TARAKAN - Ratusan massa dari petani rumput laut dan mahasiswa mendatangi kantor DPRD Tarakan, Senin (23/10). Massa mendesak agar ada kenaikan harga rumput laut, yang saat ini masih kian turun.
“Dalam tahun ini harga rumput laut turun terus. Turunnya bisa sampai Rp 2.000 hingga Rp 3.000. Sementara naiknya Rp 200, Rp 300 dan Rp 400. Kan engga imbang. Ini ada apa,” kata Koordinator Lapangan Petani Rumput Laut, Epis.
Sementara modal bibit rumput laut bisa mencapai Rp 10 juta. Ia juga mengeluhkan harga satu gulungan tali sepanjang 17 meter saat ini Rp 46.500. Padahal harga tali sempat menyentuh angka Rp 25.000.
“Saya biasa sekali tanam Rp 50 juta. Level saya ini paling kecil. Kalau 6 bulan, bisa rugi Rp 500 juta sampai Rp 600 juta. Dengan modal Rp 50 juta, sekarang kembali Rp 5 juta dan Rp 7 juta. Itu dalam jangka 2 bulan. Tapi kami bertahap dan setiap hari bisa panen. Tapi setiap hari merugi. Itulah kami sampaikan aspirasi disini,” tegasnya.
Pihaknya berharap, tengkulak rumput laut ditiadakan. Agar petani bisa langsung menjual rumput laut langsung ke pembeli. Tak hanya itu, jalan di RT 10, Kelurahan Pantai Amal terputus. Otomatis, harga angkut rumput laut ikut meningkat.
“Kalau satu truk bisa angkut seharga Rp 500 ribu, sekarang bisa Rp 1 juta. Kadang mobil terbalik,” keluhnya.
Koordinator Lapangan Fadil Qobus menambahkan, aksi yang dilakukan Aliansi Bersatu Bersama Rakyat Pesisir menuntut persoalan anjloknya harga rumput laut. Padahal rumput laut adalah komoditas unggulan warga Tarakan. Ada tiga tuntutan. Pertama, merealisasikan UU Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan.
Kedua, mendesak Pemkot Tarakan terkait stabilitas harga rumput laut. Ketiga, meminta Wali Kota Tarakan dan Gubernur Kaltara menandatangani perjanjian aksi. “Kenapa petani, pembudidaya tidak disejahterakan. Seakan-akan dianaktirikan. Harga rumput laut sekarang Rp 9 ribu per kg sampai Rp 10 ribu per kg. Bulan September lalu menyentuh angka Rp 5 ribu hingga Rp 7 ribu per kg. Berdasarkan data ekspor yang kami peroleh, harga pasaran di triwulan dua Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu per kg. Sangat jauh sekali. Jangan untuk untung, kembali modal saja tidak,” singkatnya.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Tarakan Yulius Dinandus mengaku sempat kebingungan untuk menghadirkan kepala daerah sesuai permintaan massa. Namun ia menegaskan, akan meneruskan hasil aksi ke Pemprov Kaltara.
Namun ia mengaku, harga rumput laut sedang anjlok. Pihaknya saat ini hanya bisa mengusulkan, memberi pendapat dan mendesak Pemkot Tarakan dan Pemprov Kaltara. “Ini solusi untuk menyelesaikan masalah. Kalau teriak saling menuding kan tidak menyelesaikan masalah. Akhirnya yang dirugikan rakyat kecil,” pungkasnya. (sas/uno)
Editor : uki-Berau Post