TARAKAN - Tanah paguntaka terkenal akan kekayaan hasil lautnya sehingga membuat Monumen Minapolitan memiliki makna yang sangat substansial, berdiri kokoh untuk menunjukkan betapa jayanya kita di zona bahari.
Monumen yang berisikan Ikan Bandeng, Udang dan Kepiting bukan sekedar penampilan semata, mereka adalah tiga komoditas unggulan yang paling memberi dampak kemajuan terkhusus di sektor perikanan dan roda perekonomian Kota Tarakan.
Monumen tersebut lahir dari ide Wali Kota Kota Tarakan Periode 2014-2019 Ir. Sofian Raga M.Si. pada 2018 silam, berdiri tegak di Persimpangan Telaga Keramat, tingginya tak sampai 5 meter, beratnya 4 ton, sedang produksi hasil laut Tarakan per tahunnya beribu-ribu ton lebih berat dibanding berat patung tersebut.
Sofian Raga bukan sekedar membangun patung, namun juga membangun apresiasi kepada kota kecil ini yang memberikan kemakmuran alam lautnya, bisa dibilang setengah populasi masyarakat Tarakan adalah mereka yang bermatapencaharian di sektor laut dan perikanan, baik nelayan, petambak dan lainnya.
Monumen ini juga ditujukan untuk para pengusaha bidang kelautan dan perikanan karena sudah terlibat dalam besarnya serapan tenaga kerja di Tarakan, industri yang tak hanya menggiurkan, namun memiliki potensi luas dan memiliki identitas.
Uniknya, biaya pembangunan monumen bersejarah ini juga melibatkan hasil penggalangan dana para pengusaha bidang kelautan dan perikanan di Tarakan, mereka percaya Tarakan perlu ikon yang kuat secara identitas, memperlihatkan monumen ini tidak dibangun dengan uang, tapi dengan cinta.
Surabaya boleh identik dengan hiu dan buayanya, Bandung dengan monumen lautan apinya, maka Tarakan tak perlu kebingungan apa maskotnya, sudah 7 tahun Ia bertengger di tengah air pancur, tiga hewan laut yang selama ini memberi kemaslahatan perekonomian di Tarakan.
Monumen Minapolitan bukan sekedar ajang promosi, tapi telah terbukti sebagai prestasi, tak dipungkiri lagi ikan, udang dan kepiting kita adalah komoditas ekspor andalan baik ke luar kota maupun ke mancanegara.
Malaysia, Singapura, Hongkong, Taiwan, Jepang, Italia hingga Amerika adalah sederetan negara yang telah terpikat dan selalu membutuhkan pasokan hasil laut dari Tarakan, bukan untuk jalan-jalan atau berkenalan melainkan pembuktian.
Sekarang, merawat dan menjaga monumen yang telah dibangun adalah tugas masyarakat Kota Tarakan bersama, makna yang terselimut di dalam monumen jadi acuan untuk menjaga hasil laut kita, ketika simbol dijaga dengan aksi, maka Tarakan tak hanya jadi tujuan, tapi juga teladan.
Monumen Minapolitan bukan sekadar hiasan beton di tepi kota, melainkan nyanyian bisu dari laut yang pernah, sedang, dan akan terus menghidupi masyarakat, simbol kejayaan laut yang wajib dimaknai lebih dalam, karena itulah identitas kita sebagai orang Tarakan. (*wld)
Editor : Indra Zakaria