Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Karhutla di Tarakan Jadi Kajian Pusat

Radar Tarakan • Rabu, 1 Mei 2024 - 00:10 WIB
BUTUH PERHATIAN: Penghijauan di salah satu lokasi karhutla di Tarakan beberapa waktu lalu. FOTO: AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
BUTUH PERHATIAN: Penghijauan di salah satu lokasi karhutla di Tarakan beberapa waktu lalu. FOTO: AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

 

Meski tidak memiliki hutan yang cukup luas, namun kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Tarakan cukup marak terjadi. Selain itu karhutla di Tarakan bukan hanya soal Karhutlah biasa, namun terdapat berbagai ancaman jika terjadi dalam skala besar, mengingat tanah Kota Tarakan mengandung batu bara dan terdapat instalasi pengeboran, perpipaan dan penampungan minyak bumi.

Karena faktor itu membuat Karhutlah dianggap menjadi ancaman serius di Kota Tarakan sehingga diperlukan antisipasi dan penanganan yang tepat agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Kepala BPBD Tarakan, Yonsep menerangkan, saat ini Karhutlah Tarakan menjadi sorotan dan saat ini dokumen kajian risiko bencana dan penanganan risiko bencana (KRB-PRB) dalam proses asistensi di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sehingga nantinya penangganan Karhutlah di Tarakan memiliki strategi khusus termasuk sosialisasi kepada masyarakat.

“Saat ini dokumen yang disusun sedang dilakukan asistensi dari BNPB. Secara umum masih menunggu hasil review dari pusat di BNPB. Sebenarnya ada dua dokumen. Pertama kajian risiko bencana (KRB) dan kedua, penanganan risiko bencana (PRB).

Kajian ini selanjutnya berlanjut dengan PRB. Data KRB dikelola PRB. Yang menjadi prioritas saat ini dalam dua dokumen itu adalah adanya karhutla," ujarnya, Senin (29/4).

 

"Konsentrasi inilah yang membuat kita didukung langsung oleh BNPB terhadap program ke depan. Jadi memang Tarakan semakin tahun semakin kompleksitasnya semakin besar volumenya. Kalau dulu hanya satu hektar lahannya terbakar. Sekarang bisa sampai 4 hektare," sambungnya.

Potensi karhutla cukup besar lantaran minimnya kesadaran masyarakat. Selain kurangnya kesadaran faktor Karhutlah dipengaruhi iklim seperti cuaca panas yang membuat daun kering mudah terbakar. Lanjutnya, hal itu diperparah sulitnya memadamkan api jika api telah membakar batu bara.

"Untuk kebakaran lahan yang turut menjadi atensi, adalah faktor kesulitan memadamkannya pertama karena iklim kedua, kebutuhan fasilitas melalui pengadaan dari BPBD Tarakan. Saat ini BPBD Tarakan sedang pengadaan kendaraan dimana yang dibutuhkan, sementara ini satu unit kendaraan,” urainya.

"Saat ini sudah ada lima pompa alkon bantuan dari BNPB yang diserahkan langsung kemarin oleh Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto.Alat ini sudah memadai ketika terjadi kebakaran lahan, alat ini yang dikerahkan. Dengan alat ini bisa membantu daya dobrak petugas untuk memadamkan api lebih cepat," tuturnya.

 

Selain karhutla, ia menegaskan jika terdapat bencana lain yang menjadi kekhawatiran seperti gempa bumi dan tsunami. Mengingat Tarakan pulau yang terpisah dengan daratan pulau Kalimantan. Sehingga ia menerangkan jika Tarakan memerlukan alat khusus guna mendeteksi ancaman gempa dan tsunami. Selanjutnya penanganan pemerintah dapat memberikan arahan spot yang aman bagi masyarakat mengungsi.

"Segala bentuk bencana minimal kita bisa antisipasi atau cara melakukan penangganan agar tidak menimbulkan korban jiwa yang besar. Sehingga kita perlu deteksi dini dan cara memobilisasi masyarakat ke tempat yang aman saat terjadi bencana," pungkasnya. (zac/lim)

 

Editor : Indra Zakaria