TIDAK banyak orang mampu mengolah limbah menjadi barang bermanfaat dan bernilai ekonomis. Namun bagi Agustryanti, mengolah limbah menjadi barang bermanfaat merupakan aktivitas yang menyenangkan.
Agustryanti merupakan anggota komunitas Gaul Bah yang bergerak di bidang ekonomi dan pembangunan. Di waktu luangnya, ia mengumpulkan limbah kantong plastik, koran bekas, botol bekas, enceng gondok, dan masker medis bekas sebagai bahan kerajinan tangan seperti tempat tisu, tas pasion, dan pas bunga dan lainnya.
Untuk mendapatkan limbah plastik, biasanya ia meminta bantuan orang lain, bahkan ke sejumlah ibu-ibu pejabat. Kerap pula ia mendapatkan plastik bekas dari pedagang. “Paling tidak ibu-ibu penjabat-lah yang mengurangi limbah sampah baru rakyat biasa,” katanya.
Pembuatan satu tas pasion dari limbah plastik membutuhkan waktu yang cukup panjang, sekitar tiga bulan. “Karena mengumpulkan dan mencocokkan warna plastiknya sedikit agak sulit agar terlihat serasi. Sedangkan membuat tempat tisu dari koran bekas sangat mudah. Karena bahan bakunya cepat jika dicari. Dan biasanya kita cari koran bekas itu di instansi,” ungkap Yanti, sapaan akrabnya.
Banyak istri penjabat di Kaltara kepincut dan membeli hasil karyanya, untuk dijadikan koleksi pribadi. Biasanya, tas dibandrol seharga Rp 250 ribu-Rp 300 ribu.
“Tergantung tingkat kesulitan juga. Dulu pernah dibeli jajaran Dinas Pemberdayaan Perempuan Provinsi, bingkai foto dari koran untuk Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Deklarasi gubernur dahulu, juga meminta bingkai dari koran. Itu dibeli satu bingkai Rp 1 juta dan saya buat dua bingkai,” ucapnya.
Dari lima daerah di Kaltara, produk kerajinannya juga banyak terjual di Kabupaten Malinau dan Tana Tidung. (*/nnf/mua/uno)
Editor : uki-Berau Post