Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Masya Allah, Masjid Nurul Bahri Dibangun di Atas Wakaf Seorang Pendeta

anggri-Radar Tarakan • 2021-08-23 15:30:36
SIMBOL KEPEDULIAN ANTARSESAMA: Takmir Masjid Nurul Bahri, Sufirman berdiri di depan Masjid Nurul Bahri di RT 14 Binalatung, Pantai Amal, Tarakan Timur./AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
SIMBOL KEPEDULIAN ANTARSESAMA: Takmir Masjid Nurul Bahri, Sufirman berdiri di depan Masjid Nurul Bahri di RT 14 Binalatung, Pantai Amal, Tarakan Timur./AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

Masjid Nurul Bahri, masjid yang masih asing bagi sebagian masyarakat Tarakan. Masjid ini terletak di RT 14 Binalatung, Kelurahan Pantai Amal, Tarakan Timur. Resmi digunakan sekira sejak 2014 silam. Masjid ini juga memiliki cerita panjang saat didirikan. 

AGUS DIAN ZAKARIA

DILIHAT dari bentuk bangunan, masjid ini tidak jauh berbeda dari masjid pada umumnya. Masjid Nurul Bahri berukuran 20 x 50 meter dibangun di atas tanah wakaf seorang pendeta pada 2012 silam.

Takmir sekaligus Ketua Panitia Pembangunan Masjid Nurul Bahri, Sufirman mengakui kesulitan warga RT 12, 13 dan 14 Binalatung akan rumah ibadah saat itu. Ia menceritakan, sebelum berdirinya Masjid Nurul Bahri ia dan warga lainnya harus berjalan cukup jauh untuk menunaikan salat berjemaah atau tepatnya harus ke RT 11, Kelurahan Pantai Amal.

Suatu ketika hadir seorang pendeta bernama Thomas Maruli. Ia merupakan warga Malinau. Beberapa kali ia datang ke tempat tersebut.

Melihat masyarakat yang kesulitan beribadah akhirnya ia mewakafkan sebagian tanahnya untuk dibangun masjid.

“Awalnya kami di sini belum ada masjid. Jadi kalau salat hanya di rumah masing-masing. Kecuali hari Jumat, kami ke RT 11 untuk salat Jumat karena hanya di sana yang ada masjidnya. Akhirnya di tahun 2012, Pak Thomas Maruli datang ke sini,” ujarnya, Minggu (22/8).

“Waktu itu dia bermaksud menjual tanahnya seluas 100 kali 200 meter. Tapi mungkin karena tidak melihat ada masjid di sini, dia menghibahkan tanahnya seluas 20 kali 50 untuk dibangun masjid. Sedangkan tanah sisanya dia jual kepada orang lain,” sambungnya.

Setelah tanah itu diserahkan, masyarakat yang sejak dulu menginginkan kehadiran masjid sangat antusias dan segera melakukan pembangunan masjid. Bermodal swadaya masyarakat setempat bergotong-royong melakukan pembangunan.

“Dengan ikhlas dia menghibahkan sedikit tanahnya untuk masyarakat. Setelah  penyerahan hibah melalui ketua RT, akhirnya pak RT waktu itu mengumpulkan kami dan langsung mengadakan pembentukan panitia pembangunan masjid,” tukasnya.
“Di tahun 2012 pembangunannya mulai kami kerjakan. 90 persen masjid ini dibangun dari swadaya masyarakat. Masyarakat sangat antusias bahu-membahu, ada yang menyumbang tenaga, uang, dan materiel untuk pembangunan masjidnya,” lanjutnya.
Kendati begitu, pembangunan sempat terhenti karena terkendala anggaran. Meski begitu, dengan niat yang kuat akhirnya sedikit demi sedikit masyarakat kembali dapat melanjutkan pembangunan.
“Kemudian sedikit-sedikit mengumpulkan uang akhirnya 2013 kami mulai melanjutkan pengerjaan dan 2014 masjid ini sudah bisa digunakan salat. Meski belum jadi 100 persen,” terangnya.

Di tengah perjalanan pembangunan, juga sempat terkendala akses jalan. Kendaraan pengangkut materiel kesulitan menjangkau lokasi. Masyarakat pun menggunakan perahu untuk membawa materiel sampai ke lokasi.

“Di masa pengerjaannya jalan di sini dari Amal ke Binalatung tidak sebagus sekarang. Dulu jalan seperti kubangan lumpur, jadi kalau truk sering amblas. Jadi materiel masjid ini kami angkut pakai perahu. Mobil pengantar hanya menaruhnya di pinggir pantai saja, kemudian kami yang teruskan pakai perahu ke sini,” tukasnya.

Setelah tahap demi tahap dikerjakan, pertengahan 2014, Masjid Nurul Bahri sudah dapat digunakan. “Jadi masjid ini perdana digunakan salat tarawih di bulan Ramadan 2014. Ini seperti kado bagi masyarakat di sini yang sejak dulu menginginkan adanya masjid. Di hari ke-20 Ramadan 2014 baru diresmikan walaupun waktu itu belum jadi 100 persen,” tuturnya.

Atas usaha dan doa akhirnya keinginan masyarakat terkabul. Kendati demikian, ia tidak melupakan sosok pendeta yang mewakafkan tanahnya tersebut. Bahkan warga setempat menyarankan nama pewakaf dapat diabadikan di monumen masjid sebagai simbol toleransi.

“Kami sangat berterima kasih kepada Pak Thomas, meski dia bukan warga sini, tapi beliau memiliki jiwa sosial yang besar untuk kepentingan masyarakat. Tahun lalu kami sempat mengusulkan kalau masjid ini bisa dijadikan simbol toleransi. Saya pernah membicarakannya ke MUI dan Baznas. Tapi karena mungkin masih pandemi Covid-19, jadi sampai saat ini belum ada lanjutan,” tukasnya.

Menurut Sufirman, setidaknya histori tersebut dapat memberi inspirasi pentingnya nilai toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Menunjukkan kerukunan umat beragama di Kaltara. “Paling tidak di sini ada monumen, atau apalah yang menuliskan nama orang yang menghibahkan. Jadi ini bisa jadi simbol bahwa umat beragama di Kaltara ini memiliki toleransi yang tinggi dan mungkin bisa jadi inspirasi masyarakat di mana pun,” ungkapnya.

Sufirman cukup terkesan. Sejak menjadi takmir ia tidak pernah mengambil insentifnya dengan maksud agar uang tersebut dapat dialihkan untuk kebutuhan masjid.

“Itu juga yang menginspirasi saya secara pribadi. Sehingga selama menjadi imam dan takmir masjid ini saya juga tidak pernah mengambil sepeser pun gaji saya. Mungkin itu bisa dialihkan untuk pembangunan masjid ini,” tukasnya.

Masjid Nurul Bahri adalah satu dari potret sekian banyak cerita dari sikap toleransi dan rasa saling peduli antara sesama umat beragama.  Atas sikap toleransi yang cukup tinggi, sehingga tidak mengherankan jika Kaltara termasuk provinsi yang dianggap sangat toleran di Indonesia. Semoga sikap toleransi tersebut terus mengakar dan terjaga dalam masyarakat. (***/lim)

 

 

 

 

 

 

Editor : anggri-Radar Tarakan