TARAKAN – Beberapa pelajar diamankan Unit Reskrim Polsek Tarakan Barat, karena terlibat perkelahian. Perkelahian antar pelajar SMA Negeri 1 Tarakan terjadi sekira pukul 09.00 Wita, Selasa lalu (25/1) berakhir dengan didamaikan.
Kapolres Tarakan AKBP Taufik Nurmandia melalui Kapolsek Tarakan Barat Iptu Angestri mengatakan, perkelahian ini berawal dari tiga siswa SMA Negeri 1 Tarakan, MA, KF dan AR di salah satu lorong kelas X.
Ketiganya merasa tersinggung saat dilirik korban NF yang sedang melintas. Lirikan NF mengakibatkan cekcok mulut, hingga akhirnya terjadi keributan dan pemukulan.
“Korban mengalami luka di bagian wajah, pelipis kiri dan lengan kanan, kiri maupun badannya ada luka memar. Korban kemudian lapor ke polisi dan kami lakukan visum,” tuturnya.
Dari hasil visum, korban mengalami luka-luka dan ketiga siswa yang melakukan pemukulan langsung dibawa ke Polsek Tarakan Barat untuk dimintai keterangan. Ketiganya juga diamankan 1x24 jam di Polsek, setelah memberitahukan kepada pihak keluarga para siswa yang berusia di bawah umur.
Setelah dipertemukan para siswa, pihak keluarga korban dan ketiga siswa maupun pihak sekolah akhirnya sepakat untuk damai setelah dua kali pertemuan. Namun, ketiga siswa masih diminta wajib lapor untuk dilakukan pembinaan.
“Sama-sama komitmen, konsisten dan konsekuen. Kalau dilanggar atau diulangi perbuatan itu, terima konsekuensinya. Kami upayakan wajib lapor. Salah satu bentuk pembinaan dan pengawasan di kepolisian. Supaya sadar, hukum tidak memandang usia dan perlakuan hukum tetap sama,” tegasnya.
Ia meminta agar pelajar yang terlibat tawuran ini mendapatkan pembinaan maupun pengawasan di rumah dan sekolah. Terlebih lagi dari catatan pihak sekolah, ketiga siswa sebelumnya sudah pernah diberikan teguran dan catatan khusus. Sehingga perlu perhatian lebih intensif dari sekolah dan orang tua.
“Masalahnya mungkin salah paham, tidak kenal malah memandang terus jadi terpancing emosi. Para pelajar ini beda jurusan, tapi sama-sama kelas X,” ungkapnya.
Angestri meminta pihak sekolah dan orang tua bersama-sama memperhatikan pembinaan. Dengan cara kegiatan ekstrakulikuler atau kegiatan lain yang melibatkan para pelajar. Sehingga bisa saling memahami dan bersosialisasi, saling kenal dengan siswa lain.
“Jangan berpikir kejadian ini satu pemicu konflik, tapi pelajaran untuk lebih silaturahmi dan belajar ada tanggung jawab terhadap perilaku anak kita,” pesannya.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Tarakan Weti Heri Murtiningrum menambahkan, pembinaan juga dari kepolisian seperti wajib lapor. Selain itu, di sekolah nantinya akan menjadi kewajibannya memberikan pembinaan di lingkungan sekolah.
“Inilah pembinaan yang akan kami lakukan selanjutnya. Korban dalam hal ini, siswa semua juga bisa terlaksana dengan jalan kekeluargaan,” singkatnya. (sas/uno)
Editor : izak-Indra Zakaria