Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Sempat Tertutup Rumput Laut, Alur Pelayaran di Nunukan Kembali Dibuka

izak-Indra Zakaria • Selasa, 11 Juli 2023 - 10:19 WIB
DITERTIBKAN: Budi daya rumput laut di Nunukan menutupi sebagian alur pelayaran. FOTO: RADAR TARAKAN
DITERTIBKAN: Budi daya rumput laut di Nunukan menutupi sebagian alur pelayaran. FOTO: RADAR TARAKAN

Aktivitas budi daya rumput laut yang menutup alur pelayaran di perairan Mamolo akan dibuka kembali. Ini berdasarkan kesepakatan hasil rapat koordinasi (rakor) penataan budidaya rumput laut yang masuk dalam alur pelayanan di perairan Mamolo, Nunukan.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Utara (Kaltara), Rukhi Syayahdin menyampaikan, alur pelayaran umum merupakan perairan yang dan segi kedalaman cukup untuk dilalui dan bebas hambatan aktifitas pembudidaya. Sehingga, memudahkan gerak kapal dan alat apung lainnya. Alur pelayaran memiliki fungsi untuk memberikan jalan kepada kapal atau alat apung untuk keluar dan masuk suatu wilayah. “Jika alur pelayaran terganggu maka, akses keluar masuk penumpang dan barang akan terganggu. Harga kebutuhan pokok akan meningkat. Komoditas hasil usaha perikanan dan pertanian akan sulit berkembang. Dan pelayanan pasien UGD atau darurat rujukan akan terhambat,” ucap Rukhi kepada Radar Tarakan, Minggu (9/7).

Dijelaskan, usaha budi daya rumput laut di Kaltara merupakan urat nadi dalam perputaran ekonomi. Pesatnya perkembangan rumput laut menimbulkan sejumlah potensi konflik. Di antaranya, pembudidaya dengan pengguna alur pelayaran.

Apalagi, produksi rumput laut Kaltara merupakan produksi terbesar di Indonesia. Dan Nunukan merupakan lokasi strategis. Sehingga, memberikan dampak pada ekonomi yang dirasakan secara langsung masyarakat. “Potensi rumput laut di Kaltara pada 2021 621.875,45 ton. Kemudian naik pada 2022 sebesar 788.967,33 ton pertahun. Untuk Nunukan sendiri pada 2021 sebesar 416.229,85 ton dan pada 2022 juga naik sebesar 587.458,73 ton,” sebutnya.

Dari hasil rakor terkait adanya aktivitas pembudidaya rumput laut di zona alur pelayaran di perairan Mamolo sejumlah kesepakatan disetujui. Pertama, pembukaan kembali alur pelayaran yang tertutup aktivitas budidaya rumput laut di perairan Mamolo dan sekitarnya yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat sesuai dengan Surat Edaran (SE) Gubernur Kalimantan Utara Nomor 5212398/DKP/GUB. Kedua, pembukaan kembali alur pelayaran yang tertutup oleh aktivitas budidaya rumput laut di perairan Mamolo dan sekitarnya akan dilaksanakan dengan lebar 150 meter dan panjang sekira 7.400 kilometer. “Hasil kesimpulan apa yang berdampak masalah harus diselesaikan. Misalnya alur pelayanan agar berjalan sinergis. Alur pelayanan harga mati kebutuhan orang banyak,” jelasnya.

Selanjutnya, berdasarkan kesepakatan pada poin a dan b akan dilaksanakan pemasangan tanda batas (buoy) budi daya rumput laut di perairan Mamolo. Rencananya, akan dilakukan pada akhir Juli 2023 mendatang. “Pemasangan akan dilakukan pada siklus air mati perkiraan mulai 20 hingga 28 Juli 2023. Dan kesepakatan ini ditandatangani dari perwakilan dari pihak yang mengikuti rakor penataan budi daya rumput laut yang masuk dalam alur pelayaran di wilayah perairan Mamolo,” tegasnya.

Ke depannya, ia berharap masyarakat yang ingin memasang pondasi rumput laut agar berkomunikasi dan berkoordinasi den dinas terkait. Tujuannya, untuk mengetahui wilayah budi daya dan alur pelayaran. “Kita ingin masyarakat mengubah mindset agar jika ingin pasang pondasi laporan ke dinas untuk mengetahui lokasi yang akan dipasang tidak masuk zonasi atau tidak. Masuk budidaya atau tidak. Karena yang dibutuhkan agar tidak terjadi persoalan dikemudian hari yakni sistem pengawasan masyarakat. Tentunya ini dilakukan secara bersama-sama baik penegakan hukum, instansi terkait dan masyarakat,” pungkasnya. (akz/lim)

Editor : izak-Indra Zakaria