Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Di Tarakan, Sudah 4 Orang Meninggal Karena DBD

izak-Indra Zakaria • Kamis, 13 Oktober 2022 - 21:00 WIB
dr Devi Ika Indriarti
dr Devi Ika Indriarti

TARAKAN - Tercatat sudah ada empat orang meninggal karena kasus demam dengue atau biasa disebut Demam Berdarah (DBD) yang terjadi di Kota Tarakan.

Sejak Januari-September 2022, laporan yang didata oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Tarakan mencapai 400 kasus ditangani rumah sakit dan Puskesmas. Kepala Dinkes Tarakan, dr Devi Ika Indriarti mengakui, sejak Januari kasus DBD tidak pernah mengalami penurunan. Bahkan puncak kasus DBD terjadi pada Agustus 2022 dan parahnya di September lalu mencapai 60 kasus.

“Puncak DBD terjadi pada Agustus 2022 agak tinggi. Berharap di Oktober, November dan Desember, tidak lagi terjadi peningkatan kasus. Total 400-an lebih kasus DBD dan tidak melihat umur. Ada anak-anak, dewasa dan orang tua,” ungkapnya, Rabu (12/10).

Dinkes menyayangkan adanya empat orang meninggal dunia dari kasus DBD. Padahal Dinkes sudah berulang kali mengimbau kepada masyarakat, untuk meningkatkan kegiatan 3M. Yakni menguras, mengubur dan menutup. Bahkan penggunaan barang bekas juga harus selalu diperhatikan.

“Yang meninggal anak-anak pada Februari lalu ada dua orang, April satu anak dan September satu orang,” sebutnya.

Upaya fogging atau pengasapan dengan menyemburkan racun pembunuh nyamuk dewasa saat ini masih sering dilakukan. Namun untuk penyemprotan fogging harus melakukan penyelidikan epidomologi terlebih dahulu.

“Kalau kami dilaporkan ada kasus positif, dari Puskesmas lakukan penyelidikan. Kalau positif baru lakukan fogging, karena yang dimatikan adalah nyamuk dewasa,” jelasnya.

Lebih lanjut, kata Devi, penyelidikan epidomologi untuk memastikan sumber penularan, apakah di lokasi tersebut atau bukan. Namun langkah paling ampuh yang bisa dilakukan, yakni mematikan jentik nyamuk. Sebagai sumbernya dengan abatisasi atau memberantas penyakit demam berdarah dengan menaburkan bubuk Abate di bak penampung air atau drum.

“Kalau ada positif lalu ditanya kenapa tidak fogging. Kemungkinan bukan di wilayah itu sumber penularannya. Bukan di situ tertular tapi tempat lain. Membunuh dari awal dan tidak ada nyamuk di tempat kita. Tingginya angka DBD korelasi dengan angka bebas jentik, yang masih di bawah 95 persen,” urainya.

Ia juga menegaskan, bubuk Abate bisa diambil secara gratis melalui Puskesmas. Jika dari Puskesmas mengalami kekosongan bubuk Abate, maka bisa meminta langsung ke kantor Dinkes Tarakan.

“Sejak awal sudah selalu diimbau menerapkan 3M. Bahkan itu sudah dituangkan dalam Surat Edaran Wali Kota Tarakan. Tak mungkin hanya kami yang bergerak, tapi masyarakat tidak bergerak. Karena kalau kita melihat dari Januari sampai sekarang kasus DBD tidak pernah turun, malah tambah naik,” tuturnya. (sas/uno)

Editor : izak-Indra Zakaria
#kesehatan