TARAKAN–PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Regional 4 Tarakan mengklaim tidak ada kenaikan tarif peti kemas. Saat ini terjadi perubahan pengelolaan manajemen lapangan peti kemas.
"Dulu lapangan dikelola pihak pelayaran dan setelah Januari diserahkan ke Pelindo untuk mengelola. Tadinya pelayaran kontrak atau sewa lapangan, sekarang diserahkan ke Pelindo pengelolaannya. Itu pun atas permintaan," jelas General Manager PT Pelindo Regional 4 Tarakan Rio Dwi Santoso, Senin (22/5).
Pihaknya dulu punya lahan disewa pelayaran. Sekarang Pelindo yang mengelola, cost dikeluarkan pengguna jasa atau JPT. Bedanya kalau dulu mereka bayar di pelayaran, sekarang pengguna jasa bayar tarif ke Pelindo.
Sebelum perubahan, tarif yang dikenakan mencapai Rp 75.000 yang ditambah Rp 50.000. Namun, saat dikelola Pelindo, tarifnya Rp 105.000 ditambah Rp 30.000. Jika ditotal, hanya ada kenaikan Rp 10 ribu.
Dia menyebut, kontribusi Jasa Pengurusan Transportasi (JPT) yang melakukan bongkar muat dan mendatangkan barang dari luar atau mengirim cukup besar. Sementara yang masuk peti kemas yang pasti Pelindo menghasilkan pendapatan. Sehingga ada beberapa kegiatan dengan berbeda tarif.
"Semakin banyak kegiatan maka Pelindo memiliki pendapatan dan uangnya dikembalikan ke negara dan dalam hal ini, tugas Pelindo menjamin kelancaran negara," ujarnya.
Saat ini Tarakan sudah memiliki pelabuhan internasional. Meskipun, lanjutnya, belum ada yang direct call langsung ke luar negeri. Sementara yang bisa perdagangan langsung keluar negeri itu dalam aturan, yakni pelabuhan terbuka atau internasional.
Tarakan dari dulu sudah menjadi pelabuhan internasional. Namun, peti kemas tidak ada langsung keluar negeri karena tiada pengiriman yang direct.
"Saat ini yang menjadi persoalan ada di volume. Karena tidak mungkin misalnya mengirim ke China 400 boks satu kapal. Sementara di Tarakan misalnya hanya sanggup mengirim 10 boks. Akhirnya dikumpulkan dulu transit di Surabaya atau Makassar baru kemudian dibawa keluar negeri," ungkapnya.
Komoditas yang potensi ekspor adalah rokok, batu bara, plywood, dan rumput laut. Sehingga nantinya bisa saja mencarter satu kapal dikirim melalui Tarakan.
"Mimpi kami ya itu Tarakan ini Singapura-nya Indonesia timur. Sebenarnya setiap jasa angkut mau saja mengangkut ke mana saja yang penting ada demand. Misalnya satu dua orang saja mau ke Jepang, tidak mungkin. Karena kalau berbicara demand, kami ambil sampling data sebelum Covid-19 permintaan cukup tinggi," imbuhnya. (kpg/kri/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria