Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Pergulatan Meningkatkan Kondisi Kesehatan di Bumi Cenderawasih

uki-Berau Post • 2023-08-25 00:13:07
PARA PEREMPUAN TANGGUH: Dokter Sri Hayati dalam kegiatan pemberian nutrisi tambahan di Dusun Daboto, Distrik Biandoga, Intan Jaya.
PARA PEREMPUAN TANGGUH: Dokter Sri Hayati dalam kegiatan pemberian nutrisi tambahan di Dusun Daboto, Distrik Biandoga, Intan Jaya.

Mama Rikha Rumadas mendirikan posyandu, membangun PAUD, dan menanam bakau di sela membantu suami yang bekerja sebagai nelayan. Sri Haryati membuka tujuh klinik dan rutin berkeliling ke tujuh titik yang masing-masing aksesnya butuh 2–3 hari berjalan kaki itu.

 

FERLYNDA PUTRI, Jakarta

 

KEMARAHANRikha Rumadas muda yang tak kunjung diterima jadi pegawai negeri akhirnya membawanya ke jalan pengabdian untuk anak-anak di Manokwari, Papua Barat.

Dia mendirikan posyandu, membangun pendidikan anak usia dini (PAUD), dan kini mulai merawat bakau sebagai bagian ikhtiar pengayaan nutrisi.

“Saya punya ijazah cuma sampai SMEA (kini SMK, Red), papa saya seorang sopir, dan saya tes pegawai tidak pernah lolos,” katanya kepada Jawa Pos setelah menerima penghargaan kader berprestasi dari Kementerian Kesehatan di Jakarta pada 15 Agustus lalu.

Semua bermula di kampung tempat suaminya berasal di Guruacemo, Manokwari, pada 1994. Di sanalah Rikha tergugah menjadi kader di posyandu kelurahan.

Pemahaman para orang tua di kawasan tersebut saat itu belum bagus sehingga kader harus berkeliling dari pintu ke pintu. Kegiatan di posyandu pun sebatas menimbang berat badan anak.

Lima tahun mengabdi sebagai kader, pada 1999 Rikha kembali ke kampungnya yang berada di Wamesa, juga di Manokwari. Di sana dia melihat banyak anak di bawah 5 tahun, tapi belum ada posyandu.

Berbekal ilmu dan pengalaman, Rikha membangun posyandu sendiri. “Teman-teman saya yang sudah jadi bos dan kerja di pemerintahan saya minta bantu,” ungkapnya.

Rikha memanfaatkan jejaring dan kemampuan berkomunikasi untuk mengembangkan posyandu yang dibangun. Setahun setelah berdiri, posyandu yang didirikan perempuan yang kini berusia 59 tahun itu mendapatkan blangko dari Organisasi Kesehatan Dunia untuk mengetahui status gizi anak. “Dari situ bisa tahu seorang anak gizi buruk atau tidak,” beber Rikha.

Rikha terus berjejaring. Dia aktif mengikuti pertemuan kader. Dari sana dia tahu bahwa masih banyak posyandu yang hanya mengukur berat badan tanpa mengetahui status gizi. Dengan begitu, dia berinisiatif membagikan blangko tadi dan mengajari kader lain. “Saya fotokopi itu blangkonya,” ucapnya. Lalu, pada 2007 dia membangun PAUD. Para siswa bukan hanya anak Papua, tapi juga dari kalangan pendatang.

Sayangnya, meski kondisi sudah membaik, intervensi untuk anak yang mengalami gizi buruk belum maksimal. Rikha juga menyoroti kebiasaan makan mi instan dicampur dengan nasi.

Pelan-pelan dia mengubah persepsi masyarakat dengan menambahkan sayur dan telur pada makanan sang buah hati. “Saya juga tanam hutan bakau karena di sana ada sumber makanan bergizi,” tuturnya.

Misalnya, di sela tanaman bakau akan jadi tempat berkembang kepiting dan biota laut berprotein tinggi yang bisa dikonsumsi. Sayangnya, hutan bakaunya sempat digusur. Namun, itu tidak memudarkan niatnya.

Rikha yang sehari-hari turut membantu suami yang bekerja sebagai nelayan dan beberapa mama lain tetap menanam bakau. “Kami harus berjuang,” imbuhnya.

Masih di Bumi Cenderawasih, perjuangan menguatkan kualitas kesehatan masyarakat juga dilakukan Sri Haryati. Pada 1997, selepas lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, perempuan yang lahir dan besar di Jakarta itu bersama delapan teman kali pertama menginjakkan kaki di Papua.

“Karena ada bencana alam kelaparan di Jayawijaya ketika itu,” kata Atik, sapaan akrabnya, yang dianugerahi penghargaan tenaga kesehatan berprestasi oleh Kemenkes. Meski setelah kegiatan sosial itu dia kembali ke Jawa, hatinya tertambat di Papua. Pada 2013 dia pun kembali dan bertahan sampai sekarang.

Kembalinya Atik kali ini karena dorongan nurani. Lalu, dia bertemu dengan salah satu lembaga swadaya masyarakat dari luar negeri yang bergerak di bidang penanganan HIV/AIDS. “Setelah itu, saya bekerja untuk Siloam Hospitals dan diminta membuka klinik di pedalaman,” ujarnya.

Sasarannya adalah tempat-tempat yang tidak ada layanan puskesmas dan sekolah. Sekarang ada tujuh klinik, empat di antaranya berada di Papua Pegunungan. Dua klinik lainnya di Papua Selatan dan satu lainnya di Papua Tengah.

Dia mengaku tergerak ke Papua karena banyak sejawatnya yang enggan ke pedalaman. Entah karena alasan akses, kesejahteraan, atau keamanan. “Waktu itu saya pikir kalau bukan saya, siapa lagi. Saya ikuti dorongan hati dan belum kenal siapa-siapa waktu 2013 itu,” ungkap perempuan 51 tahun tersebut.

Di tujuh titik klinik sampai kini hanya ada dua dokter. Itu pun baru ada tahun ini. Sejak 2013 hingga tahun lalu, Atik sendirian. Tapi, di masing-masing klinik pasti ada perawat. “Saya keliling ke tujuh titik itu,” ujarnya.

Jejaring yang dibangun sejak 2013 dia manfaatkan. Entah itu pihak swasta, pemerintah, pemuka agama, atau tokoh adat. Dengan begitu, masing-masing beban atau persoalan bisa dibantu untuk dipecahkan. “Saya melihat Papua itu sebenarnya bisa berubah seandainya orang-orangnya sehat dan dididik dengan baik,” kata Atik.

Hatinya teriris ketika melihat ada pasien anak yang meninggal. Akses kliniknya memang jauh dari mana-mana. Bisa dua hingga tiga hari jika ditempuh jalan kaki. Lalu, kalau ingin cepat, harus naik pesawat dengan biaya satu orang sekitar Rp 3 juta.

“Anak-anak itu masa depan Papua. Itu yang membuat saya sampai sekarang berdoa semoga ada dokter yang menggantikan saya,” ungkapnya. (*/c7/ttg/jpg/uno)

Editor : uki-Berau Post
#feature