diberi salep atau losion pelembap kurang dari 15 menit.
“Karena kalau sudah lewat 15 menit, itu sia-sia karena air sudah menguap dan tidak tertahan di kulit. Jadi setelah dikeringkan, langsung diolesi pelembap. Air mandinya juga tidak boleh dicampur macam-macam, karena biasa ada orang yang kasih daun sirih, garam,” tutupnya.
CEGAH PENYAKIT DERMATITIS SEBOROIK
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nunukan akhirnya turun tangan menangani Mizyan Haziq Abdillah. Pemkab menanggung semua biaya pengobatan selama Mizyan berada di RSUD Nunukan.
Kabag Humas dan Protokol Setkab Nunukan Hasan Basri menyampaikan, Bupati Nunukan Hj. Asmin Laura Hafid meminta langsung RSUD Nunukan untuk melayani pasien dengan maksimal. Bupati juga memberikan perhatiannya dengan mengirimkan bantuan meski sedang berada di luar daerah.
“Segala fasilitas pemerintah yang ada, coba kami gunakan untuk membantu sehingga orang tua pasien tidak terbebani dengan biaya pengobatan. Orang tua Miyzan diupayakan selama proses kesembuhan untuk tetap di Nunukan, karena mungkin akan butuh waktu yang lama untuk proses penyembuhan. Mereka bermukim sementara di rumah singgah RSUD Nunukan,” jelas Hasan Basri.
Ketua tim penanganan pasien Mizyan, dr. Erlin Ari Windyareski mengatakan, kondisinya pasien sudah berangsur lebih baik dari saat pertama kali datang. Pihaknya akan terus lakukan perawatan hingga sembuh.
“Sejauh ini, kami terus melakukan perawatan pada permukaan kulit dengan mengupayakan kelembapan kulitnya dan memberikan treatment untuk dehidrasinya. Dengan terus dilakukan perawatan, kami optimistis pasien akan sembuh,” kata Erlin.
Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Nunukan, Sabaruddin mengatakan, terkait upaya pencegahan, pihaknya telah melakukan melalui kampanye perilaku hidup bersih dan sehat tingkat rumah tangga, penyuluhan kesehatan pada posyandu, kelas ibu balita kemudian pos usaha kesehatan kerja untuk petani rumput laut.
Hanya, hingga saat ini, upaya pencegahan khusus seperti vaksinasi itu memang belum ada program dan vaksinnya. “Ya, sampai sekarang belum ada vaksin untuk dermatitis, karena penyakit ini terjadi disebabkan infeksi umum pada kulit, jadi belum spesifik itu tergantung kumannya apa, bakteri apa, jamur dan sebagainya, biasanya diagnosa spesifik setelah dilakukan pemeriksaan patologi klonik, baru dokter akan tegakkan diagnosa misalnya dermatitis akibat infeksi staphilococcus dan sebagainya,” jelas Sabaruddin.
Kendati begitu, pihaknya mengimbau kepada keluarga yang punya bayi dan balita mewajibkan diri untuk membawa buah hati ke posyandu. Bagi yang hamil, baiknya melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC) minimal 4 kali dan mengikuti kelas ibu hamil, melakukan pemeriksaan pasca persalinan (PNC), serta menerapkan 10 pola hidup sehat dan bersih (PHBS) dalam keluarga.
10 PHBS itu yakni, melahirkan harus ditolong tenaga kesehatan, pemberian ASI ekslusif pada bayi selama 6 bulan, lalu pemberian ASI dan makanan pendamping sampai bayi berusia 2 tahun, lakukan penimbangan bayi setiap 3 bulan sekali, penggunaan air bersih, cuci tangan pakai sabun, menggunakan toilet. Kemudian pemberantasan jentik nyamuk, makan sayur-sayuran yang mengandung vitamin A, olahraga 30 menit per hari dan dilarang merokok di rumah. (*/one/raw/lim)
Editor : anggri-Radar Tarakan